Senin, 29 Juli 2013 - 0 komentar

Buah Salak Yang AYAH belikan


Kala itu di saat siang yang terik, seperti biasa Ayah selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama Istri dan Anak tercinta, tak jarang Ayah pulang membawa makanan.  Siang itu, Ayah pulang membawa buah salak.  Hatiku senang, kami menyantapnya sehabis makan siang bersama.

Usai makan, Aku membuka satu, lalu ku gigit salaknya.  Spontan keningku berkerut, “Paa.. salaknyaa masam..”, kataku pada beliau.
Mendengar itu lalu Ayah berkata, “sini biar Papa yang makan salaknya..”, dengan lahap beliau memakan buah salak itu.  Lalu Ayah memilihkan satu untuk ku.

coba yang ini…” kata Beliau sambil memberi buah salak yang dipilihkan untuk ku. Ketika ku coba “hmmm.. enak Pa.. Enak. Manis. Cobalah Pa.. Cobalah.. Manis”, kataku sambil memaksa Ayah untuk memakan buah salak itu. “ndak.. ndakk.. kalau enak, makanlah dengan Anak, kalau tidak enak baru berikan ke Papa, dari pada terbuang, membazir.. “, ujar Beliau saat itu pada ku. Otak kecil ku (*bca : pikiran anak-anak) tanpa pikir panjang lagi, langsung melahap buah salak itu, Habis.

Subahanallah, jika di kenang lagi, Aku selalu tersenyum bangga pada Ayah.  Dulu Aku tak mengerti bahwa apa yang beliau tunjukkan adalah sebuah kebaikan yang dahsyat, namun ternyata seiring berjalannya waktu, Aku mulai mengerti bahwa Ayah mengajarkan kepada ku untuk selalu memberi dengan ketulusan, membahagiakan orang-orang yang ada di sekitar dan hidup dengan penuh kesederhanaan tanpa kesombongan. Ayah.. melaluinya aku mampu hidup dengan penuh kesabaran, kekuatan dan keyakinan kepada Allah SWT bahwa hidup ini hanya sebentar saja. Terimakasih Ayah.

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA