Sabtu, 20 April 2013 - 0 komentar

Browies panggang


Di senja yang syahdu, seorang gadis belia sedang membalik-balikkan kelender yang tersangkut di dinding kamarnya yang mungil.  Kamar sederhana yang selalu menjadi pilihan hati sang gadis untuk menepi dari kegaduhan ombak di lautan kehidupan.  Sejenak, matanya tertuju pada sebuah tanggal yang sangat teristimewa bagi hidupnya.  Tanggal ulang tahun Ibu tercinta.

Ia merenung, “apa yang sudah Aku berikan kepada Ibu selama ini? sebagai kado yang special buat Ibu ku tercinta, tidak pernah, rasanya aku belum pernah memberikan apapun buat ibu”, bisik hatinya.

Ia mulai mengitung waktu.  Dari bulan ke minggu, dari minggu ke hari, dari hari ke jam.  Ternyata sang ibu berulang tahun 7 bulan 2 minggu dan 5 hari lagi.  sang gadis mulai memutar otaknya, mencari ide brilian, apa hadiah yang bagus, special buat ibu tercinta.

Lalu terbesit lah dalam hati dan pikirnya,
“Aha.. aku akan buatkan kue brownies kukus yang paling enak sejagat raya untuk ibu, aku belum pernah membuatkan apapun buat ibu, sedang ibu selalu masak makanan yang lezat buat ku setiap hari. Yah. Aku harus bisa bikin kue brownies kukus itu.  kue yang ku buat dari hati dan tangan ku sendiri”, bisik hatinya.
Lalu ia pun teringat pada seorang guru keseniannya di sekolah, yang pintar menari, pintar bernyanyi, pintar menjahit, menyulam, dan juga pintar memasak.  Luar biasa. masakan yang beliau buat selalu lezat dan nikmat, apapun itu. selain memasak sang gurupun sangat pintar membuat segala macam kue, beliau pernah juara tingkat nasional dalam lomba memasak kue brownies satu tahun yang lalu.

Melihat itu, sang gadis berniat untuk meminta sang guru untuk membimbingnya mengajarkan kue browniez  kukus yang paling enak sejagat raya. 

Keesokan harinya, dengan penuh semangat dan keyakinan yang kuat bahwa ia pasti bisa membuat kue brownies kukus  impiannya, sang gadis pun datang menemui sang guru, ia datang dengan harapan yang tertancap tinggi pada sang guru, agar sang guru dengan murah hati mau membimbing dan mengajarkannya.
Dengan kelembutan dan kesopanan penuh yang ia miliki, sang gadispun menyampaikan maksud dan tujuannnya pada sang guru, meminta kesediaan sang guru untuk membimbingnya.

Tak pelak, sang guru yang baik hati dan berhati mulia menyambutnya dengan suka cita. Ia kelihatan senang sekali melihat kedatangan sang gadis, melihat semangat dan keinginan mulia sang gadis untuk membahagiakan ibunda tercinta. 

“tak usah kamu buat brownies kukus, karena itu sudah sangat biasa dan sudah banyak dinikmati oleh orang-orang, bagaimana kalau kamu mebuat brownies panggang?”, kata guru sambil menawarkan brownies panggang ala guru. 

“brownies panggang guru? Baiklah, saya percaya guru bisa membantu saya dalam membuatnya”, kata sang gadis dengan mata berbinar.

Setelah berbicara lebar dan mendapat kesepakatan kapan bisa mulai belajar membuat kue, sang gadispun pulang dengan hati bahagia tiada tara, syukur kehadiran Tuhan yang Maha Kuasa karena melembutkan hati sang guru untuk menerimanya dengan senang hati.

Keesokannya, sang gadispun kembali menemu sang guru.
“duhai guruku, apa yang mesti aku sediakan untuk membuat brownies panggang?”, tanya sang gadis pada guru.  Ia sama sekali tidak mengerti  bahan apa saja yang di perlukan dan alat yang yang dibutuhkan untuk membuat kue enak sejagat raya. I a benar-benar tidak tau, ia melangkah hanya modal keyakinan dan keberanian yang besar  tanpa mengetahui  ilmu sedikitpun tentang brownies panggang.  Ia tidak tau bagaimana sulitnya membuat brownies panggang, ia tidak tau berapa lama untuk belajar membuat brownies panggang, yang ia tau, kue brownies itu nikmat dan sangat nikmat, yang ia tau, ibu pasti akan bahagia ketika memakan kue brownies panggang buatannya sendiri.

“kamu butuh  coklat, mentega, telur, gula pasir, tepung terigu, kacang walnut, baking powder, sendok, panci, mixer dan oven”, kata sang guru singkat.

“berapa banyak guru?, tanya sang gadis lagi.

“sediakan saja semampu kamu..”, kata sang guru.

Tanpa pikir panjang sang gadis pun mencari semua  yang guru katakan, coklat, mentega, telur, gula pasir, tepung terigu, kacang walnut, baking powder, sendok, panci, mixer dan oven.  Dengan semangat sang gadis menyediakan semuanya, ia membeli semua yang dikatakan sang guru secukupnya, menurutnya, tanpa ilmu.
Keesokannya lagi, sang gadispun kembali menemui sang guru,

“duhai guruku, aku sudah menyediakan semuanya, lalu apa yang mesti aku perbuat dengan bahan-bahan dan alat ini?”, tanyanya singkat.

kamu cairkan coklat dan mentega, kamu kocok telur dan gula sampai larut, lalu kamu masukkan tepung terigu dan baking powder nya, setelah itu kamu panaskan”.  Kata guru singkat.

“berapa banyak menteganya guru? Telurnya? Tepungnya? Coklat dan menteganya?, tanya sang gadis lagi pada guru dengan penuh keheranan.

“kamu coba saja..”, kata guru tanpa menghirau keheranan yang ia rasakan.

“baiklah guru..”, kata sang gadis masih dengan semangat dan pengharapan yang tinggi, agar ia berhasil membuat brownies panggang.

Awal membuatnya, sang gadis bingung, “bagaimana ini?”, tanyanya. Dengan modal nekat dan keyakinan yang dalam, ia melangkah dan mencoba membuat kue brownies panggang impiannya.

“berapa gram tepung? Berapa banyak gula? Berapa banyak, berapa banyak?”, tanyannya dalam hati.  Teringat ucapan sang guru olehnya, “kamu coba saja..”.

“baiklah aku akan mencobanya”, bisik sang gadis dengan keyakinan yang penuh. 

Ia bagaikan berjalan di dalam hutan yang tak tau kemana arah tujuan, dan jalan mana yang harus ia tapaki untuk menuju istana megah yang ada di ujung hutan itu.  ia tak tau, yang ia tau,  ia akan sampai di istana lalu kedatangannya membahagiakan semua penghuni istana. Meskipun ia sedikit merasa ketakutan, tetapi ia tak memikirkan pada ketakutannya itu. Ia tak memikirkan apa kendala dan masalah yang akan ia hadapi, ketika mengambil langkah untuk menapak jalan yang masih berhutan semak, yang belum ada seorangpun yang melewatinya.  Sang gadis tidak membayangkan bahwa akan ada ular yang siap mematoknya, akan ada sungai yang harus ia sebrangi, akan ada semak belukar yang siap melukainya, akan banyak duri yang siap melukai kakinya, akan ada harimau yang siap menyantap dan merobek-robek tubuhnya.  Ia tidak memikirkan itu. yang ia pikirkan hanyalah, ia akan sampai di hujung hutan, karena di sana ada istana megah yang di huni oleh permaisuri yang baik hati yang akan menyambut kehadirannya, yang akan menyanyanginya dengan sepenuh hati, yah hanya itulah yang ia pikirkan.

Bodohkah sang gadis? Entahlah. Yang ia tau, kehadirannya hanya akan membahagiakan seluruh penghuni istana.

Dengan penuh semangat, sang gadis yakin ia pasti bisa.  Ia mulai mencoba men-‘searcing’di google, bagaimana cara membuat brownies panggang yang enak. Berhari-hari ia mengumpulkan semua referensi yang ada. Banyak informasi yang ia dapatkan.  Tetapi ia masih bingung, bagaimana cara membuat brownies panggang yang enak dan membuat kreatifitas yang baru, yang belum pernah orang lain buat.  Tentu saja ia ingin membuat yang special untuk orang special, ibu tercinta.

Berhari-hari ia pelajari cara-cara yang telah ia dapatkan. Lalu setelah yakin bahwa ilmu yang dirasanya cukup, mulai lah ia membuat kue brownies  panggang itu.

Ia masukkan tepung segini, gula segini, mentega segini, ia variasikan semua menurut ilmu yang ia punya dari baca-baca referensi yang ia dapatkan.

Ia mencoba mencampurkan semuanya. percobaan pertama, adonannya tawar tak berasa, ah mungkin tepungnya kebanyakan, bisik hatinya. Lalu ia membuat lagi, dan mengurangi tepung. Setelah selesai, ia melihat adonannya menjadi aneh, berbau anyir, ah mungkin telurnya yang kebanyakan. Ia ulangi lagi, dengan menambahkan gula, menambahkan tepung dan mengurangi telur, setelah selesai, ia mendapatkan adonannya lengket tak mau di aduk, ah mungkin kekurangan mentega. Ia mencoba lagi dengan menambahkan mentega, ia dapati adonannya telalu encer, ah mungkin kebanyakan air. Ia ulangi lagi, ulangi lagi, ulangi lagi, sampai ia mendapatkan adonan yang baik, menurutnya.

Setelah selesai membuat adonan, dan meletakkannya di dalam loyang dan memanaskannnya di dalam oven, ia mulai kebingungan, berapa jam mesti dipanaskan adonan ini?

Ia cari lagi referensi, ternyata referensi mengatakan cukup satu jam di panaskan, maka adonan akan berubah menjadi kue yang enak.  Setelah itu, ia mulai memanaskan adonannya selama satu jam, ternyata ia dapati, adonannya tidak mengembang bagus dan masih separuh masak.  Ah mungkin waktu memanaskannya terlalu sebentar, bisikknya dalam hati.

Lalu sang gadis dengan penuh semangat membuat adonannya kembali. Memasukkan bahan-bahan yang telah ia dapati takarannya, berdasarkan hasil yang ia lakukan dengan coba-coba.
Setelah selesai, ia memanaskan adonan itu dengan waktu yang lebih lama, ia mencoba dengan waktu dua jam.

Setelah selesai, ia melihat adonannya, ternyata hasilnya tak jauh lebih baik dari adonan pertama, adonannya menjadi gosong dan kering. Ah, mungkin waktunya yang terlalu lama, bisik sang gadis di dalam hati.
berhari-hari ia terus berusaha agar ia bisa dan berhasil membuat kue brownies untuk ibu tercinta. Ia yakin, insyaAllah ia pasti bisa.

Dengan penuh kesabaran, ia mencoba membuat lagi. mengaduk bahan-bahan menjadi adonan yang baik menurutnya, dan memanaskannya dengan waktu 1,5 jam saja. karena mungkin itulah waktu yang tepat untuk menjadikan adonan itu menjadi seperti yang diinginkan.

Setelah selesai, ia senang hati. Bersyukur kepada illahi, bahwa adonannya telah berubah menjadi kue yang siap dioles dengan lelehan coklat, agar menjadi brownies yang enak.  Sebelum mengolesnya dengan coklat, ia ingin menunjukkan maha karya nya kepada sang guru.

 “duhai guruku, aku sudah selesai membuat kuenya, maukah engkau mencobanya, bagaimana rasa kue buatan ku ini? sebelum aku mengolesnya dengan lelehan coklat”, ucap sang gadis pada guru.
Sebelum guru mencoba buatannya, ia tak mau terlebih dahulu mencoba. Ia ingin gurulah yang memberi penilaiannya terhadap hasil karyanya.

“Hueeekkk..”, spontan sang guru memuntahkan kue yang telah sampai di mulutnya.

“ada apa guru?”, tanya sang murid dengan penuh kekhawatiran.

“berapa banyak telur yang kamu masukkan kedalam adonan kue ini? kue mu terlalu anyir dan lembek..”, kata sang guru.

“maaf guru.. aku memasukkannya sebanyak 7 butir..”, kata sang gadis dengan penuh takut.

“terlalu banyak, coba kamu kurangi telurnya, masukkan saja 3 butir telur..”, kata guru. Lalu beliau meneguk minuman mineral untuk mengilangkan rasa dan bau anyir dari mulutnya.

“baik guru,, maaf guru, aku akan membuatnya lagi..”, jawab sang gadis dengan tenang.

Lalu ia pulang dengan hati sedikit bimbang.
“baiklah, tak mengapa, aku akan mencoba membuatnya lagi..”. bisik hatinya.

Dengan penuh semangat sang gadis membuat adonan itu, dan mengurangi banyak butir telur yang ia gunakan. Dari 7 butir menjadi 3 butir.

Masih dengan penuh keyakinan, bahwa ia akan bisa membuat kue brownies yang enak untuk ibu tercinta.
Setelah selesai membuat adonan, dan memanaskannya selama 1,5 jam, ia mendapatkan kuenya tak sebagus yang telah ia buat kemarin.

“bagaimana ini? apa yang salah?, bisik hatinya di dalam hati. Kebingungan melanda dirinya. akhirnya, ia memutuskan untuk menjumpai sang guru, menceritakan apa yang ia alami.

Setelah sang guru melihat kue yang telah ia buat, kening sang gurupun berkerut, heran.

“kok seperti ini jadinya?”, tanya sang guru balik.

“tidak tau saya guru, rasanya saya sudah melakukan seperti yang kemarin saya lakukan, saya hanya mengurangi banyak telurnya saja, seperti yang telah guru sampaikan”, jawab sang gadis, masih dengan ketenangan yang ia punya.

“kalau begitu, coba kamu kurangi tepungnya sedikit, dan tambahkan menteganya, lalu panaskan masih dalam suhu dan waktu yang sama”, kata guru memberikan solusi cerdasnya.

“baiklah guru..”, jawab sang gadis.

Kini bukan berhari-hari yang ia lewati untuk membuat brownies panggang terenak sejagat raya, tak terasa ternyata sudah berbulan-bulan ia berkecimpung dengan kue brownies panggangnya. Tetapi ia masih tetap semangat dan yakin bahwa ia akan membuatkan kue brownies panggang untuk ibu tercinta, tulus dari hati yang paling dalam.

Lagi, ia mengulangi membuat browniesss panggang itu.
Lagi pula, ia mengalami kegagalan.
Lagi ia mengulangnya.
Lagi lagi pula, ia mengalami kegagalan.
Lagi ia mencobanya,
Ternyata, Masih belum mendapatkan seperti yang ia inginkan.
Lagi ia mencoba.

Dan haripun semakin berlalu, ulang tahun ibu ternyata semakin dekat, sang gadis mulai terasa pesimis, bahwa ia akan bisa memberikan brownies panggang terenak buatan tangannya sendiri. hari terus berlalu, tetapi browniess tak kunjung jadi.

Ia mulai bersedih, ia takut tidak bisa memberikan brownies panggang itu kepada ibunya.
Setiap malam ia menangis, mengadu kepada sang pemilik kehidupan, “Ya Robbi.. apakah aku tidak pantas memberikan brownies panggang terenak sejagat raya itu untuk ibu yang aku sayangi? Aku ingin sekali membuatnya untuk ibu, aku ingin melihat ibu bahagia ketika memakan kue buatan ku itu, aku ingin ibu memeluk dan menciumku, karena aku berhasil membuatkan kue terenak sejagat raya untukknya.. Ya Robbi, jika ibu terlalu mulia untuk memakan kue buatan tanganku yang hina ini, maka ampunilah aku, agar kemuliaan ibu mengalir padaku, sehingga aku menjadi pantas untuk memberikan kue itu pada ibu dan ibu  menikmati dengan hati bahagia tiada tara..”, sang gadis terisak-isak dalam doanya. Membayangkan senyum sang ibu yang  akan menyabutnya dengan pelukan hangat.

Haripun terus berlalu, ia masih terus berusaha membuat brownies panggang yang terenak untuk ibu. ia yakin, niatnya yang tulus, akan dilihat oleh Tuhan, doa-doanya akan dihijabah oleh_Nya. Ia yakin bahwa Tuhan akan selalu menolongnya.

Dan akhirnya, hari ulangtahun ibu pun tiba, tetapi sang gadis masih saja belum berhasil membuat brownies panggang impiannya. Berulang kali ia coba, berulang kali pula ia gagal. Tetapi ia masih akan tetap berusaha, demi senyum ibu tercinta.

Disaat hari ulang tahun ibu, ia hanya bisa memeluk ibu dan menangis dalam pelukan hangat itu. “ibuu,,, maaf,,, ananda belum bisa memberikan kue brownies  panggang yang terenak sejagat raya buat ibu.. ananda janji, insyaAllah ananda akan terus berusaha membuatnya untuk ibu.. ananda berharap ibu sehat selalu dan panjang umur, agar tahun depan ananda bisa memberikan kue brownies panggang itu buat ibu… hiks..hiks.,”, tangis sang gadis membahana di pelukan ibu.

Ibu hanya bisa memeluknya dan mengelus rambut anak gadisnya yang indah.
“duhai anakku.. tak perlu kau paksakan dirimu untuk membahagiakan ibu dengan kue brownies panggang impian mu itu, kau tau nak.. liatlah, engkau sekarang terlihat kurus, matamu cekung, engkau terlihat tidak sesegar seperti sebelum engkau bercita-cita ingin membuatkan brownies panggang terenak sejat rayamu itu buat ibu.. kau tau nak, cukup dengan menjaga kesehatanmu, menjaga ibadahmu pada sang pemilik kehidupan, menjaga hari-harimu dengan hal yang bermanfaat, sudah membuat ibu bahagia. Ibu bahagiaaa sekali. Oleh karenanya, tak perlu kau paksakan dirimu dengan tidak menjaga kesehatanmu. Berbahagialah nak.. maka saat itu, ibupun akan bahagia..”. kata sang ibu dengan penuh kelembutan. Cium hangat yang ia miliki, ia tumpahkan buat anak yang ia sayangi.

“ibuu.. anada mencintaimu.. sungguh, jika seluruh isi dunia ini diberi untukku dan diganti dengan dirimu, aku tak akan mau menerimanya. Aku akan menolaknya dengan senang hati. karena bagiku, cukup memilikiku hatiku bahagia,, bahagia sampai ke syurgaa...”, tangis sang anak semakin membahana.
“aku berjanjii buuu.. aku akan membuatkan kue  brownies panggang yang enak sejagat raya itu untuk mu, hanya untuk mu…”,  janji sang anak pada ibu.

Dan ibupun semakin memeluk hangat gadis yang ia cintai, sambil berderai air mata.

Keesokan harinya, sang gadis mulai lagi berusaha membuat browniesss panggang impiannya.  Semakin hari, ia mulai menemukan ilmu baru untuk membuat brownies panggang. Sampai akhirnya, ia rasa ia telah berhasil membuat kue itu. dengan senang hati ia menemui sang guru.

“duhai guru.. aku telah selesai membuatnya, apakah engkau ingin mencoba kue ku? sebelum aku menghiasnya dengan lelehan coklat..”, pinta sang gadis pada guru tercinta.

Gurupun mencobanya. Kali ini guru tak lagi memuntahkan kue buatannya, hanya saja beliau sedikit mengkerutkan kening ketika mencoba kue itu. sang gadis tau, bahwa isyarat itu menyatakan bahwa ia masih gagal untuk membuat kue yang enakk..

“massa membuat brownies panggang saja kamu tidak bisa?”, kata sang guru dengan tenang.

Sang gadis terkejut mendengar ucapan sang guru.
“maaf guru, tetapi saia sudah membuatnya dengan sangat baikkk…”, kata sang gadis.

“kamu cobalah bikin lagi..”, pinta sang guru pada muridnya.

“ini terlalu sebentar memanaskan kuenya, tambahlah menjadi 3 jam, tetapi tambahkan menteganya 50 gram lagi, biar tidak cepat hangus, setelah itu kita liat hasilnya nanti..”, sambung guru.

“baikklah guru,, saia akan mencobanyaa..”, kata sang gadis dengan nada tenang.  Masih dengan pengharapan yang tinggi agar ia berhasil membuat kue brownies panggang terenak sejagat raya, buat ibu tercinta sepanjang hayat.

Sang gadis masih tetap yakin, bahwa ia insyaAllah pasti bisa mempersembahkan yang terindah untuk ibunda tercinta.

Biarlah ia harus berjalan di dalam hutan semak belukar yang belum pernah orang tapaki. seiiring berjalannya waktu, ia sudah mulai akrab dengan suasana hutan belukar itu. meski awal memasukinya ia dipenuhi sedikit rasa takut, kini ia tak takut lagi dengan  ular yang akan siap mematoknya, karena ia sudah tau bagaimana cara menjinakkan ular, ia tak binggung lagi ketika melihat sungai membentang, karena ia sudah bisa merakit kayu-kayu untuk mengantarkannya kesebrang, ia tak takut lagi dengan semak belukar yang siap menggores kulitnya, karena ia sudah tau bagaimana caranya agar semak tajam itu melukai, ia harus menebasnya terlebih dahulu sebelum ia melaluinya, ia tak takut pada duri yang berserakan di dalam hutan, karena ia sudah tau mana tetumbuhan yang berduri, mana yang tidak, sehingga ia bisa menghindarinya. Ia sudah tak takut lagi pada gerak-gerik suara langkah harimau yang siap menerkamnya, karena ia sudah sangat hafal suara apa yang sedang mengintainya, sehingga ia bisa menyelamatkan diri sebelum sang harimau memcabik-cabik dagingnya.  Ia sudah tidak takut lagi. ia sudah terbiasa dengan suasana hutan belukar. Ia terus berjalan, berjalan, dan berjalan, tak peduli lagi pada medan yang ia lalui, terjal, curam, licin, berliku, menaki, menurun, semua sudah dilaluinya.

cemas,, bingung, tertekan,bosan dan putus asa  tak lagi mapu menghantuinya karena ia yakin Tuhan akan selalu membimbing dan menolongnya. Ia  juga tak takut pada sakit, lapar, haus, luka,  dan lelah, karena ia yakin ada istana di ujung hutan sana yang akan mengobatinya.  Ia juga tak takut panas, dingin, kering, hujan, dan angin, karena ia sudah terlalu menikmatinya. 

Ia hanya butuh semangat untuk mempertahankan hidupnya ditengah hutan belukar itu,  meski tak cukup  alat pendukung, tapi bukan alasan untuk berkata bahwa ia tidak bisa.
Ia hanya butuh semangat, semangat dan semangat untuk bertahan pada impian dan cita-citanya.
Ia hanya butuh keyakinan pada tuhan_Nya.
Ia hanya butuh kesabaran untuk melaluinya.
Ia hanya butuh keikhlasan agar tenang menjalaninya.
Ia hanya butuh kekuatan untuk tegar dijalannya,
Ia hanya butuh tekad yang kuat bahwa ia InsyaAllah pasti bisa melaluinya.
Ia hanya butuh doa ibu dan cinta Tuhannya,
Agar ia bisa dengan tenang melalui dan tampil sebagai pemenang.
Semoga.

Dalam hati, sang gadis selalu berbisik, “ terimakasih guru.. karena engkau mengajarkan banyak hal pada ku..,  Engkau mengajarkan agar aku selalu berhati-hati di jalan yang berduri ini, berhati-hati dan berpegangan yang kuat pada_Nya, agar tak mudah jatuh dan tersungkur. Jikapun harus tersungkur, engkau memberikan cemeti padaku, agar aku mencambuk diriku sendiri, untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan.  Engkau menyadarkan padaku, bahwa di jalan yang terjal lah kita berpegangan pada tangan Tuhan, di jalan yang berlika-likulah kita selalu berhati-hati, di jalan yang mendaki dan menurunlah kita mengenal perjuangan,  itulah jalan yang engkau ajarkan padaku, dengan kehati-hatian dalam melangkah, kemungkinan aku akan selamat sampai di tujuan, karena sikap kehati-hatian yang telah biasa aku lakoni dalam perjalananku, karena sangking curamnya medan yang aku lalui.  Jika andai aku berjalan di medan yang licin tanpa duri, tanpa berliku, tanpa mendaki dan menurun, mungkin aku merasa tak perlu pegangan kuat pada_N ya, karena aku merasa aku bisa melaluinya sendiri, dan tak jarang, dijalan yang licin itulah banyak yang tergelincir lalu menggelinding tanpa tujuan, jatuh dan terjerembab di ujung jalan. Karena kurang kehati-hatian. Terimaksih guru. Ilmu yang kau beri mengajarkan padaku tentang kehidupan yang sebenarnya. Semoga Engkau selalu dalam lindungan Illahi Robbi. Aamiin”.

Dan kini, sang gadis masih tetap hidup dalam pengharapan pada Tuhannya, agar browniesss panggang terenak sejagat raya mampu ia persembahkan buat ibunda tercinta.  Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA