Semilir angin yang menyelusup
didedahanan pohon di halaman rumahku, menyapa suasana senja nan sejuk, tenang
dan damai. Warna-warni bunga yang
bermekaran dengan wanginya yang menawan, lambaian rerumputan dengan warnanya
yang menyejukkan mata, keramahan
burung-burung gereja yang berterbangan di langit jingga dengan awan
putih yang berarak, buah jambu yang bergelantungan dengan warna merah yang
menggoda, buah mangga dengan wanginya
yang ranum hanya menunggu kapan ia berguguran, buah belimbing yang
sedang menunggu kapan ia akan dipetik, dan daun-daun tua yang berguguran
tertiup angin membuat aku seperti berada di Syurga yang menjanjikan kebahagiaan
abadi. Aku suka suasana ini.
Rona senja yang menyala, selalu
memberikan pesonanya yang indah dan memperlihatkan betapa Agung lukisan
Tuhan. Lukisan yang memiliki nilai seni
yang tak akan terkalahkan oleh seniman manapun, baik itu seniman dunia seperti
Leonardo da Vinci, dengan lukisan Monalisanya yang mampu mengguncang dunia,
ataupun Rendra Gunawan, seniman yang
terkenal dari Indonesia, yang dengan lukisannya telah mengharumkan nama
Bangsa. Mereka tidak akan sanggup
melukis betapa indahnya suasana senja di halaman rumahku. Suasana yang begitu indah dan diimpikan oleh
setiap mereka yang merindukan kedamaian.
Sore itu, Aku melihat Ayah di atas atap
loteng rumah sedang sibuk dengan kerjaannya,
ada tangga di sudut rumah, Aku yakin Ayah ke atas dengan menggunakan
tangga itu.
“paaaa.….”,
Aku sedikit berteriak memanggil Ayah. Yah, Aku memanggil Ayah ku dengan
panggilan Papa. Papa. Papa. Papa. Ah, sudah lama rasanya aku tak memanggil
sapaan itu.
“oiii…”, jawab Ayah seadanya.
“ngapain Papa di atas ?”, tanyaku lagi.
“Papa memperbaiki atap loteng yang bocor..”, jawab Ayahku
juga dengan sedikit berteriak.
“Ami naik keatas ya paaa…”, minta ku padanya. Yah aku
memanggil diriku dengan sapaan “Ami”, panggilan ini bermula ketika Aku tak suka
menyebut panggilan diri sendiri dengan sapaan Aku, Saya atau sejenisnya. Hmm,
melihat Ayah sibuk di atas atap membuat rasa penasaran ku meningkat, Aku ingin
melihat apa yang sedang ayah kerjakan.
“ndak usahh.. nanti jatuh..”, jawab Ayah lagi.
“ee… bisanya paaa..
boleh yaah?”, Aku sedikit memaksa ayah agar mengizinkan ingin ku.
Dasar anak keras kepala.
“hati-hati yaa.. pegang yang kuat. ”, perintah Ayah
mengizinkan ku untuk naik. Akhirnya Ayah luluh juga, yess.. bisik hatiku.
“okee bosss…”, teriakku.
Dengan sangat berhati-hati Aku memanjat tangga tersebut.
Tangganya sedikit bergoyang. Kakiku
sedikit gemetaran. Jantungku sedikit berdebar.
Tapi rasa penasaranku terhadap apa yang dikerjakan Ayah di atas sana,
menutupi rasa takutku. Walau sedikit.
Hoppp. Akhirnya aku sampai di anak tangga nomor tiga dari
atas. Dengan berdiri di sana Aku sudah
bisa melihat Ayah sedang sibuk
bekerja. Ayah hanya menggunakan singlet,
celana borju yang panjangnya selutut, dan kacamata. Ku lihat peralatan tukang milik Ayah
berserakan di sana, ada potongan triplek, gergaji, palu, paku-paku, meteran,
pinsil tukang dan sebuah besi yang membentuk sudut 900, aku tak tau
apa namanya, mungkin digunakan Ayah sebagai penggaris atau pengukur sudut-sudut
agar seimbang. Mungkin.
Aku melihat keringat bercucuran di kening Ayah.
“Paaa.. mau Ami ambilkan minum?”, tawarku pada Ayah.
“ndak usah nanti jatuh..”, jawab Ayah lagi.
“Paaa.. Ami mau naik ke atas, tapi susah melompat..”,
rengek ku pada Ayah.
“ndeh.. anak ini menganggu Papa sajalah”, kata Ayah
sambil mendekat padaku, lalu beliau memengang tanganku untuk melompot naik.
Hopp. Akhirnya Aku naik juga.
“hufffttt……”
Aku melepaskan nafas yang sedikit sesak ketika menaiki anak tangga tadi, dan
menikmati udara segar dari atas atap. Huaaa…. Indahnyaaa.
Aku
melihat pohon buah-buahan yang ada di halamanku dari dekat. Ternyata jika
dilihat dari atas buah-buahan itu cukup menggoda. Aku serasa terbang di atas awan. Bebas.
“Met.. ooo Met… Meeeet… “, teriak Nenek yang tinggal
di sebelah rumah memanggil-manggil nama Ayah.
Rumah Aku dan rumah Nenek bersebelahan, hanya dibatasi dengan tembok
sedada orang dewasa saja.
“yoo Makkk… apoo tuu..??”, jawab Ayahku dari atas
atap.
Nenek itu spontan melihat kearah atas, mencari sumber
suara. Ia melihat Ayah ada di atas atap
rumah.
“boleeh Amak ambek jambu mike neee agak siket ??”,
tanya sang Nenek pada Ayahku.
Jambu air yang ada di halaman rumahku cukup lebat dan
menggoda. Dahannya yang rindang
memudahkan siapa saja untuk memetiknya.
Posisi pohon jambu ku itu berada di pinggir tembok pembatas antara rumahku
dan rumah nenek, jadi dahan-dahan jambu itu bergelantungan sampai ke halaman
rumah nenek, memudahkan nenek untuk memetiknya.
“iyaa Makk.. ambek lah.. yang disebelah tu memang untuk
Amakk”, kata Ayah ku lagi.
Lalu dengan senyum sumringah sang Nenek memetik buah jambu
yang berwarna merah menggoda itu.
buahnya yang manis membuat semua orang pasti suka memakannya.
“makasih ya Met…”, ucap Nenek setelah selesai memetik
beberapa buah jambu dan menggengamnya dengan erat. Lalu beliau kembali masuk ke
dalam rumahnya.
Aku yang masih binggung
mendengar jawaban Ayah tadi langsung bertanya,
“Paaa.. kok jambu yang ada dibagian sebelah sana untuk
nenek tu Paa?”, tanya ku polos.
Lalu dengan senang hati Ayah menjawab, “iyalahh.. tu liat..”,
kata Ayah sambil memajukan bibirnya ke depan, menunjuk halaman rumah Nenek. Aku
spontan langsung melihat apa yang ditunjuk oleh Ayah.
“apa Paaa..?”, tanya ku heran.
“itu halaman rumah Nenek berserakan dengan daun-daun
jambu dari pohon rumah kita, setiap pagi Nenek menyapu halamannya hanya karena
daun-daun itu. masa nenek hanya kebagian sampahnya saja..”, jawab Ayahku
ringan.
“ooohhh…”, Aku mengangguk-angguk tanda mengerti
dengan jawaban ayah.
Aku yang sedang berada di atas atap, dengan mudah
menyaksikan semua yang ada di bawah sana. Kulihat lagi halaman rumah Nenek, iya
benar, halaman rumah Nenek berserakan dengan daun-daun jambu kering yang
berasal dari pohon-pohon rumahku. Angin
yang bertiup sepoi-sepoi membuat daun-daun kering itu berantakan di mana-mana, Aku melemparkan pandangan ke
seluruh halaman rumah Nenek, ternyata di setiap sudut ada daun yang bergeletak,
meski hanya satu-satu.
0 komentar:
Posting Komentar