Senin, 29 Juli 2013 - 0 komentar

Untaian Perjuangan IBU..


Dingin, semilir angin di subuh itu menyelusup masuk melalui pori-pori jendela kamarku. Jika tidak terpatri niat dihati, Selimut dan kasur yang empuk adalah godaan  terberat untuk bangun melaksanakan ibadah Subuh. Subuh itu, seperti biasa Aku menunaikan ibadahku, dan seperti biasa, hari ini Aku akan mengantar Ibu untuk berdagang di pasar yang lumayan jauh dari gang sempit rumahku.

Udara yang sejuk di pagi hari berhasil membuat Aku semangat untuk menjalankan hari-hariku dengan berbagai aktifitas yang sudah menjadi rutinitasku sehari-hari. Mengantarkan Ibu ke pasar, memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga indah yang bermekaran di halaman rumahku, dan terkadang juga menemani Ibu berjualan di pasar.

Yah, semenjak Ayah tiada, Ibu yang menggantikan tugas Ayah untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari dan Aku yang menggantikan tugas Ibu. Dulu,Ayah adalah seorang Guru di salah satu sekolah ternama di kotaku, semenjak Ayah tiada, Alhamdulillah gaji pensiunan Ayah masih kami dapati tiap bulannya, meskipun sebenarnya itu tak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah adik-adikku. Sehingga menyebabkan Ibu harus mencari uang tambahan untuk mencukupi kebutuhan kami.

Semenjak Ayah tiada, Ibu menjadi seorang wanita yang perkasa di mataku, berangkat ke pasar di subuh hari, dan pulang di kala mentari sudah hampir terbenam.  Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan Ibu.  Teringat olehku, ketika Ayah masih ada, sedikitpun Ibu tak pernah bekerja keras di luar, Ibu memang hanya berperan di rumah membesar dan mendidik kami dengan penuh kasih sayang.

Aku anak tertua dari ketiga orang adikku, wajar saja bila Ibu selalu berharap banyak pada ku untuk bisa membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Menyiapkan segala keperluan sekolah adikku, membuat sarapan pagi untuk mereka dan mengantar adik ku yang paling kecil ke sekolah.

Sebagai anak tertua, Aku bisa merasakan beratnya beban yang ditanggung oleh Ibu semenjak Ayah tiada. Alhamdulillah, kini Aku telah menyelesaikan sekolahku di bangku SMA, sehingga memudahkan jalanku untuk membantu Ibu. Melanjutkan kuliah keperguruan tinggi adalah cita-citaku, bukan hanya Aku, tapi juga Ibuku. Ibu ingin Aku bisa melanjutkan sekolah keperguruan tinggi. Tapi ku pikir, melanjutkan sekolah di tahun ini bukan waktu yang tepat, karena Aku harus membantu Ibu terlebih dahulu untuk meringankan biaya sekolah. Sebenarnya jika Aku mau, Aku bisa menggunakan kesempatan beasiswa yang ditawarkan sekolah untuk ku. Tapi kesempatan itu tak ku gunakan karena Aku mau menemani Ibu terlebih dahulu.  Ibu masih canggung, yah, ku pikir seperti itu. Ayah yang baru meninggal sekitar 6 bulan yang lalu, masih menyisakan kesedihan yang mendalam di hati Ibu. Ibu juga baru akan memulai mencoba kehidupan baru tanpa Ayah di sampingnya. Sehingga, ku pikir, dengan adanya Aku di samping Ibu bisa sedikit meringankan beban yang Ibu rasakan.


Aku memiliki tiga orang adik yang sangat baik dan penurut. Alhamdulillah Allah menganugrahi Aku adik-adik yang baik, sehingga sedikit meringankan beban ibu ku. Adik ku yang pertama bernama Doni, Ia masih duduk di bangku SMA kelas 2. Doni anak yang rajin dan sholeh. Semenjak Ayah tiada, di kala senja tiba, Ia rajin pergi ke mesjid untuk menunaikan Ibadah magrib, tidak hanya itu, ketika azan subuh berkumandang pun Ia selalu bergegas untuk berangkat ke mesjid menunaikan ibadah subuh. Tak jarang, Doni adik ku yang mengumandangkan azan di mesjid di kala subuh tiba.  Aku bangga terhadapnya, tak hanya itu, prestasinya di sekolah juga bisa dikatakan gemilang.  Meskpipun juara umum tak dapat diraihnya, tapi memenangkan olympiade fisika periode tahun lalu untuk tingkat provinsi dapat digapainya.  Yah, adik ku yang satu ini memang jago fisika, hanya fisika, tidak yang lainnya, sehingga untuk memperolah juara umum memang sulit untuk diraihnya.  Bagiku tak mengapa, asal adik ku ini berprestasi pada sesuatu yang ia sukai.


Adik ku yang kedua bernama Nisa. Nisa sekarang duduk dibangku SMP kelas 3. Meskipun Nisa tak sepintar Doni, tetapi jika libur sekolah ia sangat rajin membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Nisa anak yang baik dan sholehah, tak jarang Ia yang membanggunkan ku di kala subuh tiba untuk menunaikan ibadah subuh. Yah, Nisa selalu bangun lebih dahulu di kala tubuhku sudah terlalu lelah menjalani aktifitas sehari-hariku. Aku sayang padanya, hanya saja terkadang Nisa lebih banyak menuntut dari pada kedua orang adikku yang lain. Yah, ku pikir ini wajar saja, Nisa yang masih labil dan baru akan menginjak dewasa perlu di berikan perhatian lebih. Dan perhatian itu selalu ku berikan padanya, meskipun seharusnya perhatian itu Ia dapatkan dari Ibu, tapi kondisi Ibu yang sibuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan kami, sehingga peran itu sedikit dialihkan pada ku, meskipun Ibu juga sebenarnya masih selalu memperhatikan kami semua anak-anaknya.


Adik ku yang terakhir bernama Airin, biasa ku panggil Ia dengan panggilan Ai.  Ai masih duduk di bangku kanak-kanak. Ai anak yang sangat riang dan ceria. Setiap hari selalu bergembira, meskipun dalam keadaan yang sulit. Ai yang masih kecil tak mengerti dengan semua itu. Ai lah yang selalu menjadi penawar rasa gundah di hatiku. Tiap hari Aku mengantar Ai ke sekolah, Sekolah Ai agak jauh dari rumah, sehingga di saat kedua adikku sudah berangkat sekolah, Aku yang mengantarkan Ai ke sekolah naik motor milik Ayah. Yah, Aku bersyukur, di dalam kondisi kami yang sempit, Allah masih mengizinkan kami untuk memiliki sepada motor, sehingga memudahkan langkah ku untuk bergerak ke sana-ke mari. Motor itu adalah motor peninggalan Ayah, motor yang nyaris terjual untuk biaya perobatan Ayah dulunya. Alhamdulillah motor itu tidak jadi dijual karena ada bantuan dana dari keluarga Ayah untuk berobat.


Pagi itu seperti biasa, terlebih dahulu aku mengantar Ibu ke pasar. Jarak dari rumah ke pasar cukup jauh, jika naik angkot harus menempuh perjalanan dua kali jalur angkot. Sehingga, untuk menghemat biaya Aku mengantar Ibu ke pasar untuk berdagang. Di pasar, Ibu hanya pedagang kaki lima. Yah,Ibu bukan seorang pedangang yang kaya raya yang memiliki toko-toko besar seperti pedagang lainnya. Ibu hanya pedagang pecah belah yang berada di pingiran warung seorang toke beras di pasar itu. Alhamdulillah Sang toke adalah orang yang baik hati, sehingga semua barang-barang dagangan Ibu yang jumlahnya tak banyak, bisa diletakkan disana ketika Ibu hendak pulang ke rumah. Sehingga untuk berjualan esok harinya, Ibu tak perlu susah-susah membawa barang dari rumah ke pasar, tinggal mengambilnya dari warung Sang toke penjual beras. Alhamdulillah, Aku sangat mensyukuri hal ini, Allah masih memudahkan jalan Ibu untuk mencari rezeki.

“sudah siap Ta??”, Tanya Ibu kepadaku.  Aku yang memiliki nama lengkap Alisyta Al-khalisah. Nama yang bagus. Ibu dan Ayah memberikan nama itu kepada bayi mungil yang lahir 17 tahun yang silam. Kini bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang dewasa dalam pemikirannya. Ya ku pikir seperti itu. Aku biasa dipanggil Alis oleh teman-temanku, tetapi tidak oleh Ayah,Ibu dan adik-adikku. Mereka lebih senang memanggilku dengan panggilan “Ta”, dan panggilan itu lebih sering didouble oleh mereka, sehingga menjadi “Tata”. Yah,Tata adalah panggilan sayang mereka padaku. Dan Aku suka dengan panggilan itu.

“sudah Bu, tapi tunggu sebentar ya Bu, hangatin motor dulu, biar nanti jalannya ga mandet..”, jawabku pada Ibu. Maklum motor sepeninggalan Ayah sudah agak tua, sehingga mesinnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan, jika tidak bisa macet dan terhenti sendiri di tengah jalan.

“oo iya..cepat ya, Ibu tunggu di luar”, terdengar suara Ibu sambil berlalu dariku.

“ok Bu.”, jawabku.

Memang selalu seperti itu, Ibu selalu lebih dahulu selesai dariku, sehingga untuk menungguku memanaskan mesin motor, Ibu berjalan-jalan kecil di sepanjang Gang sempit itu, udara segar di subuh hari bisa membantu menyegarkan tubuh dan pikiran. Sehingga setelah motor ku dirasa cukup untuk dipanaskan, Aku menyusul Ibu dan mengantarkan beliau ke pasar.

“yukk..Bu naik”, ajakku pada beliau,

Ibu langsung menaiki motor yang ku kendarai. Dan tak lupa beliau selalu mengucapkan bismillah ketika hendak menaikinya.

Di dalam perjalanan Ibu selalu meninggalkan pesan-pesan apa saja yang akan ku kerjakan nantinya ketika telah selesai mengantar Ibu ke pasar.

“Ta..tadi Ibu sudah buat bubur untuk sarapan pagi, nanti bilangin ma adik-adik makan dulu sebelum berangkat sekolah ya..”, terdengar suara Ibu dari belakang punggungku,

“iya Bu..”,jawabku.

Begitulah Ibu, terkadang di subuh buta, sebelum Aku dan adik-adik terjaga, beliau sudah memasakkan sarapan untuk kami anak-anaknya, beliau selalu memikirkan kami, sedangkan beliau jarang memikirkan diri sendiri.

“Ibu sudah makan??”, tanyaku balik pada beliau.

“belum..tapi Ibu ada bawa sarapannya, nanti agak siangan saja Ibu makan di pasar”, jawab ibu lagi.

Yah, terkadang Ibu juga selalu menyempatkan membawa bekal ke pasar. Terkadang jika Ibu tidak sempat membawanya di subuh hari, Aku yang mengantarkan makanan ke pasar untuk beliau di siangn harinya.

“Ta.. Ibu kemarin sudah belanja ke pasar, ada sayur, ada ikan juga di kulkas, nanti tolong dimasakin ya.. ikannya sudah Ibu bersihkan”, pesan Ibuku lainnya.

“sip.. Bu, bagusnya ikannya diapakan bu, digoreng atau digulai?”, tanyaku balik,

“digoreng juga tidak apa-apa, terserah Tata aja, yang penting adik-adik nanti sepulang sekolah makan nasi”, jawab beliau.

“sip Bu.”. jawabku.

Begitulah percakapan yang selalu terjadi ketika Aku mengantar ibu ke pasar. Ibu selalu meninggalkan pesan-pesannya untuk ku. Ibu selalu mengkhawatirkan kami.
Beberapa menit kemudian, aku dan ibu sampai ditempat tujuan.

Ibu langsung turun dari motor dan Aku langsung memarkirkan motorku di depan warung Pak Toke. Begitu Aku memanggil toke yang baik hati itu, sebagai hormat ku padanya, sapaan “Pak” ku tambah ketika Aku menyapanya. Pernah Ia tertawa ketika ku sapa dengan panggilan itu, beliau bilang cukup panggil Toke saja seperti orang-orang yang lain. Tapi Aku hanya tersenyum, dan lidahku tak bisa memanggil beliau hanya dengan panggilan Toke. Sehingga Aku terbiasa memanggil beliau dengan sapaan “Pak Toke”. Bapak itupun akhirnya terbiasa dengan sapaanku.


Aku membantu Ibu mengangkat barang-barang dagangan yang akan dibentangkan di pinggir warung itu.
Entahlah, setiap Aku membantu beliau untuk menyiapkan membentang barang-barang itu, hati ku selalu rasanya ingin menangis dan teriak sekencang-kencangnya. Tak tega melihat Ibu harus seperti ini, berjualan di pinggir warung, tanpa atap dan tempat yang layak. Hanya tikar kecil yang dibentangkan di sudut teras warung besar itu. Tapi sedih ku tak pernah Aku lihatkan pada Ibu, Aku tak mau Ibu ikut sedih karenaku. Aku selalu menampakkan raut wajah senang dan bersemangat di hadapan beliau. Padahal Aku tau, Ibu juga pasti merasakan apa yang Aku rasakan.


Setelah semua selesai, dan ku rasa aman jika ku tinggalkan Ibu di sana seorang diri, Aku pulang dan mengerjakan pekerjaanku yang lain.

“Ta.. udah selesai, Tata pulanglah lagi, jangan lupa pesan Ibu yang tadi ya,,”, Ibuku menyuruhku pulang dan mengingatkan ku akan seuntai pesan yang telah beliau sampaikan padaku.

“iya Bu.. Ta pulang dulu ya bu, Assalamualaikum”,

Tak lupa ku ciumi tangan Ibu ketika Aku hendak pulang, ku rasakan kehangatan yang mengalir dari tangan yang mulai kasar itu.

“wa’alaikum salam,hati-hati ya..”, pesan Ibu kepadaku.

Aku langsung mengambil motorku dan pulang ke rumah, tak jarang Aku menangis di dalam perjalanan ketika hendak pulang ke rumah. Menuahkan segala gundah yang terasa di dalam hati. Aku sungguh tak tega melihat Ibu seperti itu, apalagi jika sudah hujan, Ibu pasti akan kehujanan dan sibuk sendirian mengetepikan barang-barang dagangan agar tak terkena hujan.

Selalu hatiku merintiih,

“Ayah… hidup ini terlalu berat setelah engkau tiada”, suara batinku berbisik.

Benar, setelah Ayah tiada, semua ditumpahkan pada Ibu.  Semua peran itu diambil alih oleh Ibu, tetapi Aku tak pernah melihat Ibu mengeluh sedikitpun. Ibu selalu tersenyum dalam hari-harinya, hanya saja sesekali ketika hendak tidur, Aku pernah mendengar Ibu menangis tersedu-sedu di dalam kamar seorang diri.  Saat itu Aku tak ingin menganggu Ibu, ku biarkan Ibu menangis, ku biarkan Ibu mencurahkan segala isi hatinya. Walaupun terkadang ingin rasanya diriku memeluk Ibu dan berada di sampingnya. Tapi hal itu tak pernah ku lakukan. Aku tak ingin Ibu menilai dirinya lemah di mataku. ku biarkan beliau menumpahkan segalanya dengan menangis.  Aku tau, hanya dengan menangis segala rasa di hati sedikit berkurang. Yah Aku tau, Ibu selalu menangis jika beliau rindu pada Ayah, tapi Ibu selalu tidak tau, kalau Aku tau beliau sedang menangis.


Tak jarang, di sudut rumah yang lain, jika sudah melihat Ibu menangis, Aku mengasingkan diri dari adik-adik ku untuk ikut menangis, yah,,beginilah Aku. Mungkin Aku lebih sering menangis jika dibandingkan dengan Ibu. Terkadang batinku juga berontak pada Tuhan, kenapa begini, kenapa begitu. Selalu pertanyaan itu ku lontarkan pada_Nya. Tapi Tuhan tak pernah marah padaku, Ia selalu memudahkan jalan Aku dan Ibu dalam menjalani hidup ini. Ia selalu mengulurkan tangan_Nya ketika kami butuh pertolongan.  Meskipun cobaan itu terlalu berat, tapi Ia tak pernah meninggalkan Aku dan Ibu begitu saja. Ia selalu ada untuk Aku dan Ibu. Terima kasih ya robb.

Bersambung..

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA