Dingin,
semilir angin di subuh itu menyelusup masuk melalui pori-pori jendela kamarku.
Jika tidak terpatri niat dihati, Selimut dan kasur yang empuk adalah
godaan terberat untuk bangun melaksanakan ibadah Subuh. Subuh itu,
seperti biasa Aku menunaikan ibadahku, dan seperti biasa, hari ini Aku akan
mengantar Ibu untuk berdagang di pasar yang lumayan jauh dari gang sempit
rumahku.
Udara
yang sejuk di pagi hari berhasil membuat Aku semangat untuk menjalankan
hari-hariku dengan berbagai aktifitas yang sudah menjadi rutinitasku
sehari-hari. Mengantarkan Ibu ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci
baju, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga indah yang bermekaran di halaman
rumahku, dan terkadang juga menemani Ibu berjualan di pasar.
Yah,
semenjak Ayah tiada, Ibu yang menggantikan tugas Ayah untuk mencukupi kebutuhan
keluarga sehari-hari dan Aku yang menggantikan tugas Ibu. Dulu,Ayah adalah
seorang Guru di salah satu sekolah ternama di kotaku, semenjak Ayah tiada,
Alhamdulillah gaji pensiunan Ayah masih kami dapati tiap bulannya, meskipun
sebenarnya itu tak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya
sekolah adik-adikku. Sehingga menyebabkan Ibu harus mencari uang tambahan untuk
mencukupi kebutuhan kami.
Semenjak
Ayah tiada, Ibu menjadi seorang wanita yang perkasa di mataku, berangkat ke pasar
di subuh hari, dan pulang di kala mentari sudah hampir terbenam. Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan
Ibu. Teringat olehku, ketika Ayah masih
ada, sedikitpun Ibu tak pernah bekerja keras di luar, Ibu memang hanya berperan
di rumah membesar dan mendidik kami dengan penuh kasih sayang.
Aku anak
tertua dari ketiga orang adikku, wajar saja bila Ibu selalu berharap banyak
pada ku untuk bisa membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Menyiapkan segala
keperluan sekolah adikku, membuat sarapan pagi untuk mereka dan mengantar adik ku
yang paling kecil ke sekolah.
Sebagai
anak tertua, Aku bisa merasakan beratnya beban yang ditanggung oleh Ibu semenjak
Ayah tiada. Alhamdulillah, kini Aku telah menyelesaikan sekolahku di bangku
SMA, sehingga memudahkan jalanku untuk membantu Ibu. Melanjutkan kuliah
keperguruan tinggi adalah cita-citaku, bukan hanya Aku, tapi juga Ibuku. Ibu
ingin Aku bisa melanjutkan sekolah keperguruan tinggi. Tapi ku pikir,
melanjutkan sekolah di tahun ini bukan waktu yang tepat, karena Aku harus membantu
Ibu terlebih dahulu untuk meringankan biaya sekolah. Sebenarnya jika Aku mau, Aku
bisa menggunakan kesempatan beasiswa yang ditawarkan sekolah untuk ku. Tapi
kesempatan itu tak ku gunakan karena Aku mau menemani Ibu terlebih dahulu. Ibu masih canggung, yah, ku pikir seperti
itu. Ayah yang baru meninggal sekitar 6 bulan yang lalu, masih menyisakan kesedihan
yang mendalam di hati Ibu. Ibu juga baru akan memulai mencoba kehidupan baru
tanpa Ayah di sampingnya. Sehingga, ku pikir, dengan adanya Aku di samping Ibu
bisa sedikit meringankan beban yang Ibu rasakan.
Aku memiliki
tiga orang adik yang sangat baik dan penurut. Alhamdulillah Allah menganugrahi
Aku adik-adik yang baik, sehingga sedikit meringankan beban ibu ku. Adik ku yang
pertama bernama Doni, Ia masih duduk di bangku SMA kelas 2. Doni anak yang
rajin dan sholeh. Semenjak Ayah tiada, di kala senja tiba, Ia rajin pergi ke mesjid
untuk menunaikan Ibadah magrib, tidak hanya itu, ketika azan subuh berkumandang
pun Ia selalu bergegas untuk berangkat ke mesjid menunaikan ibadah subuh. Tak
jarang, Doni adik ku yang mengumandangkan azan di mesjid di kala subuh tiba. Aku bangga terhadapnya, tak hanya itu, prestasinya
di sekolah juga bisa dikatakan gemilang.
Meskpipun juara umum tak dapat diraihnya, tapi memenangkan olympiade
fisika periode tahun lalu untuk tingkat provinsi dapat digapainya. Yah, adik ku yang satu ini memang jago
fisika, hanya fisika, tidak yang lainnya, sehingga untuk memperolah juara umum
memang sulit untuk diraihnya. Bagiku tak
mengapa, asal adik ku ini berprestasi pada sesuatu yang ia sukai.
Adik ku yang
kedua bernama Nisa. Nisa sekarang duduk dibangku SMP kelas 3. Meskipun Nisa tak
sepintar Doni, tetapi jika libur sekolah ia sangat rajin membantuku
menyelesaikan pekerjaan rumah. Nisa anak yang baik dan sholehah, tak jarang Ia
yang membanggunkan ku di kala subuh tiba untuk menunaikan ibadah subuh. Yah, Nisa
selalu bangun lebih dahulu di kala tubuhku sudah terlalu lelah menjalani
aktifitas sehari-hariku. Aku sayang padanya, hanya saja terkadang Nisa lebih
banyak menuntut dari pada kedua orang adikku yang lain. Yah, ku pikir ini wajar
saja, Nisa yang masih labil dan baru akan menginjak dewasa perlu di berikan
perhatian lebih. Dan perhatian itu selalu ku berikan padanya, meskipun
seharusnya perhatian itu Ia dapatkan dari Ibu, tapi kondisi Ibu yang sibuk
mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan kami, sehingga peran itu sedikit dialihkan
pada ku, meskipun Ibu juga sebenarnya masih selalu memperhatikan kami semua
anak-anaknya.
Adik ku
yang terakhir bernama Airin, biasa ku panggil Ia dengan panggilan Ai. Ai masih duduk di bangku kanak-kanak. Ai anak
yang sangat riang dan ceria. Setiap hari selalu bergembira, meskipun dalam
keadaan yang sulit. Ai yang masih kecil tak mengerti dengan semua itu. Ai lah
yang selalu menjadi penawar rasa gundah di hatiku. Tiap hari Aku mengantar Ai
ke sekolah, Sekolah Ai agak jauh dari rumah, sehingga di saat kedua adikku
sudah berangkat sekolah, Aku yang mengantarkan Ai ke sekolah naik motor milik
Ayah. Yah, Aku bersyukur, di dalam kondisi kami yang sempit, Allah masih
mengizinkan kami untuk memiliki sepada motor, sehingga memudahkan langkah ku
untuk bergerak ke sana-ke mari. Motor itu adalah motor peninggalan Ayah, motor
yang nyaris terjual untuk biaya perobatan Ayah dulunya. Alhamdulillah motor itu
tidak jadi dijual karena ada bantuan dana dari keluarga Ayah untuk berobat.
Pagi itu
seperti biasa, terlebih dahulu aku mengantar Ibu ke pasar. Jarak dari rumah ke
pasar cukup jauh, jika naik angkot harus menempuh perjalanan dua kali jalur
angkot. Sehingga, untuk menghemat biaya Aku mengantar Ibu ke pasar untuk
berdagang. Di pasar, Ibu hanya pedagang kaki lima. Yah,Ibu bukan seorang
pedangang yang kaya raya yang memiliki toko-toko besar seperti pedagang
lainnya. Ibu hanya pedagang pecah belah yang berada di pingiran warung seorang
toke beras di pasar itu. Alhamdulillah Sang toke adalah orang yang baik hati, sehingga
semua barang-barang dagangan Ibu yang jumlahnya tak banyak, bisa diletakkan
disana ketika Ibu hendak pulang ke rumah. Sehingga untuk berjualan esok
harinya, Ibu tak perlu susah-susah membawa barang dari rumah ke pasar, tinggal
mengambilnya dari warung Sang toke penjual beras. Alhamdulillah, Aku sangat
mensyukuri hal ini, Allah masih memudahkan jalan Ibu untuk mencari rezeki.
“sudah
siap Ta??”, Tanya Ibu kepadaku. Aku yang
memiliki nama lengkap Alisyta Al-khalisah. Nama yang bagus. Ibu dan Ayah
memberikan nama itu kepada bayi mungil yang lahir 17 tahun yang silam. Kini
bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang dewasa dalam pemikirannya. Ya
ku pikir seperti itu. Aku biasa dipanggil Alis oleh teman-temanku, tetapi tidak
oleh Ayah,Ibu dan adik-adikku. Mereka lebih senang memanggilku dengan panggilan
“Ta”, dan panggilan itu lebih sering didouble oleh mereka, sehingga menjadi
“Tata”. Yah,Tata adalah panggilan sayang mereka padaku. Dan Aku suka dengan
panggilan itu.
“sudah Bu,
tapi tunggu sebentar ya Bu, hangatin motor dulu, biar nanti jalannya ga
mandet..”, jawabku pada Ibu. Maklum motor sepeninggalan Ayah sudah agak tua,
sehingga mesinnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan, jika
tidak bisa macet dan terhenti sendiri di tengah jalan.
“oo
iya..cepat ya, Ibu tunggu di luar”, terdengar suara Ibu sambil berlalu dariku.
“ok Bu.”,
jawabku.
Memang
selalu seperti itu, Ibu selalu lebih dahulu selesai dariku, sehingga untuk menungguku
memanaskan mesin motor, Ibu berjalan-jalan kecil di sepanjang Gang sempit itu,
udara segar di subuh hari bisa membantu menyegarkan tubuh dan pikiran. Sehingga
setelah motor ku dirasa cukup untuk dipanaskan, Aku menyusul Ibu dan
mengantarkan beliau ke pasar.
“yukk..Bu
naik”, ajakku pada beliau,
Ibu
langsung menaiki motor yang ku kendarai. Dan tak lupa beliau selalu mengucapkan
bismillah ketika hendak menaikinya.
Di dalam
perjalanan Ibu selalu meninggalkan pesan-pesan apa saja yang akan ku kerjakan
nantinya ketika telah selesai mengantar Ibu ke pasar.
“Ta..tadi
Ibu sudah buat bubur untuk sarapan pagi, nanti bilangin ma adik-adik makan dulu
sebelum berangkat sekolah ya..”, terdengar suara Ibu dari belakang punggungku,
“iya Bu..”,jawabku.
Begitulah
Ibu, terkadang di subuh buta, sebelum Aku dan adik-adik terjaga, beliau sudah
memasakkan sarapan untuk kami anak-anaknya, beliau selalu memikirkan kami,
sedangkan beliau jarang memikirkan diri sendiri.
“Ibu
sudah makan??”, tanyaku balik pada beliau.
“belum..tapi
Ibu ada bawa sarapannya, nanti agak siangan saja Ibu makan di pasar”, jawab ibu
lagi.
Yah,
terkadang Ibu juga selalu menyempatkan membawa bekal ke pasar. Terkadang jika Ibu
tidak sempat membawanya di subuh hari, Aku yang mengantarkan makanan ke pasar
untuk beliau di siangn harinya.
“Ta.. Ibu
kemarin sudah belanja ke pasar, ada sayur, ada ikan juga di kulkas, nanti tolong
dimasakin ya.. ikannya sudah Ibu bersihkan”, pesan Ibuku lainnya.
“sip.. Bu,
bagusnya ikannya diapakan bu, digoreng atau digulai?”, tanyaku balik,
“digoreng
juga tidak apa-apa, terserah Tata aja, yang penting adik-adik nanti sepulang
sekolah makan nasi”, jawab beliau.
“sip Bu.”.
jawabku.
Begitulah
percakapan yang selalu terjadi ketika Aku mengantar ibu ke pasar. Ibu selalu
meninggalkan pesan-pesannya untuk ku. Ibu selalu mengkhawatirkan kami.
Beberapa
menit kemudian, aku dan ibu sampai ditempat tujuan.
Ibu
langsung turun dari motor dan Aku langsung memarkirkan motorku di depan warung
Pak Toke. Begitu Aku memanggil toke yang baik hati itu, sebagai hormat ku
padanya, sapaan “Pak” ku tambah ketika Aku menyapanya. Pernah Ia tertawa ketika
ku sapa dengan panggilan itu, beliau bilang cukup panggil Toke saja seperti
orang-orang yang lain. Tapi Aku hanya tersenyum, dan lidahku tak bisa memanggil
beliau hanya dengan panggilan Toke. Sehingga Aku terbiasa memanggil beliau
dengan sapaan “Pak Toke”. Bapak itupun akhirnya terbiasa dengan sapaanku.
Aku
membantu Ibu mengangkat barang-barang dagangan yang akan dibentangkan di pinggir
warung itu.
Entahlah,
setiap Aku membantu beliau untuk menyiapkan membentang barang-barang itu, hati ku
selalu rasanya ingin menangis dan teriak sekencang-kencangnya. Tak tega melihat
Ibu harus seperti ini, berjualan di pinggir warung, tanpa atap dan tempat yang
layak. Hanya tikar kecil yang dibentangkan di sudut teras warung besar itu. Tapi
sedih ku tak pernah Aku lihatkan pada Ibu, Aku tak mau Ibu ikut sedih karenaku.
Aku selalu menampakkan raut wajah senang dan bersemangat di hadapan beliau.
Padahal Aku tau, Ibu juga pasti merasakan apa yang Aku rasakan.
Setelah
semua selesai, dan ku rasa aman jika ku tinggalkan Ibu di sana seorang diri, Aku
pulang dan mengerjakan pekerjaanku yang lain.
“Ta..
udah selesai, Tata pulanglah lagi, jangan lupa pesan Ibu yang tadi ya,,”, Ibuku
menyuruhku pulang dan mengingatkan ku akan seuntai pesan yang telah beliau
sampaikan padaku.
“iya Bu..
Ta pulang dulu ya bu, Assalamualaikum”,
Tak lupa
ku ciumi tangan Ibu ketika Aku hendak pulang, ku rasakan kehangatan yang
mengalir dari tangan yang mulai kasar itu.
“wa’alaikum
salam,hati-hati ya..”, pesan Ibu kepadaku.
Aku
langsung mengambil motorku dan pulang ke rumah, tak jarang Aku menangis di dalam
perjalanan ketika hendak pulang ke rumah. Menuahkan segala gundah yang terasa
di dalam hati. Aku sungguh tak tega melihat Ibu seperti itu, apalagi jika sudah
hujan, Ibu pasti akan kehujanan dan sibuk sendirian mengetepikan barang-barang
dagangan agar tak terkena hujan.
Selalu
hatiku merintiih,
“Ayah… hidup
ini terlalu berat setelah engkau tiada”, suara batinku berbisik.
Benar,
setelah Ayah tiada, semua ditumpahkan pada Ibu.
Semua peran itu diambil alih oleh Ibu, tetapi Aku tak pernah melihat Ibu
mengeluh sedikitpun. Ibu selalu tersenyum dalam hari-harinya, hanya saja
sesekali ketika hendak tidur, Aku pernah mendengar Ibu menangis tersedu-sedu di
dalam kamar seorang diri. Saat itu Aku
tak ingin menganggu Ibu, ku biarkan Ibu menangis, ku biarkan Ibu mencurahkan
segala isi hatinya. Walaupun terkadang ingin rasanya diriku memeluk Ibu dan
berada di sampingnya. Tapi hal itu tak pernah ku lakukan. Aku tak ingin Ibu
menilai dirinya lemah di mataku. ku biarkan beliau menumpahkan segalanya dengan
menangis. Aku tau, hanya dengan menangis
segala rasa di hati sedikit berkurang. Yah Aku tau, Ibu selalu menangis jika
beliau rindu pada Ayah, tapi Ibu selalu tidak tau, kalau Aku tau beliau sedang
menangis.
Tak
jarang, di sudut rumah yang lain, jika sudah melihat Ibu menangis, Aku
mengasingkan diri dari adik-adik ku untuk ikut menangis, yah,,beginilah Aku.
Mungkin Aku lebih sering menangis jika dibandingkan dengan Ibu. Terkadang
batinku juga berontak pada Tuhan, kenapa begini, kenapa begitu. Selalu
pertanyaan itu ku lontarkan pada_Nya. Tapi Tuhan tak pernah marah padaku, Ia selalu
memudahkan jalan Aku dan Ibu dalam menjalani hidup ini. Ia selalu mengulurkan
tangan_Nya ketika kami butuh pertolongan. Meskipun cobaan itu terlalu berat, tapi Ia tak
pernah meninggalkan Aku dan Ibu begitu saja. Ia selalu ada untuk Aku dan Ibu.
Terima kasih ya robb.
Bersambung..
0 komentar:
Posting Komentar