Sebenarnya
aku tak mau menceritakan kisah ini, tapi setelah aku mendengar cerita dosen ku
tadi pagi, ternyata rasa haru ku sama
dengan rasa haru yang beliau rasakan,
maka ku putuskan aku juga akan menceritakan kisah ini. pada siapa,
entahlah aku tak tau, mungkin pada mereka yang membaca tulisan ini saja.
Aku
sangat terharu mendengar ketika beliau berkisah tadi pagi. Linangan air mata beliau, serasa
menggambarkan bahwa kisah ini betul-betul memberi banyak pelajaran bagi kita.
yah aku sepakat, kisah ini memang banyak memberi pelajaran, oleh karenanya aku
memutuskan untuk menulisnya, agar kita semua bisa mengambil ibroh atau
pelajaran dari kisah ini. semoga.
Bermula
dari kemarin siang, hari senin , 6 agustus 2012, pukul 13.20 wib. Saat aku sedang berada di salah satu ruang
besar dikampus ku. Ketika itu aku sedang menghadiri sebuah pertemuan
Akbar para mentor se-universitas andalas.
Acara yang aku tunggu, karena akan menghadirkan seorang ustadz yang
dahsyat, yaitu ust Rahmadi Kurnia.
Beliau dosen di fakultas teknik, dengar kabar beliau adalah Ketua disalah satu jurusan yang ada di sana,
jurusan apa aku kurang tau. Dalam
pandangan ku beliau adalah sosok yang dahsyat. Seorang ilmuan yang agamis. Luar biasaa, Patut untuk dijadikan tauladan.
Siang
itu, sang moderator memberi tahukan bahwa ustadz akan datang telat, karena ada
suatu urusan. Yah tak mengapa, ini bukan masalah. Never mind, it’s OK. Aku yang
baru datang dan bergegas mencari bangku untuk melepaskan sedikit lelah mencoba
melemparkan pandangan pada para undangan, sebagian besar mereka membuka mushaf
quran nya dan membaca dengan khidmat.
Maklum, manusia-manusia yang haus
ilmu itu berlomba-lomba mengejar pahala yang menggiurkan dibulan
ramadhan ini. Saat itu, tiba-tiba handphone
ku berbunyi, tanda sms masuk, ku lihat ternyata dari mas’ul fakultas. dengan
seksama aku membacanya,
“ikhwah,
anak pak BUDI butuh gol darah A,
pendonor berat badannya harus 55 kg, karena mau diambil trambositnya. Langsung
saja ke PMI, katakana darahnya untuk rido rabbani. Anak bapak sedang kritis.
Tolong sebarkan, ana sekarng sedang di M. Jamil”.
Jantungku
berdetak hebat ketika membaca sms ini, seakan sms ini bukan hanya sebuah
informasi tapi juga sebuah perintah untuk ku, karena kriteria pendonor yang
disebutkan di sms tersebut benar-benar mengarah untuk ku. Lalu bertubu-tubi sms
yang senada masuk ke nomor handphone ku, ntah nomor siapa saja aku juga tak
tau, kebanyakan nomor asing. Lalu dengan spontan aku mem-forward kan sms itu ke
semua ikhwah (*yang kenal sama bapak) yang lain. Lalu aku mendapatkan sms lagi, kali ini sms
nya benar-benar memprihatinkan,
“forward
kan, Ana coba sampaikan pesan keluarga pak BUDI RUDIANTO, mereka minta kita
semua mengirimkan al-fatihah kepada rido
rabbani. Jazakumullah”.
Hufftt..
kali ini hatiku benar-benar berdetak hebat. Lagi-lagi aku mem-forward sms itu
pada yang lain,,
Pak
Budi adalah salah satu dosen favoritku. Beliau adalah dosen jurusan matematika.
