Senin, 29 Juli 2013 - 0 komentar

Di Atas Atap Bersama Ayah


Semilir angin yang menyelusup didedahanan pohon di halaman rumahku, menyapa suasana senja nan sejuk, tenang dan damai.  Warna-warni bunga yang bermekaran dengan wanginya yang menawan, lambaian rerumputan dengan warnanya yang menyejukkan mata, keramahan  burung-burung gereja yang berterbangan di langit jingga dengan awan putih yang berarak, buah jambu yang bergelantungan dengan warna merah yang menggoda, buah mangga dengan wanginya  yang ranum hanya menunggu kapan ia berguguran, buah belimbing yang sedang menunggu kapan ia akan dipetik, dan daun-daun tua yang berguguran tertiup angin membuat aku seperti berada di Syurga yang menjanjikan kebahagiaan abadi.   Aku suka suasana ini. 

Rona senja yang menyala, selalu memberikan pesonanya yang indah dan memperlihatkan betapa Agung lukisan Tuhan.  Lukisan yang memiliki nilai seni yang tak akan terkalahkan oleh seniman manapun, baik itu seniman dunia seperti Leonardo da Vinci, dengan lukisan Monalisanya yang mampu mengguncang dunia, ataupun  Rendra Gunawan, seniman yang terkenal dari Indonesia, yang dengan lukisannya telah mengharumkan nama Bangsa.  Mereka tidak akan sanggup melukis betapa indahnya suasana senja di halaman rumahku.  Suasana yang begitu indah dan diimpikan oleh setiap mereka yang merindukan kedamaian. 
Sore itu, Aku melihat Ayah di atas atap loteng rumah sedang sibuk dengan kerjaannya,  ada tangga di sudut rumah, Aku yakin Ayah ke atas dengan menggunakan tangga itu.

paaaa.….”,  Aku sedikit berteriak memanggil Ayah. Yah, Aku memanggil Ayah ku dengan panggilan Papa. Papa. Papa. Papa. Ah, sudah lama rasanya aku tak memanggil sapaan itu.

oiii…”, jawab Ayah seadanya.

ngapain Papa di atas ?”, tanyaku lagi.

Papa memperbaiki atap loteng yang bocor..”, jawab Ayahku juga dengan sedikit berteriak.

Ami naik keatas ya paaa…”, minta ku padanya. Yah aku memanggil diriku dengan sapaan “Ami”, panggilan ini bermula ketika Aku tak suka menyebut panggilan diri sendiri dengan sapaan Aku, Saya atau sejenisnya. Hmm, melihat Ayah sibuk di atas atap membuat rasa penasaran ku meningkat, Aku ingin melihat apa yang sedang ayah kerjakan.

ndak usahh.. nanti jatuh..”, jawab Ayah lagi.

ee… bisanya paaa..  boleh yaah?”, Aku sedikit memaksa ayah agar mengizinkan ingin ku. Dasar anak keras kepala.

hati-hati yaa.. pegang yang kuat. ”, perintah Ayah mengizinkan ku untuk naik. Akhirnya Ayah luluh juga, yess.. bisik hatiku.

okee bosss…”, teriakku.

Dengan sangat berhati-hati Aku memanjat tangga tersebut. Tangganya sedikit bergoyang.  Kakiku sedikit gemetaran. Jantungku sedikit berdebar.  Tapi rasa penasaranku terhadap apa yang dikerjakan Ayah di atas sana, menutupi rasa takutku.  Walau sedikit.

Hoppp. Akhirnya aku sampai di anak tangga nomor tiga dari atas.  Dengan berdiri di sana Aku sudah bisa melihat Ayah sedang  sibuk bekerja.  Ayah hanya menggunakan singlet, celana borju yang panjangnya selutut, dan kacamata.  Ku lihat peralatan tukang milik Ayah berserakan di sana, ada potongan triplek, gergaji, palu, paku-paku, meteran, pinsil tukang dan sebuah besi yang membentuk sudut 900, aku tak tau apa namanya, mungkin digunakan Ayah sebagai penggaris atau pengukur sudut-sudut agar seimbang. Mungkin.

Aku melihat keringat bercucuran di kening Ayah.

Paaa.. mau Ami ambilkan minum?”, tawarku pada Ayah.

ndak usah nanti jatuh..”, jawab Ayah lagi.

Paaa.. Ami mau naik ke atas, tapi susah melompat..”, rengek ku pada Ayah.

ndeh.. anak ini menganggu Papa sajalah”, kata Ayah sambil mendekat padaku, lalu beliau memengang tanganku untuk melompot naik. Hopp. Akhirnya Aku naik juga.

hufffttt……” Aku melepaskan nafas yang sedikit sesak ketika menaiki anak tangga tadi, dan menikmati udara segar dari atas atap. Huaaa…. Indahnyaaa.

Aku melihat pohon buah-buahan yang ada di halamanku dari dekat. Ternyata jika dilihat dari atas buah-buahan itu cukup menggoda.  Aku serasa terbang di atas awan. Bebas.

Met.. ooo Met… Meeeet… “, teriak Nenek yang tinggal di sebelah rumah memanggil-manggil nama Ayah.  Rumah Aku dan rumah Nenek bersebelahan, hanya dibatasi dengan tembok sedada orang dewasa saja.

yoo Makkk… apoo tuu..??”, jawab Ayahku dari atas atap.
Nenek itu spontan melihat kearah atas, mencari sumber suara.  Ia melihat Ayah ada di atas atap rumah.

boleeh Amak ambek jambu mike neee agak siket ??”, tanya sang Nenek pada Ayahku.

Jambu air yang ada di halaman rumahku cukup lebat dan menggoda.  Dahannya yang rindang memudahkan siapa saja untuk memetiknya.  Posisi pohon jambu ku itu berada di pinggir tembok pembatas antara rumahku dan rumah nenek, jadi dahan-dahan jambu itu bergelantungan sampai ke halaman rumah nenek, memudahkan nenek untuk memetiknya.

iyaa Makk.. ambek lah.. yang disebelah tu memang untuk Amakk”, kata Ayah ku lagi.

Lalu dengan senyum sumringah sang Nenek memetik buah jambu yang berwarna merah menggoda itu.  buahnya yang manis membuat semua orang pasti suka memakannya.

makasih ya Met…”, ucap Nenek setelah selesai memetik beberapa buah jambu dan menggengamnya dengan erat. Lalu beliau kembali masuk ke dalam rumahnya.

Aku yang masih binggung  mendengar jawaban Ayah tadi langsung bertanya,

Paaa.. kok jambu yang ada dibagian sebelah sana untuk nenek tu Paa?”, tanya ku polos.

Lalu dengan senang hati Ayah menjawab, “iyalahh.. tu liat..”, kata Ayah sambil memajukan bibirnya ke depan, menunjuk halaman rumah Nenek. Aku spontan langsung melihat apa yang ditunjuk oleh Ayah.

apa Paaa..?”, tanya ku heran.

itu halaman rumah Nenek berserakan dengan daun-daun jambu dari pohon rumah kita, setiap pagi Nenek menyapu halamannya hanya karena daun-daun itu. masa nenek hanya kebagian sampahnya saja..”, jawab Ayahku ringan.

ooohhh…”, Aku mengangguk-angguk tanda mengerti dengan jawaban ayah.

Aku yang sedang berada di atas atap, dengan mudah menyaksikan semua yang ada di bawah sana. Kulihat lagi halaman rumah Nenek, iya benar, halaman rumah Nenek berserakan dengan daun-daun jambu kering yang berasal dari pohon-pohon rumahku.  Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat daun-daun kering itu berantakan  di mana-mana, Aku melemparkan pandangan ke seluruh halaman rumah Nenek, ternyata di setiap sudut ada daun yang bergeletak, meski hanya satu-satu.   

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA