Senin, 15 Juli 2013 - 0 komentar

sami'na wa atho'na daahhh..


Ketika kita yakin kepada Allah SWT, maka keyakinan itu secara otomatis terkonversi menjadi kekuatan, kesabaran, kesyukuran dan kelapangan.

Prend, pernah dengar istilah 'cegukan' ?
Saya yakin pasti pernah.

Cegukan itu sama seperti kita bersendao (*tau sendao? Hehe, pasti taulah yaa.. Saya bingung mencari kosa kata dalam bahasa Indonesianya, hihi)
keduanya sama-sama mengeluarkan suara 'aa..' (hehe)

hanya saja bedanya, ketika kita bersendao, terasa lebih ringan dan lapang, baik sendao kenyang (*sebenarnya ini tidak baik, karena Rasulullah tidak suka) atau sendao masuk angin. 

Sedangkan ketika kita cegukan, kita merasa ada yang tertekan di dalam perut. 
Sudah pasti ini sangat risih dan menyulitkan kita untuk beraktifitas.

Konon katanya, cegukan ini disebabkan kurang minum dan hanya bisa diobati dengan banyak minum air mineral (*benarkah?)

nah, masalahnya, bagaimana kalau kita cegukan di bulan Ramadhan? Kita kan puasa? Gak mungkin kan minum? Gak mungkin juga cegukan sampai senja hingga bedug berbunyi.

Sungguh, cegukan ini sangat menyiksa.
Jadi gimana caranya?

Gak mungkin juga kita kumpulin air ludah lalu menelannya (*huekk.. Jijik) karena ini bisa membatalkan puasa. Sia-sia.

Hari ini saya mengalaminya, hari pertama puasa. Sungguh, cegukan menyiksa saya, beribadahpun jadi tidak nyaman.

Lama saya merenung, 
"ya Robb.. Bagaimana ini?", bisik hatiku.

Usai sholat zuhur, sebelum saya mengambil mushaf Alqur'an dan tenggelam dalam bacaaanya, saya teringat kajian yang pernah saya dengar dari salah satu ustadz yang termansyur dinegeri ini, katanya jika kita yakin kepada Allah, kita harus "sami'na wa atho'na",
kami mendengar dan kami taat.

"ya Allah, hamba sami'na wa atho'na nih sama Engkau, hamba yakin dengan apa yang hamba dengar dan insyaALLAH dengan bimbingan_Mu hamba akan menta'atinya, ya Allah, hamba yakin dengan kuasa_Mu, saat ini hamba sedang cegukan, lama-lama bisa pusing juga kalau begini, tolong hilangin ya y Allah cegukannya.." bisik ku.

setelah saya ng0mong sama Allah, saya bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir sebanyak 33 kali. 

Subhanallah..
Berkat keyakinan tadi, cecegukan saya hilang seketika dan kembali n0rmal, padahal tadinya sudah pusing banget.
Subhanallah..
Alhamdulillah..

Prend, sengaja saya menulis ini, karena ustadz termansyur tadi juga pernah bilang, "kita ini kebanyakan sami'na wa analisa.. Bukan sami'na wa'atho'na.."

kita dengar dengan apa yang Allah perintahkan, ajarkan dan ingatkan. Tetapi setelah kita mendengar_Nya kita tidak langsung menta'ati_Nya,
kita analisa dulu perintah_Nya, kita analisa dulu apa yang telah diperingatkan_Nya.
Kita analisa dari pengalaman orang lain dulu, benar tidak, jika benar kita baru menta'ati_Nya.

MasyaALLAH.
Nauzubillahiminzalik.

Saya pernah melakukannya pada pengalaman bersedekah.
(*ya Allah.. Ampun)

saya lihat pengalaman orang, saya analisa, lalu hati saya berbisik "subhanallah, benar yaa..?"

setelah itu, saya pergi bersedekah, saya niatkan apa yang ingin saya niatkan, 
dengan kata lain, saya ingin Allah juga menepati janji_Nya pada saya,
(*ya Allah.. Ampun..)

benar, setelah saya bersedekah dalam perjalanan pulang, seketika itu Allah langsung memberi apa yang saya inginkan tadi, dan seketika itu pula saya menangis dan menyesal. Karena tidak langsung percaya saja sama Allah. (*semoga Allah mengampuni saya.aamiin),

"ya Tuhan-ku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik" 
(Q.s 23:118)

semoga bermanfaat dan ada hikmah yang diambil dari kisah ini.

"katakanlah (Muhammad), sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh Alam" 
(Q.s 6:162)

#yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca, semga Allah berkahi. Aamiin y Robb..

# berawal dari status FB, 1 Ramadhan 1334 H

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA