Kala itu di saat siang
yang terik, seperti biasa Ayah selalu menyempatkan diri untuk makan siang
bersama Istri dan Anak tercinta, tak jarang Ayah pulang membawa makanan. Siang itu, Ayah pulang membawa buah
salak. Hatiku senang, kami menyantapnya
sehabis makan siang bersama.
Usai makan, Aku membuka
satu, lalu ku gigit salaknya. Spontan
keningku berkerut, “Paa.. salaknyaa masam..”, kataku pada beliau.
Mendengar itu lalu Ayah berkata, “sini
biar Papa yang makan salaknya..”, dengan lahap beliau memakan buah salak
itu. Lalu Ayah memilihkan satu untuk ku.
“coba yang ini…” kata Beliau sambil
memberi buah salak yang dipilihkan untuk ku. Ketika ku coba “hmmm.. enak Pa..
Enak. Manis. Cobalah Pa.. Cobalah.. Manis”, kataku sambil memaksa Ayah untuk
memakan buah salak itu. “ndak.. ndakk.. kalau enak, makanlah dengan Anak, kalau
tidak enak baru berikan ke Papa, dari pada terbuang, membazir.. “, ujar
Beliau saat itu pada ku. Otak kecil ku (*bca : pikiran anak-anak) tanpa pikir
panjang lagi, langsung melahap buah salak itu, Habis.
Subahanallah, jika di
kenang lagi, Aku selalu tersenyum bangga pada Ayah. Dulu Aku tak mengerti bahwa apa yang beliau
tunjukkan adalah sebuah kebaikan yang dahsyat, namun ternyata seiring
berjalannya waktu, Aku mulai mengerti bahwa Ayah mengajarkan kepada ku untuk
selalu memberi dengan ketulusan, membahagiakan orang-orang yang ada di sekitar
dan hidup dengan penuh kesederhanaan tanpa kesombongan. Ayah.. melaluinya aku
mampu hidup dengan penuh kesabaran, kekuatan dan keyakinan kepada Allah SWT
bahwa hidup ini hanya sebentar saja. Terimakasih Ayah.
0 komentar:
Posting Komentar