Minggu, 05 Mei 2013 - 0 komentar

Berilah..




kamu pernah dilema teman?

ketika melihat ada pengemis yang meminta-minta di pinggir lampu merah?
atau ketika kamu sedang berada di pasar di antara kerumunan orang banyak,
atau ketika kamu baru keluar dari toko buku atau rumah makan,,
atau ketika kamu sedang berada di dalam mesjid, 
atau dimana saja..

ibu-ibu beserta anaknya
bapak-bapak yang buta matanya, dituntun soerang anak kecil untuk meminta-minta,
seorang lelaki yang pincang sedikit, yang masih segar minta belas kasihan padamu,
anak-anak kecil di jam belajar yang seharusnya berada disekolah menuntut ilmu,
nenek-nenek yang rasanya masih belum terlalu uzur,

apakah kamu pernah dilema?
suara hati dan pikir mu tidak sejalan?

satu sisi kamu tak ingin memberi,
takut, jika diberi, nanti akan banyak lahir generasi yang malas di negeri ini,
sedikit-sedikit meminta-minta,
apa-apa meminta-minta,

kalau tidak diberi, kasihan.
rasanya, suara hati memaki-maki, "kejam amat, kenapa tidak diberi!!" suara hati berbisik.

kamu pernah??

yah, aku pernah. sering malah.

tidak tega, jika tidak diberi. kasihan.

merasa bersalah jika diberi, nanti jika sering-sering diberi, tambah banyak generasi pengemis di negeri ini..

konon katanya, pengemis itu banyak yang kaya, atau tidaklah menderita betul. 
mereka hanya malas saja, dan sudah keasikan meminta-minta.
itu, masih konon katanya,
saya tidak punya referensi yang shahih tentang ini. Allahulam.

hufft.. bagi ku ini benar-benar pilihan yang berat.
karena seringnya terjadi pertikaian antara hati dan otak,
yang tak pernah saya temukan titik tengahnya,
akhirnya saya mempertanyakan ini pada seorang ustadz.

saya ceritakan apa yang saya rasakan

subhanAllah..
engkau tau apa yang dikatakan sang ustadz??

dengan lugas ustadz menyampaikannya padaku pada kami, yang ada saat pengajian itu.

sang ustadz bilang, "yah, jika ada pengemis yang datang padamu untuk meminta-minta maka kewajibanmu adalah memberi, meskipun mungkin mereka orang-orang yang --menurut pandanganmu-- tak pantas untuk diberi. kewajibanmu hanyalah memberi, karena mereka yang mengemis sudah barang tentu adalah orang-orang yang miskin, meskipun mungkin mereka sebenarnya orang yang berkecukupan, tetapi mereka adalah orang-orang yang miskin hati, jika mereka orang yang kaya hati maka mereka tak akan meminta-minta. maka ituluh kesempatanmu untuk mengkayakan hatimu, dengan memberi, berilah pada mereka yang meminta", jelas sang ustadz.

lalu, beliau menambahkan refensi ini, yang sudah termaktub jelas di dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqoroh ayat 177

bismillahirahmanirahim,

"kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (musafir) PEMINTA-MINTA, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa".

subhanallah..

seketika, dilema hati ini sudah terobati, dengan alquran nan mulia.

so, jika ada yang datang padamu, untuk meminta-minta belas kasihan, maka kasihlah, ikhlas karena Allah SWT (*saja). urusan kaya atau miskinnya mereka yang meminta bukan urusan kita, biarlah itu menjadi urusan mereka dengan Allah. urusan kita dengan mereka akan selesai, jika memberi. 

yah, berilah.

lalu gimana dengan stetment "nanti jika sering-sering diberi, tambah banyak generasi pengemis di negeri ini", 

bagaimana solusinya?

sudah tentu kita juga tidak mau, generasi bangsa ini lahir dengan mental minta-minta.

malah, yang lebih mirisnya lagi, banyak anak kecil yang meminta-minta karena suruhan orang tua. saya sering menemukan fenomena ini, tidak hanya sekali dua. tetapi acap kali.

lalu, siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?

yah, sudah barang tentu pemerintah tidak terlepas dari ini semua. 

__padang, 5 Mei 2013__


0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA