Hehe..
Sore ini aku teringat dengan satu peristiwa yang terjadi pada hari Rabu, tanggal 1 mei 2013. Salah satu hari yang telah mengukir sejarah peradaban hidup ku. Yaitu hari bertepatan saat aku sidang ujian Tugas Akhir.
Saat ini, aku bukan ingin menceritakan bagaimana kisah atau kejadian-kejadian saat akan sidang atau saat sidang tengah berlangsung. Bukan.
Mungkin ini akan ku tulis di laman yang lain saja, insyaALLAH. Karena kisah ini juga cukup indah untuk ditulis agar aku bisa selalu mengenangnya.
Dan tulisan-tulisan itu bisa membantu ku untuk mengenangnya jika memang suatu saat memori otakku tak mampu lagi mengenangnya.
Baiklah,
kisah itu bermula, ketika aku usai ujian sidang akhir.
Alhamdulillah, aku teramat senang dan puas dengan ujianku, ku rasa Allah SWT memberikan hadiah terindah untuk ku dengan cara_Nya yang indah setelah aku melewati banyak haral rintangan untuk menyelesaikannya.
Tak ingin merasakan kebahagiaan itu sendiri atau bersama keluarga dan teman-teman terdekat saja, maka ku putuskan, aku juga ingin membagi kebahagiaan itu kepada mereka yang kurang beruntung di tengah pasar raya sana. Maka ku niatkan, sore ba'da ashar aku akan ke pasar seorang diri, membagi-bagikan apa yang bisa ku bagikan pada mereka yang pasti senang jika mendapatkannya.
Usai sholat, aku berangkat seorang diri ke pasar.
Entah energi dari mana yang membawaku, sehingga aku yakin dan percaya diri untuk pergi seorang diri.
Usai parkir motor dan membagikan sedikit yang kupunya pada mereka, lalu aku pulang.
Aku memilih melewati jalan yang ada di tengah pasar. Sempit. Sesak. Jadi otomatis aku mengendarai motor hanya pelan-pelan saja.
Ketika sedang sibuk berhati-hati didalam suasana yang sibuk, tiba-tiba aku melihat seorang pria yang berjalan kaki dengan menggunakan helm dan baju kaos lengan panjang, membuka tas seorang gadis yang juga mengendarai motor di depan ku. Dengan santai dia membuka tas itu dan mengambil dompetnya.
Aku terkejut. Sedang pemilik dompet tidak menyadari kalau dompetnya sudah raib.
Spontan, aku membuka kaca helm ku, menarik lengan baju sang pencopet dan berteriak sekencang-kencangnya.
"copet.. Copet.. Copet..", teriak ku sambil menunjuk-nunjuk sang copet.
Semua orang melihat ke arah yang aku tunjuk.
Aku mendengar sayup-sayup suara orang, "iyoo mah..", katanya yang melihat ada dompet ditangan sang pencopet. Aku masih terus berteriak, karena belum ada yang mau mengejar sang copet..
"copet.. Copet.. Copet.." teriak ku semakin kencang menunjuk sang copet. Sang copet lalu berlari.
Saat itu baru aku mendengar suara lelaki, "kejaaaarrr...", katanya sambil mengejar copet.
Spontan semua yang merasa lelaki yang ada di sana mengejar sang copet.
Aku lalu mengendarai motorku lebih kencang, meski suasana ramai dan sesak, untuk mengejar sang pemilik dompet.
"kak.. Kak.. Kak.. Dompetnya di copet orang..", kataku histeris sambil memukul-mukul besi belakang motornya, agar ia sadar dan mendengar suaraku diantara suara kerumunan orang ramai.
"astagfirullah..", ujar sang kakak dengan wajah pucat dan melihat k0ndisi tas nya.
"tenang kak tenang, copetnya sedang di kejar sama orang.." kataku lagi menenangkan nya.
Tanpa sadar, ternyata orang telah ramai mengerumuni kami.
Tiba-tiba aku melihat copet berlari belok ke gang sempit yang ada di sana.
"ituu copetnyaaaa...", teriak ku lagi sambil menunjuk sang copet.
Sang kakak, pemilik dompet, dengan 'cayah' nya ikut berlari mengejar copet dan meninggalkan motor dan kuncinya begitu saja di tengah pasar.
"itu motornya selamatkan, selamatkan, nanti di bawa orang", kata uni-uni yang ada di sana.
"dek dek dek, adek gak lagi buru-buru kan? Pegang aja sama adek kunci motornya yaa..", kata uni tadi.
"iya uni, indak..". Jawabku.
Aku menunggu sang kakak, yang ikut mengejar copet. Tanpa sadar, saat itu aku serasa menjadi artis, di kerumuni orang banyak untuk mengetahui bagaimana kr0nologinya. (*haha..justkidding),
tak lama kemudian, selang setengah jam, akhirnya sang kakak kembali dengan membawa dompetnya.
Alhamdulillah akhirnya sang copet ketangkap, dan dibawa ke polisi, katanya.
#ibrohnya : hati-hati kalau di pasar yo, banyak copet. ^_^.
#teringat kata ukhti ku saat itu, "elsa ne gak nyangka yaa, bagak juga, kalau dulu bentak dan numbukin lengan copet, sekarang teriakin copet", katanya.
"hehe.. Iya, kejahatan harus dibasmi". Balasku seadanya. Hehe.
#berawal dari catatan FB, 16 Mei 2013
0 komentar:
Posting Komentar