Meskipun beliau tidak pernah mengajariku, meskipun aku tak pernah kuliah
bersamanya, tapi aku dapat melihat bahwa beliau adalah orang yang sangat
dahsyat luar biasa. Seorang mu’alaf yang
hapal al-quran 30 juz. aku begitu mengagumkan beliau, setiap kata yang keluar dari mulutnya
bersumber al-quran, yah semua kata-katanya bersumber alquran. Pengetahuan beliau atas al-quran benar-benar
dahsyat. Dahsyat, yah benar-benar dahsyat. Aku suka terkagum-kagum jika
mendengar beliau mengisi taujih, tak jarang air mataku pun selalu ikut mengalir
atas kebesaran Allah dan keajaiban alquran yang beliau terangkan. Yah itulah sedikit gambaran ku tentang
beliau, meski aku tak pernah berkomunikasi dengan beliau secara langsung tetapi
aku dapat menilai bahwa beliau adalah
orang yang patut untuk dijadikan tauladan.
Dan
siang itu, ketika aku usai mem-forward sms-sms yang aku dapatkan kepada yang
lain, spontan aku ingin mendonorkan darah ku. Keinginan itu begitu kuat,
semakin kuat. Ntah dorongan dari mana, sehingga aku memiliki keinginan yang
kuat. Kali ini sms yang datang padaku benar-benar menggoncang hatiku. Biasanya
jika aku mendapat sms untuk mencari pendonor, aku lebih sering cuek. Jangankan
untuk memforward, menyimpan sms nya saja aku malas. Tapi kali itu, aku
merasakan suatu dorongan yang tak tau dari mana datangnya, yang pasti keinginan
ku kuat untuk menjadi pendonor untuk anak pak budi. Hmm aku tak memikirkan yang lain lagi, tak
peduli dengan acara yang sedang aku hadiri, tak peduli dengan ketakutan ku
selama ini dengan jarum suntik, tak
peduli.
Yang
aku rasakan bahwa sms itu adalah sebuah perintah, agar aku segera bergegas ke
PMI. Kebetulan saat itu aku sedang
bersama junior, aku ajak dia untuk menemaniku ke PMI. Alhamdulillah ia
bersedia. Dan bersegeralah kami bergerak menuju PMI dengan menggunakan motor
putihku.
Saat
itu cuaca mendung, angin kencang. Di dalam perjalanan, kami tak banyak bicara.
Hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Saat itu aku berharap bahwa hujan tak turun sampai kami sampai ke tujuan
dan berharap Allah meridhoi perjalanan kami.
Didalam
perjalanan, aku teringat wajah ayah dan ibuku. Aku teringat bahwa mereka juga pernah membutuhkan pertolongan.
Dulu,
ketika ayah sakit, orang
berbondong-bondong mendonorkan darahnya untuk ayah. Alhasil 80 kantong darah berhasil masuk ke
tubuh beliau selama masa perobatan. Dulu ayah ku juga di rawat di rumah sakit
M. Djamil. ayah sakit anemia amplabastis, kekurangan darah merah dan darah
putih. Pernah HB ayah hanya 1 saja. tapi ayah ku yang hebat dan kuat, tetap tak
kelihatan seperti orang sakit. Ia tetap tersenyum, tetap tertawa. Tak pernah
menampak kan derita, meski sudah puluhan tusukan jarum dideritanya. Hanya saja,
ayah pernah jatuh sekali, ketika hendak ke kamar mandi. Aku tak menyaksikan
secara langsung, karena saat ayah sakit aku tak bisa menemani beliau, karena
aku harus sekolah mengejar impian. Kami terpisah ruang, terpisah oleh jarak
yang terbentang luas. Kala itu aku hanya mendengar cerita dari kakak, aku tak
yakin dengan cerita itu, aku tak percaya kalau ayah terjatuh ketika hendak ke
kamar mandi, bagaimana mungkin bisa ayah ku yang berbadan tegap bisa terkulai
layu. Bagaimana mungkin ayah ku yang suka tertawa dan becanda, menderita
kesakitan disana. Ah aku tak percaya, karena memang setiap aku bercerita
padanya melalui via telpon, tak pernah aku dapatkan ada kesedihan disana, tak
pernah aku mendengar ayah mengeluh kesakitan. Ketika di tanyakan kabar saja,
beliau selalu mengatakan “papa baik-baik saja, belajar yang rajin yaa..”, tak pernah ketinggalan canda dan tawa itu,
meski dalam suasana yang tak wajar, pikirku. Yah begitulah ayah, tak ingin orang lain juga
merakan deritanya. (*paa.. semoga Allah
menempatimu di tempat terindah di sisi_Nya, semoga engkau di jauhkan dari
siksaan kubur, semoga segala amal mu diterima oleh Allah, semoga dosa-dosamu di
ampuni oleh Allah paa,, semoga Allah mengumpulkan mu bersama dengan orang-orang
yang di cintai_Nya, semoga engkau mendapatkan kebahagian yang jauh lebih
bahagia dari kebahagiaan yang pernah engkau dapatkan di bumi ini. aamiin aamiin
aamiin ya Robb)
Dan
dulu, ketika ibu keguguran, juga berkantong-kantong darah orang lain masuk ke
tubuh beliau. alhasil, setelah itu ibu
mengandung lagi, dan lahirkan aku ke dunia. Konon katanya didalam tubuh ku
banyak campuran darah orang. Hehe.
Dan
kali ini (*bisik ku didalam hati), aku hanya ingin membantu mereka yang juga
sedang membutuhkan, seperti ayah dan ibu butuh kan dulu. Tak banyak darah yang
diambil dari tubuhku, hanya sekantong. Yah hanya sekantong. Masa hanya
sekantong aku tak bisa memberikan. Masa hanya untuk darah sekantong, aku tak
bisa menahan sebentar rasa sakit tusukan jarum itu. Yah aku harus bisa, bisa.
Sebagaimana mereka dulu bisa menahan rasa sakit ketika menolong ayah dan ibu.
Sepanjang
perjalanan, hanya senyum ayah, hanya senyum ibu yang terbayang oleh ku.
Tak
lama kemudian, aku akhirnya sampai ke PMI. Ternyata permohonan yang ku bisikkan
didalam hati tadi, di kabulkan oleh Allah. Setelah sampai ketujuan, baru hujan
turun. Alhamdulillah.
Bergegas
aku masuk dengan menggunakan kaki kanan dan tak lupa mengucapkan basmalah.
Gugup. Karena baru pertama kali aku ke sini. Baru pertama kali aku akan
mendonorkan darah ku. Bingung ketika aku memasuki ruangan itu, setelah bertanya
pada salah satu ibu-ibu yang menggunakan seragam yang ada disana, aku duduk
mengantri. Menunggu untuk mendaftarkan diri.
Tak lama kemudian, setelah aku mengatakan niat ku datang ke sana kepada
salah satu petugas, lalu aku mengisi formulir, mulailah darah ku di cek.
“kletek”,
bunyi jarum yang di cetek ke jari kiriku. Spontan darah nya keluar.
“sssstttt….”,
suara erang keluar dari mulutku menahan sakit. Sebenarnya tidak lah terlalu
sakit, hanya seperti di gigit semut saja, tapi gugup yang aku rasakan seakan
menambah rasa sakit itu.
Aku
melihat kerja ibu yang berwajah ayu yang ada didepan ku itu. Banyak yang aku tanya pada beliau, sebanyak
rasa gugup ku. Hehe.
“ini
untuk apa buk?”, tanyaku.
“oh,
ini untuk mengecek trombositnya”,
Aku
liat angka yang tertera disana, 13.1 .
“berarti
HB saya normal ya buk?”, Tanya ku balik.
“iyaa, bagus.”, jawab beliau sekenanya, karena memang beliau sedang sibuk mengoles-ngoles darahku yang di bagi menjadi tiga bagian di atas kaca. Di tes dengan larutan apa, aku tak menanyakan nya, takut di bilang “nyiyir”, hehe.
Lalu
setelah itu aku masuk kedalam ruangan.
Didalam
, tensi ku di ukur. Ketika selesai ku tanyakan hasilnya. Dan Alhamdulillah juga
normal.
Jadi
resmilah aku menjadi pendonor untuk pesakit yang menderita sakit DBD yang
bernama Ridho Rabbani.
Hmm,
Ternyata didalam ruang juga ada mahasiswa pak budi yang juga ingin mendonorkan
darah nya. Seorang perampuan dan seorang lelaki. Yang lelaki aku tak
mengenalnya. Dan yang perampuan, aku berkenalan saat itu, ternyata dia masih junior. Aku
mengobrol-ngobrol kecil dengan nya. Ternyata mereka datang tak hanya berdua,
tapi ber sepuluh orang. Semuanya bergolongan darah A yang ingin mendonorkan
darahnya. Ternyata rezeki tak berpihak pada
mereka yang berdelapan orang lagi. ada yang kekurangan berat badan, ada yang
tensinya rendah. Pokoknya yang bisa mendonor hanya dua orang saja.
Berarti
aku adalah orang yang beruntung. Karena aku di beri kesempatan untuk menikmati
rasa tusukan jarum itu. Hehe.
Gugup,
jantung berdetak lebih kencang, ketika aku berbaring di pembaringan. saat itu petugas hanya satu orang saja, jadi aku
menunggu antrian di pembaringan itu. Ruangan ber-AC dan suara tipi membantu
mencairkan sedikit suasana galau hatiku. Hihi. Hm, sambil menunggu antrian, ku
buka mushaf kecil ku, aku baca-baca ayat yang tertulis disana, mencoba mencari
ketenangan hati. Ku buka mata
lebar-lebar, ku buang semua beban agar penglihatan ku sedikit terang.
Alhamdulillah, aku berhasil.
Ketika
tiba saat nya giliran ku, jantung kembali berdetak kencang.
“Allah..
allah.. allah.. “ hanya itu yang bisa aku ucapkan. Sedang mushaf sudah kututup
kembali.
Ku
lempar pandangan ke luar, ternyata adik yang menunggu ku diluar juga sedang
menikmati bacaan alqurannya. Sudah berapa juz yang dia lahap di luar sana
(*gumam hati ku).
Aku
siap kan mental terbaik ku. Ibu yang bertugas disana, kesulitan mencari urat
nadi ku. Coba tangan kanan, katanya susah. Urat nadi ku tipis sekali. Coba tangan kiri, Alhamdulillah sedikit lebih
baik dari tangan kanan. Alhasil aku pindah tempat. Agar prosesnya lebih mudah.
Setelah
urat nadi di dapat, jarum yang ada ditangan beliau mulai mendarat ke urat nadi
ku. Aku tak berani melihat. Hanya sakit yang aku rasakan ketika jarum itu
berlabuh di tangan ku.
Hoaaaa..
aku mencoba merileks kan diri. Aku lihat, darah mulai mengalir menuju kantong
darah yang di sangkutkan di samping pembaringan ku. Ternyata darahnya mengalir
pelan.
Hmm,
aku menikmati suasana itu. Ternyata tak seburuk yang aku kira.
“pusing?”
tanya ibu yang berwajah ayu itu,
“Alhamdulillah,
gak buk,, “. Jawabku.
Setelah
selesai semuanya. aku keluar dengan hati lega. Alhamdulillah.
Lalu
adik yang menamani ku tadi, bertanya
“
kak kita ga ke M.Djamil liat anak bapak?”,
Lalu
aku melirik jam tangan ku, sudah pukul 15.35 wib.
“
ga usah lah lagi yaa.. kita pulang saja”. jawab ku.
“Oh
iyalah kak, kakak istirahat aja lagi”. katanya.
Bukan
istirahat yang aku kejar, tapi mengingat sebentar lagi akan masuk waktu ashar.
Akan banyak menghabiskan waktu jika pergi ke sana, apalagi sama-sama tak tau
seluk beluk rumah sakit itu. Aku tak ingin ashar terlalaikan.
Lalu,
kami pulang. Tangan ku sedikit keram. Tapi dengan kekuatan yang ku harap
berasal dari_Nya, memampukan aku untuk menyertir motorku. Tak memungkin kan
jika adik ku itu yang membawanya, karena kakinya masih terasa sakit, ia baru
saja jatuh dari motor.
Sesampainya
di rumah, aku ceritakan pada kakak apa yang telah aku alami.
Berdua
kami bernostalgia, mengingat masa-masa saat ayah sedang sakit. Dan air mata pun
mulai membasahi kelompak mata kami. Ternyata kami sama-sama sedang merindukan
ayah. Ohh ayah..
Aku
istirahat, merebahkan tubuh menghilangkan lelah yang aku rasakan.
Spontan
aku terasa lemas, badan mulai memanas, apalagi di luar sedang hujan lebat.
Tambahlah meriang itu.
Hmm,
tapi itu hanya sesaat saja, setelah berbuka, meriang itu hilang. Alhamdulillah.
Setelah
aku melakukan aktifitas yang sudah menjadi kebiasaan ku, kira-kira pukul 22.19
wib. Aku mendapatkan sms yang sangat mengejutkan. Tubuhku kembali lemah ketika
membacanya,
“Asslm,
innalillahiwainnailaihirojiun, telah berpulang ke Rahmatullah anak dari Bpk budi,
mari bersama-sama kita mendoakan alm agar di terima di sisi Allah. Aamiin”.
Tubuh
ku gemetar, saat itu aku baru saja terbaring hendak tidur, gelisah. Putar kiri,
putar kanan. Tetap mataku tak mau tertidur. Kembali aku forward kan sms itu
kepada yang lain. saat itu aku terbayang darah ku yang sekantong itu. aku
terbayang wajah pak Budi. Yah aku terbayang wajah itu. aku tidak bisa
membayangkan wajah sedih beliau, karena memang sulit untuk ku. Aku hanya
membayangkan wajah saat beliau mengisi materi di acara-acara yang diadakan di
kampus.
Kenapa
wajah bapak yang dibayangkan, kenapa tidak wajah anaknya?
Hmm,
bagaimana aku bisa membayangkan wajah anak beliau, bertemu saja tidak pernah.
Jadi yang terbayang oleh ku hanya wajah bapak.
Sejam
aku gelisah, putar kiri, putar kanan. Tetap tak mau tidur. Akhirnya ku hidup
kan murotal juz 30 yang ada di handphone. Alhamdulillah, ketika masih surat
an-naba’ aku sudah tertidur. pulas.
Keesokan
harinya, aku bergegas hendak ke kampus. Dosen ku hari ini sangat disiplin, tak
boleh telat. Hari pertama kuliah, aku tak ingin membuat ulah. Alhamdulillah aku
tak telat sampai di gedung H.
Dosen
ku masuk dengan wajah berseri. Memberikan senyum terbaiknya untuk kami yang
sudah menantinya di ruang kelas. hari ini belum mulai belajar, beliau masih
memberikan wejengan-wejengan untuk kami yang mengikuti mata kuliahnya.
Banyak
cerita motivasi di sana. Kami senang mendengar nasehat beliau, layaknya nasehat seorang ibu kepada anak. Tetapi,
tiba-tiba beliau menceritakan berita duka yang terjadi hari ini. yah cerita
duka yang sedang di alami oleh pak budi, cerita duka yang menyimpan banyak
pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran.
Muhammad
Ridho rabbani, ternyata satu sekolah dengan anak dosen ku itu. beliau berkisah,
bahwa ia adalah anak yang baik, sangat baik . Aku baru tau, ternyata Ridho
rabbani masih berumur 15 tahun. Aku baru tau, ridho rabbani anak satu-satunya,
aku baru tau kalau dia anak paling pintar nomor satu di sekolahnya, aku baru
tau kalau ia menjadi tauladan di sekolahnya, aku baru tau kalau ia di senangi
oleh orang banyak, aku baru tau kalau ia menjadi figure yang menenangkan. Aku
baru tau ketika mendengar cerita dosen ku..
Hikss.
Hatiku merintih, kenapa saat itu aku tidak menjenguk dia saja, walau hanya
sebentar. Agar aku tau yang mana ridho rabbani, agar aku tau yang mana figure
yang menenangkan itu, agar aku tau yang mana anak yang menjadi tauladan di
sekolahnya. Haah,, aku menyesali keputusan ku untuk segera pulang saja ketika
usai mendonorkan darah.
Dari
cerita yang aku dengar dari dosen ku, terlihat bahwa beliau juga sangat
terpukul atas kepergian anak sholeh itu. padahal beliau mengatakan bahwa beliau
tidak terlalu mengenalnya, hanya anak beliau saja yang mengenal baik dengan
ridho. Tetes air mata ketika menceritakan segala tentang ridho menunjukkan
kalau ridho benar-benar anak yang beruntung. Di sayangi oleh banyak orang.
Dosen
ku berkisah lagi, bahwa ia benar-benar tidak kuat ketika menjenguk ridho ketika
masih sakit. Derita itu terlalu berat untuk anak seusianya.
Dan
saat itu, dosen ku mengeluarkan secarik kertas,
Ternyata
itu adalah puisi Muhammad Ridho Rabbani berserta fotonya dengan seorang lelaki
yang berada di atas kursi roda (*aku hanya melihat foto itu selintas, ku rasa
begitulah fotonya). Aku tak tahan
menahan air mata ini ketika membaca puisi itu.
Dan
dosen ku mengartikan nama dari Muhammad Ridho Rabbani.
Muhammad
= orang yang menjadi tauladan, beliau bilang biasa kalau anak laki-laki di beri
nama ini.
Ridho
= ikhlas
Rabbani
= Rabb = Tuhan, allah SWT.
Berarti,
dengan memberi nama ini, pak budi sudah benar-benar ihklas dengan apa yang akan
terjadi pada anaknya, karena anak adalah titipan Tuhan, dan juga akan kembali
padanya. Itu yang beliau utarakan, sedang air mata itu masih juga mengalir.
Beliau
bilang, orang baik emang cepat di ambil oleh Allah. Dan beliau sangat yakin
sekali jika ridho rabbani tempatnya di syurga. Semoga.
Dan
Ketika beliau takziah ke rumah pak budi seusai subuh tadi, beliau tak melihat
setetespun air mata yang mengalir di wajah bapak dan istri. Betapa tegarnya
mereka. Yah begitulah orang-orang yang beriman. Sabar ketika mendapatkan
musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Teruntuk
ridho rabbani, semoga engkau tenang berada disana.
Meskipun
aku tak mengenal mu, tapi aku yakin engkau adalah anak yang baik dan sholeh,
dan aku juga yakin kalau allah menempatkan mu di syurga_Nya yang tinggi.
Aamiin.
Yahh..
beginilah kisah tentang seorang muhammad ridho rabbani, orang yang tak pernah
aku kenal, tetapi hatiku terasa sangat dekat sehingga spontan aku ingin
menolongnya. Orang yang tak pernah aku kenal, tapi telah berhasil membuat air
mataku terjatuh karena merasa kehilangan, orang yang tak aku kenal tapi aku
bisa merasakan keelokan budi dan akhlaknya. Orang yang tak aku kenal, tapi telah
memberi banyak pelajaran pada setiap orang yang mau mengambil pelajaran
darinya.
Ada kata yang masih membayang dalam pikir ku,
ucapan dari teman ridho yang di share di dalam facebooknya, yang di sampaikan
oleh dosen ku, “Ridho, jika aku tau salaman
kita kemarin itu adalah salaman yang terakhir, aku tak mau melepaskan tangan mu
dariku”.
Hua,
aku tersentuh ketika mendengarnya.
Begitulah
seorang mukmin yang baik, ia meninggal
dengan senyuman, dan orang menangis karena kehilangan.
Ridho
telah selamat..
Telah
kembali kepangkuan illahi.
Yang
aku khawatirkan, bagaimana dengan kondisi ku saat aku meninggal nanti?
Adakah
aku akan mati dalam senyuman?
Adakah
aku akan mati dalam kesucian?
Adakah
orang yang menangis untuk kepergian ku?
Adakah
orang yang merasa kehilangan ketika aku tiada?
Sedang,
dosa masih melumuri,
sedang
luka terkadang masih suka mengoresi hati.
Robb,
matikan Aku dalam keadaan Syahid di jalan_Mu.
Matikan
aku dalam keadaan husnul khotimah.
Matikan
aku dalam keadaan sebaik-baiknya.
Hiasilah
kehinaan ku dengan keindahan magfirah_Mu.
Aamiin
aamiin aamiin ya Robbalaamin.
(*repost dari catatan terdahulu)
0 komentar:
Posting Komentar