bismillahirahmanirahim,
hm, teringat tadi ketika hendak berangkat ke kampus,
seperti biasa, aku melaju membelah badan jalan yang sudah tak asing lagi dilewati, setiap hari. jalan raya yang sudah tak bisa tertuliskan lagi, jenis kendaraan apa saja yang pernah melaluinya, dari mobil yang paling besarr, sampai kendaraan yang paling sederhana semuanya sudah pernah melaluinya. puso yang mengangkat besi-besi besar yang berton-ton, truk yang mengangkat semen untuk di edarkan ke pasaran dalam dan keluar kota, bus penumpang, tranek, tanki minyak, tanki air, mobil tinja, mobil pribadi, angkutan umum, motor, sepeda, gerobak, becak, semuanya ada bertebaran di jalan raya ini. sesak. kemacetan sudah menjadi hal yang biasa.
meskipun begitu, tak jarang aku suka melaju, memotong atau menyelip pada setiap kesempatan yang ada. entah mengapa, mungkin bawaannya. hehe. tak jarang, setiap kali berpergian dengan ibu, saya kena 'picik' dari belakang, 'pelan-pelan', 'jangan laju-laju', 'jangan motong', kata ibu dari belakang.
dengan spontan aku menurunkan kecepatanku, padahal secara sadar, ketika bergoncengan dengan ibulah aku mengendarai motor itu dengan penuh kelembutan dan kesopanan, tapi ternyata masih kena 'picik' juga. hehe.
"maafkan aku ibu, bukan salah ku, salah otak kanan ku, yang selalu menuntun untuk melaju, hehe..",
tak jarang juga, setiap kali telponan dengan ibu, beliau mewanti-wanti pada ku, "bawa motor pelan-pelan.. hati-hati, talantak nanti, gilo ama beko..", kecek beliau pada ku.
aku membalasnya hanya dengan tawa kecil, "hehe.. iyaa mummm..".
(*oh ibu.. rinduuu..)
(*oh ibu.. rinduuu..)
(*hmm, back to berangkat ke kampus.. hehe)
dalam perjalanan, seperti biasa, saya tak membiarkan hati dan pikiran ini kosong begitu saja, atau membiarkan ia membayang atau mengingat yang tak ada gunanya. dalam situasi seperti ini, saya lebih sering mengingat Allah, walau hanya sekedar berucap di dalam hati dengan kata "Allah.. Allah.. Allah..",
karena saya sadar, saya terlalu banyak dosa, mungkin dengan begitu Allah mengurangi dosa-dosa ku, dengan mengingat_Nya, jika pun dalam perjalanan saya tiba-tiba meninggal mendadak, yang saya harapkan Allah menghitung kematian ku sebagai syahid dijalan_Nya. aamiin.
ketika sedang asik melaju dan melafalkan kata itu di dalam hati, ada sebuah angkot yang berjalan lambat di depan saya, niat hati ingin mendahuluinya, tetapi saya melihat ada tulisan kecil-kecil di belakang angkot itu, penasaran, saya ingin membaca. spontan, saya menurunkan laju motor, dan mengeja apa yang tertulis di sana dengan melafalkannya,
"ga-leh-an-se-lah-galehan-ang", kalimat yang tertulis dengan tulisan halus kasar dengan ukuran yang sangat kecil.
"o-oh", dalam hati ku berbisik.
yah begitulah kebanyakan angkotan umum yang sering saya jumpai di kota ini, sedikit sekali kata-kata yang tertulis di belakang angkutan itu dengan kalimat yang agak baik dan sopan. seringnya, kata yang tertulis dengan bahasa minang, yang kurang baik.
ada sih, yang baik, seperti "Restu IBU", tapi sedikit sekali. yang sangat sedikit.
saya sudah mengamatinya, dibeberapa jalanan yang sering saya lalui.
setelah selesai membaca dan mengeja tulisan itu dengan melafalkannya, saya melaju dan memotong angkutan umum itu.
tiba-tiba, tanpa sadar, hati saya berbisik,
"ga-leh-an-se-lah-galehan-ang"..
"ga-leh-an-se-lah-galehan-ang"..
(*hehe..)
lalu, spontan saya tersadar.
"astagfirullah.. astagfirullah..", lirih saya melafaskannya, sambil menata hati kembali, untuk melafaskan "Allah.. Allah..",
sejenak, otak saya berfikir.
tadi ketika mengingat kalimat "Allah", saya hanya mengucapkannya di dalam hati, tanpa melafaskannya. seketika kalimat itu bisa tergantikan dengan kalimat yang saya ucap dengan melafaskannya. yah, seketika. hati dan pikiran dengan cepat menuntun untuk mengingat apa yang dilafaskan dengan lisan daripada yang di ucapkan di dalam hati.
saya kembali beristigfar. ternyata begitulah pengaruh kalimat yang di lafalkan, dengan cepat ia merubah 'mind set' kita, dari pada kalimat yang terucap hanya di dalam hati saja.
saya teringat lagi,
"pantesan, untuk masuk islam, tak cukup mengucapkan kalimat syahadat hanya di dalam hati saja, tapi juga dilafalkan dengan lisan,
pantesan, membaca ayat-ayat ketika sholat itu tak boleh hanya di ucap di dalam hati saja, tapi juga dilafalkan dengan lisan,
pantesan..
ternyata pengaruh kalimat yang dilafalkan itu sangat besar dan kuat. seperti ada gaya tarik menarik di sana. antara hati dan pikiran, sejalan.
dan, pantesaan juga,
ijab qabul itu tak hanya cukup di sampaikan di dalam hati saja, tapi juga di lafaskan dengan lisan.
hm, sekali lagi, pantesan.
yah, beitulah pengaruh kata-kata yang sering kita ucapkan, secara tidak langsung ia menarik ke dalam diri kita untuk merubah hati dan pola pikir.
oleh karenanya, sering-seringlah berkata yang baik, agar baik pula hati dan pola pikir.
yah, ada gaya tarik menarik yang terjadi di sana.
#kata yang sering terucap seperti sebatang magnet, ia menari dengan rantai yang sempurna, ke arah yang kita ucapkan. apapun yang sering kita ucapkan, secara tidak langsung kita menarik kata itu, kedalam diri kita. dan berubah wujud menjadi pola pikir dan tindak tanduk kehidupan. so,sering-seringlah berucap yang baik. agat baik pula hati dan pikiran kita. ^_^
Elsa Agsutina Al-Khalishah
padang, jumat, 19 April 2013.
22.41 WIB.
di ruang yang tenang, diantara kertas-kertas yang bertebaran.
0 komentar:
Posting Komentar