Assalamualaikum
bunda..
apa kabar bunda hari ini??
Mudah-mudahan selalu baik-baik saja, selalu berada dalam lindungan Ilahi dan tak kurang satu apapun. aamiin.
Alhamdulillah ketika ananda menulis surat ini, ananda dalam keadaan baik-baik saja, dan masih dalam gelimang nikmat yang Allah berikan.
Bunda..
apa kabar bunda hari ini??
Mudah-mudahan selalu baik-baik saja, selalu berada dalam lindungan Ilahi dan tak kurang satu apapun. aamiin.
Alhamdulillah ketika ananda menulis surat ini, ananda dalam keadaan baik-baik saja, dan masih dalam gelimang nikmat yang Allah berikan.
Bunda..
sudah lama rasanya kita tidak bertemu.. rindu hati pada mu semakin
menjadi hari demi hari. Terkadang
suaramu yang ku dengar dari kejauhan sana pun tak mampu mengobati rindu ku ini
padamu.
Bunda.. ketika ananda menulis surat ini,
hanya wajah dan senyum bunda yang terbayang di alam fikir ku,
terkadang sesekali ada juga terlintas wajah jelek bunda ketika bunda marah.. hehehe..
terkenang oleh ananda ketika masa kecil dulu ketika ananda sedang asik bermain dengan teman-teman sepermainan, kala itu senja tiba, bunda memanggil agar segera pulang ke rumah dan mandi karena hari sudah hampir magrib.
Tapi ananda, hanya menjawab “bentar ma..”, selalu di panggil jawab nya itu terus, akhirnya bunda datang bawa ranting jambu yang masih ada daunnya,yang bunda petik dari laman rumah kita, mengertak dan memukul pelan kaki ku untuk segera pulang.
Alhasil.. ananda berlari pulang dan bergegas mandi.
Hhm…bunda,
ananda tersenyum sendiri jika mengenang semua.
Semua yang telah bunda berikan pada anak mu ini.
Semasa kecil, ketika ananda masih di taman kanak-kanak,
tiap pagi bunda menyiapkan makanan yang akan ananda bawa kesekolah, botol minum, kotak kue, semuanya tiap pagi sudah siap untuk ku bawa kesekolah. Bunda menyusun rapi didalam tas monyet ku. Tas monyet ku yang bewarna orange,
hah.. ananda ingat, tas itu masih ada sampai sekarang, tersimpan rapi didalam bofet rumah kita.
Semua yang telah bunda berikan pada anak mu ini.
Semasa kecil, ketika ananda masih di taman kanak-kanak,
tiap pagi bunda menyiapkan makanan yang akan ananda bawa kesekolah, botol minum, kotak kue, semuanya tiap pagi sudah siap untuk ku bawa kesekolah. Bunda menyusun rapi didalam tas monyet ku. Tas monyet ku yang bewarna orange,
hah.. ananda ingat, tas itu masih ada sampai sekarang, tersimpan rapi didalam bofet rumah kita.
Bunda ku
sayang..
Kasih
sayangmu tak bisa ku pungkiri,
dulu,
ketika ananda masih duduk disekolah dasar, ananda pernah menderita sakit kuning
dan juga sakit cacar air. Bunda menjagaku dengan penuh kasih sayang.
Masih teringat oleh ku kala itu bunda mengantarkanku ke sekolah naik
sepeda Olympic kita, setelah beberapa minggu ananda tak hadir karena sakit.
Bunda, semuanya masih terekam indah di memori otak ku.
Bunda, semuanya masih terekam indah di memori otak ku.
Hhaaa
iya.. ananda lupa, ketika kecil dulu, ananda suka sakit gigi..tiap sebentar
bunda bawa ananda ke puskesmas terdekat.. kekhawatiran bunda terlihat ketika
ananda menangis sejadi-jadinya ketika sakit itu menyerang.
Bunda selalu bilang, “ jangan nangis.. klo nangis nanti giginya tambah sakit”, tapi ananda tak peduli.. ananda terus saja menangis, sampai guling-guling di atas kasur karena kesakitan.
Hahaha.. ananda ketawa sendiri jika mengenang semuanya, sampai-sampai karena semua obatnya tak mempan (*parah kali pun sakitnya, ckckc..), bunda menghancur kan obat itu dan meletakkan nya di dalam gigiku yang berlubang.. (*sakit gigi bukan males gosok gigi ya.. tapi karena suka makan permen, coklat dan gula,^_~) tapi ananda tetap menangis, kali ini nangis bukan hanya karena kesakitan tapi juga karena merasakan obat yang pahit hentah berantah itu.. hehe.. hmm bunda melakukannya karena kepanikan dan bingung apa lagi yang mau dilakukan.
Tetapi setelah itu, denyut gigi ku yang sakit sedikit berkurang, (*bunda memang hebat) dan akhirnya ananda terlelap tidur, mungkin karena kecapean habis menangis.
Bunda selalu bilang, “ jangan nangis.. klo nangis nanti giginya tambah sakit”, tapi ananda tak peduli.. ananda terus saja menangis, sampai guling-guling di atas kasur karena kesakitan.
Hahaha.. ananda ketawa sendiri jika mengenang semuanya, sampai-sampai karena semua obatnya tak mempan (*parah kali pun sakitnya, ckckc..), bunda menghancur kan obat itu dan meletakkan nya di dalam gigiku yang berlubang.. (*sakit gigi bukan males gosok gigi ya.. tapi karena suka makan permen, coklat dan gula,^_~) tapi ananda tetap menangis, kali ini nangis bukan hanya karena kesakitan tapi juga karena merasakan obat yang pahit hentah berantah itu.. hehe.. hmm bunda melakukannya karena kepanikan dan bingung apa lagi yang mau dilakukan.
Tetapi setelah itu, denyut gigi ku yang sakit sedikit berkurang, (*bunda memang hebat) dan akhirnya ananda terlelap tidur, mungkin karena kecapean habis menangis.
Bunda..
maafkan ananda jika selama ini ananda banyak melakukan kesalahan.
Terkenang olehku, dikala itu ananda masih duduk di kelas 2 smp. Saat itu baru kenaikan kelas, di sekolah ibu guru menjual buku paket pada anak muridnya, ananda minta izin ke bunda untuk membelinya, dan bundapun mengizinkannya.
Beberapa hari setelah itu, bunda memberikan uang untuk membayar buku yang telah ku ambil. Tapi karena saat itu guru yang bersangkutan tidak datang, jadi uangnya ku pegang dahulu. Hari-hari berikutnya ada saja halangan untuk berjumpa dengan beliau. Alhasil, perlahan demi perlahan uangnya ludes di jajanin karena kelamaan pada ananda (*maklum masih kecil, belum bisa pegang uang banyak : pembelaan diri,hehe). Keesokan harinya, ketika ibu guru masuk kekelas, teman-teman semua membayar buku yang telah di ambil.
Terkenang olehku, dikala itu ananda masih duduk di kelas 2 smp. Saat itu baru kenaikan kelas, di sekolah ibu guru menjual buku paket pada anak muridnya, ananda minta izin ke bunda untuk membelinya, dan bundapun mengizinkannya.
Beberapa hari setelah itu, bunda memberikan uang untuk membayar buku yang telah ku ambil. Tapi karena saat itu guru yang bersangkutan tidak datang, jadi uangnya ku pegang dahulu. Hari-hari berikutnya ada saja halangan untuk berjumpa dengan beliau. Alhasil, perlahan demi perlahan uangnya ludes di jajanin karena kelamaan pada ananda (*maklum masih kecil, belum bisa pegang uang banyak : pembelaan diri,hehe). Keesokan harinya, ketika ibu guru masuk kekelas, teman-teman semua membayar buku yang telah di ambil.
Bunda.. tau ga, ananda bingung saat itu. Karena duit yang bunda kasih sudah tidak ada lagi. Sepulang sekolah, ketika hendak mengganti baju, ananda melihat uang yang nongol dari saku baju bunda yang tersangkut dibelakang pintu, dengan perasaan takut dan was-was, ananda mengingkari kata hati dan mengikuti kata nafsu. Alhasil, ananda berhasil mengambil duit itu. ananda ingat uang yang ananda ambil adalah sisa belanja bunda beli bahan masakan hari itu.
Hmm bunda.. setelah mengambil uang bunda, dan membayarnya pada ibu guru, perasaan bersalah itu selalu menghantui.
Setiap hari, ketika hendak berangkat ke sekolah, ketika bunda atau ayah memberi uang jajan untukku, selalu teringat-ingat akan duit yang telah ananda ambil. Ananda takut.. Alhasil pada hari raya ananda berhasil mengutarakan maaf pada bunda. Dan bunda memaafkan ananda dengan tulus.
Bunda..
sungguh, saat itu semua diluar kendali, Ananda biasanya tidak berani mengambil
uang yang ada didalam dompet bunda, baik itu sepengetahuan bunda. Tapi saat
itu, ananda terpaksa dan ananda melihat ada kesempatan untuk melakukannya.
(*waspadalah.. waspadalah.. hehehe),
Bunda..
banyak cerita indah yang telah kita lalui.. hari demi hari engkau menyiapkan
segala keperluan ku tanpa pernah mengeluh dan tak pernah mengenal lelah. Sampai
ananda sudah besar seperti inipun, engkau tak pernah lelah melakukannya
untukku.
Bunda.. teringat olehku, ketika ayah pergi meninggal kan kita, kala itu ananda masih duduk di bangku SMA, ketika kita memandikan ayah, bunda jatuh pingsan, saat itu ingin sekali rasanya ananda berteriak kencang, mengadu pada Tuhan, ‘mengapa ini yang terjadi?’, namun Alhamdulillah ananda tak melakukannya, karena sadar akan semua yang terjadi adalah ujian dari Allah.
Ananda tau apa yang bunda rasakan saat itu, kehilangan orang yang di cintai, kehilangan orang yang begitu menyayangi dan di sayangi emang terasa berat.
Ananda tau, saat itu bunda bukanlah tak tegar, bunda bukanlah tak tabah.. tapi karena tembok pertahanan itu runtuh seketika karena adanya sebuah kejutan yang tak pernah kita inginkan.
Sejatinya, ananda hanya menebak-nebak saja apa yang bunda rasakan, karena sesungguhnya ananda memang tak dapat merasakan apa yang bunda rasakan dengan pasti kala itu. Perasaan seorang istri yang ditinggal oleh suami tercinta.
Bunda.. teringat olehku, ketika ayah pergi meninggal kan kita, kala itu ananda masih duduk di bangku SMA, ketika kita memandikan ayah, bunda jatuh pingsan, saat itu ingin sekali rasanya ananda berteriak kencang, mengadu pada Tuhan, ‘mengapa ini yang terjadi?’, namun Alhamdulillah ananda tak melakukannya, karena sadar akan semua yang terjadi adalah ujian dari Allah.
Ananda tau apa yang bunda rasakan saat itu, kehilangan orang yang di cintai, kehilangan orang yang begitu menyayangi dan di sayangi emang terasa berat.
Ananda tau, saat itu bunda bukanlah tak tegar, bunda bukanlah tak tabah.. tapi karena tembok pertahanan itu runtuh seketika karena adanya sebuah kejutan yang tak pernah kita inginkan.
Sejatinya, ananda hanya menebak-nebak saja apa yang bunda rasakan, karena sesungguhnya ananda memang tak dapat merasakan apa yang bunda rasakan dengan pasti kala itu. Perasaan seorang istri yang ditinggal oleh suami tercinta.
Bunda..
engkaulah
ibu yang perkasa..
engkaulah
ibu yang terhebat sepanjang massa..
Setelah
kepergian ayah, engkau membesarkan anak-anakmu seorang diri..
engkau berjuang sendiri untuk melanjutkan cita-cita yang pernah ayah dan bunda impikan.
Yaitu memiliki anak-anak yang berhasil dalam hidupnya.
Bukankah bunda pernah menceritakan ini pada ananda, bunda pernah bercerita,
di suatu malam ketika ayah dan bunda hendak tidur, ayah dan bunda saling bercerita tentang impian, tentang cita-cita dan tentang hidup yang sedang dijalani.
Ayah dan bunda memiliki impian yang begitu mulia.
Dan setelah ayah tiada, bunda tak menyerah, bunda tak putus asa. Bunda tetap yakin bahwa anak-anak bunda akan menjadi orang yang berhasil dan berguna.
engkau berjuang sendiri untuk melanjutkan cita-cita yang pernah ayah dan bunda impikan.
Yaitu memiliki anak-anak yang berhasil dalam hidupnya.
Bukankah bunda pernah menceritakan ini pada ananda, bunda pernah bercerita,
di suatu malam ketika ayah dan bunda hendak tidur, ayah dan bunda saling bercerita tentang impian, tentang cita-cita dan tentang hidup yang sedang dijalani.
Ayah dan bunda memiliki impian yang begitu mulia.
Dan setelah ayah tiada, bunda tak menyerah, bunda tak putus asa. Bunda tetap yakin bahwa anak-anak bunda akan menjadi orang yang berhasil dan berguna.
Dan
kini..
ananda akan berusaha mewujudkan impian bunda.
Ananda akan berusaha menjadi orang yang berhasil di dunia dan juga di akhirat.
ananda akan berusaha mewujudkan impian bunda.
Ananda akan berusaha menjadi orang yang berhasil di dunia dan juga di akhirat.
Bunda..
Bunda..
setiap anak menanti hadirmu..
begitu juga dengan ku saat ini, ananda butuh bunda di sisiku..
ananda ingin bercerita panjang padamu, tentang hari-hari ku, tentang cita-cita ku, tentang impian ku, tentang hatiku dan tentang hidup yang sedang ku jalani..
bunda.. ananda ingin memelukmu, berbagi suka dan duka bersamamu..
begitu juga dengan ku saat ini, ananda butuh bunda di sisiku..
ananda ingin bercerita panjang padamu, tentang hari-hari ku, tentang cita-cita ku, tentang impian ku, tentang hatiku dan tentang hidup yang sedang ku jalani..
bunda.. ananda ingin memelukmu, berbagi suka dan duka bersamamu..
Bunda..
ananda begitu beruntung karena memilikimu..
terimakasih
atas segala yang telah bunda berikan,
dengan penuh sabar dan kasih sayang bunda mendidik dan membesarkan ku, hingga aku seperti saat ini.
dengan penuh sabar dan kasih sayang bunda mendidik dan membesarkan ku, hingga aku seperti saat ini.
bunda..
ananda bukanlah sang pujangga yang mampu merangkai kata untuk mu..
tapi yakinlah..
sang pujangga manapun tak kan sanggup merangkaikan kata untuk ku padamu..
karena sejatinya rasa syukur ku, rasa bangga ku, tak pernah bisa di utarakan lewat apapun.
tapi yakinlah..
sang pujangga manapun tak kan sanggup merangkaikan kata untuk ku padamu..
karena sejatinya rasa syukur ku, rasa bangga ku, tak pernah bisa di utarakan lewat apapun.
Bunda..
kuharap Tuhan selalu menjagamu..
menjaga jiwa dan ragamu untuk ku..
ku ingin menjagamu..
merawatmu kala rambutmu tak hitam lagi..
kala kulitmu tak halus lagi..
kala usia mu mulai senja..
ku ingin menjagamu..
menjaga jiwa dan ragamu untuk ku..
ku ingin menjagamu..
merawatmu kala rambutmu tak hitam lagi..
kala kulitmu tak halus lagi..
kala usia mu mulai senja..
ku ingin menjagamu..
Bunda..
hatiku gemetar ketika ananda mengutarakan inginku ini padamu, dan engkau menjawab dengan candamu.. “mama ga mau hidup lama-lama, setelah menikah semua anak-anak mama, berarti ga ada lagi yang mesti mama pikirkan. Klo tuhan izinkan Mama ingin istirahat dengan tenang”,
hatiku gemetar ketika ananda mengutarakan inginku ini padamu, dan engkau menjawab dengan candamu.. “mama ga mau hidup lama-lama, setelah menikah semua anak-anak mama, berarti ga ada lagi yang mesti mama pikirkan. Klo tuhan izinkan Mama ingin istirahat dengan tenang”,
Bunda…
taukah perasaanku saat itu??
Ketika bunda mengutarakan itu padaku ?,
meskipun engkau menyampaikannya sembari becanda, namun tetesan bening dari sudut pelupuk mataku tak bisa ku tahan dan jatuh begitu saja tanpa izin padaku..
saat itu juga, kuhapus cepat air mataku.. aku tak ingin bunda melihatku menangis.. saat itu, kupaksakan untuk tetap becanda, dan mengatakan.. “ga bole.. enak aja!!”,
Ketika bunda mengutarakan itu padaku ?,
meskipun engkau menyampaikannya sembari becanda, namun tetesan bening dari sudut pelupuk mataku tak bisa ku tahan dan jatuh begitu saja tanpa izin padaku..
saat itu juga, kuhapus cepat air mataku.. aku tak ingin bunda melihatku menangis.. saat itu, kupaksakan untuk tetap becanda, dan mengatakan.. “ga bole.. enak aja!!”,
Bunda..
hanya ananda.
Yah.. hanya tinggal ananda seorang diri. Ananda tak ingin apa yang bunda inginkan.
Yah.. hanya tinggal ananda seorang diri. Ananda tak ingin apa yang bunda inginkan.
Ya allah
ya Tuhanku..
Engkau
sang pengenggam jiwa..
jagalah
jiwa dan raga bunda untuk ku..
sayangi
bunda ku yang jauh disana..
jagalah
ia selalu..
meskipun
penjagaan ku saat ini tak sampai padanya,
tapi ku
yakin, Engkaulah sebaik-baik penjaga.
Ku Titip
bunda ku padamu.
Jika di
kala pagi ia kelaparan, tolong anugrahkan sesuatu yang bisa mengganjal
perutnya,
jika di
siang hari ia kelelahan, tolong Engkau anugrahkan sesuatu yang dapat
menghilangkan lelahnya,
jika di kala senja ia rindu padaku.. tolong sampaikan bahwa aku juga begitu merindukannya.
jika di kala senja ia rindu padaku.. tolong sampaikan bahwa aku juga begitu merindukannya.
Jika di
malam hari ia terlelap dalam tidurnya, tolong Engkau selimuti tubuhnya dari
dinginnya angin malam dengan kasih sayang_Mu.
Ya allah
ya Tuhanku..
kuharap
Engkau menggabulkan doa-doaku.
Bunda..
Terakhir dari goresan tinta ku ini, adalah bukti rasa syukur_ku kepada Allah swt, karena sampai detik ini kita masih di izinkan untuk merasakan betapa indahnya bumi dan langit_Nya, dan sebagai bukti syukurku karena aku memilikimu, oh bundaku.
Terakhir dari goresan tinta ku ini, adalah bukti rasa syukur_ku kepada Allah swt, karena sampai detik ini kita masih di izinkan untuk merasakan betapa indahnya bumi dan langit_Nya, dan sebagai bukti syukurku karena aku memilikimu, oh bundaku.
Note from
your daughter
Fisabilillah^
Wisma
shafiyah
Transfer data dari blog terdahulu di posting Senin, 16 Mei 2011
0 komentar:
Posting Komentar