Senin, 29 Juli 2013 - 0 komentar

Kisah ku..

Bismillahirahmanirahim,

Sebenarnya aku tak mau menceritakan kisah ini, tapi setelah aku mendengar cerita dosen ku tadi pagi, ternyata  rasa haru ku sama dengan rasa haru yang beliau rasakan,  maka ku putuskan aku juga akan menceritakan kisah ini. pada siapa, entahlah aku tak tau, mungkin pada mereka yang membaca tulisan ini saja.

Aku sangat terharu mendengar ketika beliau berkisah tadi pagi.   Linangan air mata beliau, serasa menggambarkan bahwa kisah ini betul-betul memberi banyak pelajaran bagi kita. yah aku sepakat, kisah ini memang banyak memberi pelajaran, oleh karenanya aku memutuskan untuk menulisnya, agar kita semua bisa mengambil ibroh atau pelajaran dari kisah ini. semoga.

Bermula dari kemarin siang, hari senin , 6 agustus 2012, pukul 13.20 wib.  Saat aku sedang berada di salah satu ruang besar dikampus ku.  Ketika  itu aku sedang menghadiri sebuah pertemuan Akbar para mentor se-universitas andalas.  Acara yang aku tunggu, karena akan menghadirkan seorang ustadz yang dahsyat, yaitu ust Rahmadi Kurnia.  Beliau dosen di fakultas teknik, dengar kabar beliau adalah Ketua  disalah satu jurusan yang ada di sana, jurusan apa aku kurang tau.  Dalam pandangan ku beliau adalah sosok yang dahsyat. Seorang ilmuan yang agamis.  Luar biasaa, Patut untuk dijadikan tauladan.

Siang itu, sang moderator memberi tahukan bahwa ustadz akan datang telat, karena ada suatu urusan. Yah tak mengapa, ini bukan masalah. Never mind, it’s OK. Aku yang baru datang dan bergegas mencari bangku untuk melepaskan sedikit lelah mencoba melemparkan pandangan pada para undangan, sebagian besar mereka membuka mushaf quran nya dan membaca dengan khidmat.  Maklum, manusia-manusia yang haus  ilmu itu berlomba-lomba mengejar pahala yang menggiurkan dibulan ramadhan ini.  Saat itu, tiba-tiba handphone ku berbunyi, tanda sms masuk, ku lihat ternyata dari mas’ul fakultas. dengan seksama aku membacanya,

“ikhwah, anak pak BUDI  butuh gol darah A, pendonor berat badannya harus 55 kg, karena mau diambil trambositnya. Langsung saja ke PMI, katakana darahnya untuk rido rabbani. Anak bapak sedang kritis. Tolong sebarkan, ana sekarng sedang di M. Jamil”.
Jantungku berdetak hebat ketika membaca sms ini, seakan sms ini bukan hanya sebuah informasi tapi juga sebuah perintah untuk ku, karena kriteria pendonor yang disebutkan di sms tersebut benar-benar mengarah untuk ku. Lalu bertubu-tubi sms yang senada masuk ke nomor handphone ku, ntah nomor siapa saja aku juga tak tau, kebanyakan nomor asing. Lalu dengan spontan aku mem-forward kan sms itu ke semua ikhwah (*yang kenal sama bapak) yang lain.  Lalu aku mendapatkan sms lagi, kali ini sms nya benar-benar memprihatinkan,

“forward kan, Ana coba sampaikan pesan keluarga pak BUDI RUDIANTO, mereka minta kita semua  mengirimkan al-fatihah kepada rido rabbani. Jazakumullah”.
Hufftt.. kali ini hatiku benar-benar berdetak hebat. Lagi-lagi aku mem-forward sms itu pada yang lain,,

Pak Budi adalah salah satu dosen favoritku. Beliau adalah dosen jurusan matematika. Meskipun beliau tidak pernah mengajariku, meskipun aku tak pernah kuliah bersamanya, tapi aku dapat melihat bahwa beliau adalah orang yang sangat dahsyat luar biasa.  Seorang mu’alaf yang hapal al-quran 30 juz. aku begitu mengagumkan beliau,  setiap kata yang keluar dari mulutnya bersumber al-quran, yah semua kata-katanya bersumber alquran.  Pengetahuan beliau atas al-quran benar-benar dahsyat. Dahsyat, yah benar-benar dahsyat. Aku suka terkagum-kagum jika mendengar beliau mengisi taujih, tak jarang air mataku pun selalu ikut mengalir atas kebesaran Allah dan keajaiban alquran yang beliau terangkan.  Yah itulah sedikit gambaran ku tentang beliau, meski aku tak pernah berkomunikasi dengan beliau secara langsung tetapi aku dapat menilai bahwa  beliau adalah orang yang patut untuk dijadikan tauladan.

Dan siang itu, ketika aku usai mem-forward sms-sms yang aku dapatkan kepada yang lain, spontan aku ingin mendonorkan darah ku. Keinginan itu begitu kuat, semakin kuat. Ntah dorongan dari mana, sehingga aku memiliki keinginan yang kuat. Kali ini sms yang datang padaku benar-benar menggoncang hatiku. Biasanya jika aku mendapat sms untuk mencari pendonor, aku lebih sering cuek. Jangankan untuk memforward, menyimpan sms nya saja aku malas. Tapi kali itu, aku merasakan suatu dorongan yang tak tau dari mana datangnya, yang pasti keinginan ku kuat untuk menjadi pendonor untuk anak pak budi.  Hmm aku tak memikirkan yang lain lagi, tak peduli dengan acara yang sedang aku hadiri, tak peduli dengan ketakutan ku selama  ini dengan jarum suntik, tak peduli.

Yang aku rasakan bahwa sms itu adalah sebuah perintah, agar aku segera bergegas ke PMI.  Kebetulan saat itu aku sedang bersama junior, aku ajak dia untuk menemaniku ke PMI. Alhamdulillah ia bersedia. Dan bersegeralah kami bergerak menuju PMI dengan menggunakan motor putihku.

Saat itu cuaca mendung, angin kencang. Di dalam perjalanan, kami tak banyak bicara. Hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.  Saat itu aku berharap bahwa hujan tak turun sampai kami sampai ke tujuan dan berharap Allah meridhoi perjalanan kami.
Didalam perjalanan, aku teringat wajah ayah dan ibuku. Aku teringat  bahwa mereka juga pernah membutuhkan  pertolongan.

Dulu, ketika  ayah sakit, orang berbondong-bondong mendonorkan darahnya untuk ayah.  Alhasil 80 kantong darah berhasil masuk ke tubuh beliau selama masa perobatan. Dulu ayah ku juga di rawat di rumah sakit M. Djamil. ayah sakit anemia amplabastis, kekurangan darah merah dan darah putih. Pernah HB ayah hanya 1 saja. tapi ayah ku yang hebat dan kuat, tetap tak kelihatan seperti orang sakit. Ia tetap tersenyum, tetap tertawa. Tak pernah menampak kan derita, meski sudah puluhan tusukan jarum dideritanya. Hanya saja, ayah pernah jatuh sekali, ketika hendak ke kamar mandi. Aku tak menyaksikan secara langsung, karena saat ayah sakit aku tak bisa menemani beliau, karena aku harus sekolah mengejar impian. Kami terpisah ruang, terpisah oleh jarak yang terbentang luas. Kala itu aku hanya mendengar cerita dari kakak, aku tak yakin dengan cerita itu, aku tak percaya kalau ayah terjatuh ketika hendak ke kamar mandi, bagaimana mungkin bisa ayah ku yang berbadan tegap bisa terkulai layu. Bagaimana mungkin ayah ku yang suka tertawa dan becanda, menderita kesakitan disana. Ah aku tak percaya, karena memang setiap aku bercerita padanya melalui via telpon, tak pernah aku dapatkan ada kesedihan disana, tak pernah aku mendengar ayah mengeluh kesakitan. Ketika di tanyakan kabar saja, beliau selalu mengatakan “papa baik-baik saja, belajar yang rajin yaa..”,  tak pernah ketinggalan canda dan tawa itu, meski dalam suasana yang tak wajar, pikirku.  Yah begitulah ayah, tak ingin orang lain juga merakan deritanya.  (*paa.. semoga Allah menempatimu di tempat terindah di sisi_Nya, semoga engkau di jauhkan dari siksaan kubur, semoga segala amal mu diterima oleh Allah, semoga dosa-dosamu di ampuni oleh Allah paa,, semoga Allah mengumpulkan mu bersama dengan orang-orang yang di cintai_Nya, semoga engkau mendapatkan kebahagian yang jauh lebih bahagia dari kebahagiaan yang pernah engkau dapatkan di bumi ini. aamiin aamiin aamiin ya Robb)


Dan dulu, ketika ibu keguguran, juga berkantong-kantong darah orang lain masuk ke tubuh beliau.  alhasil, setelah itu ibu mengandung lagi, dan lahirkan aku ke dunia. Konon katanya didalam tubuh ku banyak campuran darah orang. Hehe.

Dan kali ini (*bisik ku didalam hati), aku hanya ingin membantu mereka yang juga sedang membutuhkan, seperti ayah dan ibu butuh kan dulu. Tak banyak darah yang diambil dari tubuhku, hanya sekantong. Yah hanya sekantong. Masa hanya sekantong aku tak bisa memberikan. Masa hanya untuk darah sekantong, aku tak bisa menahan sebentar rasa sakit tusukan jarum itu. Yah aku harus bisa, bisa. Sebagaimana mereka dulu bisa menahan rasa sakit ketika menolong ayah dan ibu.

Sepanjang perjalanan, hanya senyum ayah, hanya senyum ibu yang terbayang oleh ku.
Tak lama kemudian, aku akhirnya sampai ke PMI. Ternyata permohonan yang ku bisikkan didalam hati tadi, di kabulkan oleh Allah. Setelah sampai ketujuan, baru hujan turun. Alhamdulillah.

Bergegas aku masuk dengan menggunakan kaki kanan dan tak lupa mengucapkan basmalah. Gugup. Karena baru pertama kali aku ke sini. Baru pertama kali aku akan mendonorkan darah ku. Bingung ketika aku memasuki ruangan itu, setelah bertanya pada salah satu ibu-ibu yang menggunakan seragam yang ada disana, aku duduk mengantri. Menunggu untuk mendaftarkan diri.  Tak lama kemudian, setelah aku mengatakan niat ku datang ke sana kepada salah satu petugas, lalu aku mengisi formulir, mulailah darah ku di cek.

“kletek”, bunyi jarum yang di cetek ke jari kiriku. Spontan darah nya keluar.

“sssstttt….”, suara erang keluar dari mulutku menahan sakit. Sebenarnya tidak lah terlalu sakit, hanya seperti di gigit semut saja, tapi gugup yang aku rasakan seakan menambah rasa sakit itu.
Aku melihat kerja ibu yang berwajah ayu yang ada didepan ku itu.  Banyak yang aku tanya pada beliau, sebanyak rasa gugup ku. Hehe.
“ini untuk apa buk?”, tanyaku.

“oh, ini untuk mengecek trombositnya”,
Aku liat angka yang tertera disana, 13.1 .

“berarti HB saya normal ya buk?”, Tanya ku balik.

“iyaa, bagus.”, jawab beliau sekenanya, karena memang beliau sedang sibuk mengoles-ngoles darahku yang di bagi menjadi tiga bagian di atas kaca. Di tes dengan larutan apa, aku tak menanyakan nya, takut di bilang “nyiyir”, hehe.

Lalu setelah itu aku masuk kedalam ruangan.
Didalam , tensi ku di ukur. Ketika selesai ku tanyakan hasilnya. Dan Alhamdulillah juga normal.

Jadi resmilah aku menjadi pendonor untuk pesakit yang menderita sakit DBD yang bernama Ridho Rabbani.

Hmm, Ternyata didalam ruang juga ada mahasiswa pak budi yang juga ingin mendonorkan darah nya. Seorang perampuan dan seorang lelaki. Yang lelaki aku tak mengenalnya. Dan yang perampuan, aku berkenalan saat itu,  ternyata dia masih junior. Aku mengobrol-ngobrol kecil dengan nya. Ternyata mereka datang tak hanya berdua, tapi ber sepuluh orang. Semuanya bergolongan darah A yang ingin mendonorkan darahnya. Ternyata rezeki tak berpihak  pada mereka yang berdelapan orang lagi. ada yang kekurangan berat badan, ada yang tensinya rendah. Pokoknya yang bisa mendonor hanya dua orang saja.
Berarti aku adalah orang yang beruntung. Karena aku di beri kesempatan untuk menikmati rasa tusukan jarum itu. Hehe.

Gugup, jantung berdetak lebih kencang, ketika aku berbaring di pembaringan.  saat itu petugas hanya satu orang saja, jadi aku menunggu antrian di pembaringan itu. Ruangan ber-AC dan suara tipi membantu mencairkan sedikit suasana galau hatiku. Hihi. Hm, sambil menunggu antrian, ku buka mushaf kecil ku, aku baca-baca ayat yang tertulis disana, mencoba mencari ketenangan hati.  Ku buka mata lebar-lebar, ku buang semua beban agar penglihatan ku sedikit terang. Alhamdulillah, aku berhasil.

Ketika tiba saat nya giliran ku, jantung kembali berdetak kencang.
“Allah.. allah.. allah.. “ hanya itu yang bisa aku ucapkan. Sedang mushaf sudah kututup kembali.

Ku lempar pandangan ke luar, ternyata adik yang menunggu ku diluar juga sedang menikmati bacaan alqurannya. Sudah berapa juz yang dia lahap di luar sana (*gumam hati ku).

Aku siap kan mental terbaik ku. Ibu yang bertugas disana, kesulitan mencari urat nadi ku. Coba tangan kanan, katanya susah. Urat nadi ku tipis sekali.  Coba tangan kiri, Alhamdulillah sedikit lebih baik dari tangan kanan. Alhasil aku pindah tempat. Agar prosesnya lebih mudah.

Setelah urat nadi di dapat, jarum yang ada ditangan beliau mulai mendarat ke urat nadi ku. Aku tak berani melihat. Hanya sakit yang aku rasakan ketika jarum itu berlabuh di tangan ku.

Hoaaaa.. aku mencoba merileks kan diri. Aku lihat, darah mulai mengalir menuju kantong darah yang di sangkutkan di samping pembaringan ku. Ternyata darahnya mengalir pelan.
Hmm, aku menikmati suasana itu. Ternyata tak seburuk yang aku kira.
“pusing?” tanya ibu yang berwajah ayu itu,

“Alhamdulillah, gak buk,, “. Jawabku.
Setelah selesai semuanya. aku keluar dengan hati lega. Alhamdulillah.

Lalu adik yang menamani ku tadi, bertanya
“ kak kita ga ke M.Djamil liat anak bapak?”,

Lalu aku melirik jam tangan ku, sudah pukul 15.35 wib.
“ ga usah lah lagi yaa.. kita pulang saja”. jawab ku.

“Oh iyalah kak, kakak istirahat aja lagi”. katanya.

Bukan istirahat yang aku kejar, tapi mengingat sebentar lagi akan masuk waktu ashar. Akan banyak menghabiskan waktu jika pergi ke sana, apalagi sama-sama tak tau seluk beluk rumah sakit itu. Aku tak ingin ashar terlalaikan.

Lalu, kami pulang. Tangan ku sedikit keram. Tapi dengan kekuatan yang ku harap berasal dari_Nya, memampukan aku untuk menyertir motorku. Tak memungkin kan jika adik ku itu yang membawanya, karena kakinya masih terasa sakit, ia baru saja jatuh dari motor.
Sesampainya di rumah, aku ceritakan pada kakak apa yang telah aku alami.

Berdua kami bernostalgia, mengingat masa-masa saat ayah sedang sakit. Dan air mata pun mulai membasahi kelompak mata kami. Ternyata kami sama-sama sedang merindukan ayah. Ohh ayah..

Aku istirahat, merebahkan tubuh menghilangkan lelah yang aku rasakan.
Spontan aku terasa lemas, badan mulai memanas, apalagi di luar sedang hujan lebat. Tambahlah meriang itu.

Hmm, tapi itu hanya sesaat saja, setelah berbuka, meriang itu hilang. Alhamdulillah.
Setelah aku melakukan aktifitas yang sudah menjadi kebiasaan ku, kira-kira pukul 22.19 wib. Aku mendapatkan sms yang sangat mengejutkan. Tubuhku kembali lemah ketika membacanya,

“Asslm, innalillahiwainnailaihirojiun, telah berpulang ke Rahmatullah anak dari Bpk budi, mari bersama-sama kita mendoakan alm agar di terima di sisi Allah. Aamiin”.

Tubuh ku gemetar, saat itu aku baru saja terbaring hendak tidur, gelisah. Putar kiri, putar kanan. Tetap mataku tak mau tertidur. Kembali aku forward kan sms itu kepada yang lain. saat itu aku terbayang darah ku yang sekantong itu. aku terbayang wajah pak Budi. Yah aku terbayang wajah itu. aku tidak bisa membayangkan wajah sedih beliau, karena memang sulit untuk ku. Aku hanya membayangkan wajah saat beliau mengisi materi di acara-acara yang diadakan di kampus.

Kenapa wajah bapak yang dibayangkan, kenapa tidak wajah anaknya?
Hmm, bagaimana aku bisa membayangkan wajah anak beliau, bertemu saja tidak pernah. Jadi yang terbayang oleh ku hanya wajah bapak.

Sejam aku gelisah, putar kiri, putar kanan. Tetap tak mau tidur. Akhirnya ku hidup kan murotal juz 30 yang ada di handphone. Alhamdulillah, ketika masih surat an-naba’ aku sudah tertidur. pulas.

Keesokan harinya, aku bergegas hendak ke kampus. Dosen ku hari ini sangat disiplin, tak boleh telat. Hari pertama kuliah, aku tak ingin membuat ulah. Alhamdulillah aku tak telat sampai di gedung H.

Dosen ku masuk dengan wajah berseri. Memberikan senyum terbaiknya untuk kami yang sudah menantinya di ruang kelas. hari ini belum mulai belajar, beliau masih memberikan wejengan-wejengan untuk kami yang mengikuti mata kuliahnya.

Banyak cerita motivasi di sana. Kami senang mendengar nasehat beliau,  layaknya nasehat seorang ibu kepada anak. Tetapi, tiba-tiba beliau menceritakan berita duka yang terjadi hari ini. yah cerita duka yang sedang di alami oleh pak budi, cerita duka yang menyimpan banyak pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

Muhammad Ridho rabbani, ternyata satu sekolah dengan anak dosen ku itu. beliau berkisah, bahwa ia adalah anak yang baik, sangat baik . Aku baru tau, ternyata Ridho rabbani masih berumur 15 tahun. Aku baru tau, ridho rabbani anak satu-satunya, aku baru tau kalau dia anak paling pintar nomor satu di sekolahnya, aku baru tau kalau ia menjadi tauladan di sekolahnya, aku baru tau kalau ia di senangi oleh orang banyak, aku baru tau kalau ia menjadi figure yang menenangkan. Aku baru tau ketika mendengar cerita dosen ku..

Hikss. Hatiku merintih, kenapa saat itu aku tidak menjenguk dia saja, walau hanya sebentar. Agar aku tau yang mana ridho rabbani, agar aku tau yang mana figure yang menenangkan itu, agar aku tau yang mana anak yang menjadi tauladan di sekolahnya. Haah,, aku menyesali keputusan ku untuk segera pulang saja ketika usai mendonorkan darah.
Dari cerita yang aku dengar dari dosen ku, terlihat bahwa beliau juga sangat terpukul atas kepergian anak sholeh itu. padahal beliau mengatakan bahwa beliau tidak terlalu mengenalnya, hanya anak beliau saja yang mengenal baik dengan ridho. Tetes air mata ketika menceritakan segala tentang ridho menunjukkan kalau ridho benar-benar anak yang beruntung. Di sayangi oleh banyak orang.

Dosen ku berkisah lagi, bahwa ia benar-benar tidak kuat ketika menjenguk ridho ketika masih sakit. Derita itu terlalu berat untuk anak seusianya.
Dan saat itu, dosen ku mengeluarkan secarik kertas,
Ternyata itu adalah puisi Muhammad Ridho Rabbani berserta fotonya dengan seorang lelaki yang berada di atas kursi roda (*aku hanya melihat foto itu selintas, ku rasa begitulah fotonya).  Aku tak tahan menahan air mata ini ketika membaca puisi itu. 
Dan dosen ku mengartikan nama dari Muhammad Ridho Rabbani.

Muhammad = orang yang menjadi tauladan, beliau bilang biasa kalau anak laki-laki di beri nama ini.
Ridho = ikhlas
Rabbani = Rabb = Tuhan, allah SWT.

Berarti, dengan memberi nama ini, pak budi sudah benar-benar ihklas dengan apa yang akan terjadi pada anaknya, karena anak adalah titipan Tuhan, dan juga akan kembali padanya. Itu yang beliau utarakan, sedang air mata itu masih juga mengalir.
Beliau bilang, orang baik emang cepat di ambil oleh Allah. Dan beliau sangat yakin sekali jika ridho rabbani tempatnya di syurga. Semoga.

Dan Ketika beliau takziah ke rumah pak budi seusai subuh tadi, beliau tak melihat setetespun air mata yang mengalir di wajah bapak dan istri. Betapa tegarnya mereka. Yah begitulah orang-orang yang beriman. Sabar ketika mendapatkan musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Teruntuk ridho rabbani, semoga engkau tenang berada disana.
Meskipun aku tak mengenal mu, tapi aku yakin engkau adalah anak yang baik dan sholeh, dan aku juga yakin kalau allah menempatkan mu di syurga_Nya yang tinggi. Aamiin.
Yahh.. beginilah kisah tentang seorang muhammad ridho rabbani, orang yang tak pernah aku kenal, tetapi hatiku terasa sangat dekat sehingga spontan aku ingin menolongnya. Orang yang tak pernah aku kenal, tapi telah berhasil membuat air mataku terjatuh karena merasa kehilangan, orang yang tak aku kenal tapi aku bisa merasakan keelokan budi dan akhlaknya. Orang yang tak aku kenal, tapi telah memberi banyak pelajaran pada setiap orang yang mau mengambil pelajaran darinya. 


Ada  kata yang masih membayang dalam pikir ku, ucapan dari teman ridho yang di share di dalam facebooknya, yang di sampaikan oleh dosen ku,  “Ridho, jika aku tau salaman kita kemarin itu adalah salaman yang terakhir, aku tak mau melepaskan tangan mu dariku”.
Hua, aku tersentuh ketika mendengarnya.


Begitulah seorang mukmin yang baik,  ia meninggal dengan senyuman, dan orang menangis karena kehilangan.
Ridho telah selamat..
Telah kembali kepangkuan illahi.
Yang aku khawatirkan, bagaimana dengan kondisi ku saat aku meninggal nanti?
Adakah aku akan mati dalam senyuman?
Adakah aku akan mati dalam kesucian?
Adakah orang yang menangis untuk kepergian ku?
Adakah orang yang merasa kehilangan ketika aku tiada?
Sedang, dosa masih melumuri,
sedang luka terkadang masih suka mengoresi hati.
Robb, matikan Aku dalam keadaan Syahid di jalan_Mu.
Matikan aku dalam keadaan husnul khotimah.
Matikan aku dalam keadaan sebaik-baiknya.
Hiasilah kehinaan ku dengan keindahan magfirah_Mu.
Aamiin aamiin aamiin ya Robbalaamin.

(*repost dari catatan terdahulu)

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA