Hampir
satu bulan Aku meninggalkan kebiasaanku yang suka menulis, ntah itu menulis di
diary, ntah itu menulis di jendela word laptap ku ini, ntah itu di
kertas-kertas yang tak penting walau hanya sekedar oret-oret. Hhm Sudah lama
rasanya. Malam ini Aku mencoba menulis lagi, hmm canggung juga rasanya, Seperti
banyak kehilangan kata. Tapi tak mengapa, aku akan mencoba memulainya lagi.
Malam
yang sunyi, hembusan angin malam yang sejuk masuk melintasi jendela besi
kamarku, dengan lembut ia menerpa wajahku. Aku suka suasana ini. Selepas
sholat Isya di ruang yang sederhana ini, di bawah cahaya lampu yang cukup
menerangi, Aku teringat akan peristiwa yang pernah ku alami sekitar tiga bulan
yang lalu. Kisah yang tak akan pernah terlupakan untuk ku. Hhmm, kisah yang
menyimpan banyak rasa. Seperti nano-nano.. hihi..
Huuaaaa..
Aku bingung mau mulai dari mana yah,,
Aku
tinggal di sebuah rumah sederhana yang penuh cinta yang berisikan 13 orang
kepala dengan karakter yang berbeda-beda, dengan asal kampung yang berbeda-beda,
dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda. Mulai dari yang sangat lembut, baik,
perhatian, penyanyang sampai pada yang keras kepala, cuek dan egois. Semua ada
di sana. Hmm, Aku hanya bisa tersenyum bila mengingatnya.
Disana,
Aku menemukan banyak ilmu dan pelajaran yang tentunya tidak Aku temukan di
bangku kuliah. Dengan ditemani banyak karakter yang berbeda, memberikan
pelajaran pada ku untuk bisa saling memahami, saling menyanyangi, saling
mengerti. Di sana Aku menemukan persaudaraan yang begitu tulus, saling
mengingatkan dalam hal kebaikan, saling memberi dan melengkapi. Di sana Aku
menemukan ukhuwah nan indah. Aku tersenyum jika mengingatnya. Di sana Aku
belajar melakukan hal-hal kecil yang belum pernah atau jarang ku lakukan
sebelumnya. Dari membersihkan kompor, mencabut sumbu kompor yang sangat sasuh,
hihi.. sampai menghapal al-qur’an bersama. Yah semua kut emukan di sana.
Tertawa becanda mengisi hari-hari, seakan tak ada yang lebih membahagiakan
selain pulang ke rumah dan bercengkrama dengan saudari-saudariku. Semua terasa
indah. Jika Aku menceritakan keindahan hidupku, maka tak cukup lembar untuk
menceritakannya, tak cukup kata untuk mengungkapkannya, karena memang semua
hanya akan terasa lebih terasa indah jika ikut melaluinya bersamaku. Hihi.
Namun Aku tidak menapikkan, di samping kebahagiaaaaann yang ku dapat bersama
saudariku, Aku juga pernah mengalami satu peristiwa yang cukup menganggu
ketenangan hatiku dan menguji kesabaranku (*Yah,, hihi.. namanya juga hidup.
Dimana-mana pasti ada ujian itu) dan ujian yang ku dapatkan kali ini, tak
terlalu berat, hanya menguji sedikit kesabaranku saja. Hihi..
Hhm,
saat itu hari Sabtu, saat Aku akan menyetrika tumpukan baju yang sudah ku cuci
beberapa hari sebelumnya. Seperti biasa, jika sedang menyetrika Aku lebih suka
mendengar nasyid atau murottal. Dengan begitu Aku akan jadi lebih semangat dan
tak cepat lelah. Usai menyetrika, Aku tersadar, ternyata Aku tak menemukan
gamis kesayanganku. Mencoba mengingat-ngingat lagi, di mana Aku
meletakkan gamisku. Dengan keras otak ku berfikir. Mencoba mengingatnya, tapi
ternyata Aku tak ingat apa-apa. Lupa. Aku benar-benar lupa di mana ku
meletakkan gamis kesayanganku itu, bongkar sana, bongkar sini, bertanya sana,
bertanya sini, Ternyata nihil, tidak ada. Sudahlah, nanti pasti ketemu. Bisik
hatiku.
Berhari-hari
Aku mencari gamisku. Selain merasa kehilangan, Aku juga merasa penasaran, ke
mana gamis itu perginya. Berulang kali Aku membongkar isi almari, barang kali
Aku tak jeli mencarinya. Ternyata tetap tak ada. Lagi lagi hatiku berbisik,
sudahlah, nanti pasti ketemu.
Waktu
terus berlalu, sudah hampir tiga minggu Aku tak menemukan gamisku. Ke mana
diaa.. hiks..hikss.. Aku kehilangan gamis kesayanganku, gamis yang baru sekali
Aku gunakan.
Sudahlah,
kalau rejeki pasti ketemu.
Ternyata
oh ternyata,, akhirnya Aku menemukan gamis ku, setelah berminggu-minggu Aku
mencarinya. Malam itu, Aku menemukannya di dalam ember rendaman. Sisa
Rendaman siapa, Aku tidak tau. yang pasti gamisku tinggal sendirian di dalam
ember itu. Hueeekkk… ketika Aku mengangkatnya, bau tak sedap menyebar ke
mana-mana. Gamisnya sudah berlendir. Astagfirullah.. berulangkali Aku
membilasnya, tapi bau itu tetap tak hilang. tak mengapa, Aku merendamnya lagi
dengan air diterjen yang baru, berharap bau nya berkurang. Sambil menikmati
cucianku yang malang itu, Aku mendengar teriakan adik ku dari kamar,
“kak..
besok saja cuci bajunya, udah malam, kakak baru siap sakit, ntar kakak sakit
lagi..”, Aku tersenyum mendengarnya.
“iyaa
dekk.. ga apa-apa..” jawabku.
Memang
saat itu sudah sangat larut malam, Aku melihat jam yang tersangkut di ruang
tengah, ternyata sudah menunjukkan pukul 23.45 wib. Astagfirullah, sudah berapa
jam Aku mencuci gamis sehelai ini. bisik ku dalam hati.
Setelah
menunggu beberapa saat, sambil mencuci tangan ku yang juga sangat bau dengan
sabun mandi, lalu Aku membilasnya lagi, dan merendamnya dengan molto
sebanyak-banyaknya. Alhamdulillah, bau tak sedap yang menyengat itu sedikit
berkurang.
Malam
itu hatiku senang bukan kepalang, senang karena menemukan baju yang sudah
berhari-hari kucari.
Keesokan
harinya, seusai sholat Subuh, Aku menjemur gamis kesayanganku itu. Untuk yang
pertamakalinya ia nongkrong di tali jemuran (*ceritanya baju baru cuy.. hihi).
Senangg.. aku tersenyum lega.
Setelah
itu Aku kembali memberes-beres kamar ku, dan siap-siap untuk berangkat ke
kampus. Seperti biasa.
Sore
harinya, setelah pulang dari kampus, ku lihat gamis yang terjemur itu. Ternyata
masih lembab, belum kering. Yah memang cuaca hari itu cukup mendung. Baju ku
yang berat, yang terbuat dari bahan levis tak akan kering jika cuaca mendung.
Ku biarkan ia nongkrong semalam lagi di sana. Huufft.. tak mengapa. Yang
penting aku senang.
Keesokan
harinya, setelah ia mengering..
Aku
mendapatkannya tak seperti yang sebelumnya..
Hikss
hatiku sedih, bentuknya tak seindah dulu lagi, warnanya sudah memudar, luntur.
kainnya sudah lusuh, ada bercak-bercak putih di sana sini.. hiks hiks,, Aku
mulai merasakan sesuatu yang lain dihati. Aku marah, Aku kesal, Aku benci, tapi
pada siapa Aku tidak tau.
"Siapa
yang sudah merendam bajuku yang malang itu selama berminggu-minggu, kenapa
tidak ditolong mencucikan saja, jika memang tak sengaja merendamnya, atau jika
tak mau menolong mencucinya kenapa tidak mengatakan padaku, kenapa hanya diam
saja ketika aku bertanya ke sana kemari. Kenapa tidak bilang saja padaku. Biar
aku yang mencucinya" bisik ku di dalam hati.
Aku
diam, diam seribu bahasa. Hatiku berontak. Saat itu, Aku tak bisa tersenyum,
Aku tak bisa tertawa, Aku tak bisa becanda. Aku tak bisa.
Aku
marah, tapi Aku tak bisa meluapkan rasa marah ku.
aku
kesal, tapi Aku tak bisa mengutarakan kekesalanku.
Aku
hanya diam. Diam. Tak ingin bicara pada siapapun.
Astagfirullah,
Aku mencoba menata hati, memberi pemakluman pada semua yang ada. Tapi tak bisa.
Hatiku semakin berontak. Kenapa begini? Mencoba evaluasi diri, adakah kesalahan
yang telah kulakukan. Aku mencoba mengingat-ingat. Ternyata Aku tak mengingat
apa-apa selain merasa Aku tak pernah menyakiti hati siapapun. Berulangkali Aku
menenangkan diri di dalam kamarku, istigfar sebanyak-banyaknya. Ternyata Aku
gagal menenangkan hatiku. Dengan spontan aku menangis. Yah menangis. Dengan
sejadinya aku menangis di kamar yang terkunci itu. Tak seperti biasa Aku
seperti ini. sebelumnya tak pernah Aku menangis mengeluarkan suaraku. Tapi saat
itu, Aku benar-benar menangis, membuang semua sesak yang terasa di dalam dada.
Aku tak peduli dengan yang lain.
Aku
tau, mereka di luar sana pasti khawatir mendengar tangisku. Aku tak peduli.
Yang penting Aku bisa mengeluarkan segala sesak di dalam dada.
Akhirnya,
setelah selesai menumpahkan segala rasa yang ada, Aku mencoba menata hatiku
lagi, mencari ketenangan dalam sujud panjang, berharap Ia membantuku untuk
tetap bersabar.
Alhamdulillah,
ternyata Allah mengabulkan inginku. Ia memberikan ketenangan kepadaku, setelah
aku bercerita pajang pada_Nya, setelah aku meluahkan segala rasaku pada_Nya.
Alhamdulillah.
Keesokan
harinya, Aku putuskan untuk memulai hariku dengan senyum lagi. Aku buang
keegoan dalam hatiku, Aku buang segala rasa yang membuat Aku sendiri tak
tenang. Aku buang semuanya.
Teringat
akan pertanyaan dari seorang Adikku, “Kakak kenapa kemarin menangis? Kakak
marah ya?”, Aku hanya tersenyum kecil dan mengatakan, “tidak ada
apa-apa”. Meski jujur, saat itu Aku masih merasakan sedih. Tapi tak mengapa,
Aku senang dengan diriku, kembali menjalani hari-hari seperti sebelumnya.
Berharap Allah mempunyai rencana yang lebih baik untukku.
Aku
kembali lega dengan diriku sendiri.
Sore
harinya, Aku mendapat telpon dari ibu. saat itu Ibu sedang berada di Jakarta,
sudah tiga minggu Ibu di sana, menjenguk Kakak Ibu yang sedang sakit. Beberapa
hari lagi Ibu akan pulang ke Riau, jadi Ibu menanyakan padaku, oleh-oleh apa
yang Aku inginkan.
Dengan
ringan Aku menjawab, “baju gamis dari bahan levis bu, atau terserah Ibu saja..
kalau tidak ada juga tidak apa-apa”,ucapku.
Ibu
yang berada di sebrang sana langsung meng-iya-kan inginku. “Insyaallah nanti
Ibu carikan..” jawab beliau. Aku tersenyum senang.
Beberapa
minggu setelahnya, Aku mendapat kirimin dari ibu..
Setelah
ku buka, mataku berbinar.. ternyata Ibu membelikan baju gamis seperti punya
ku yang dulu, mirip, mirip sekali. Hanya bagian tangannya saja yang
sedikit berbeda. Aku senanggg, sangat senang. ternyata tidak hanya baju yang
Ibu belikan untuk ku, juga ada sepatu dan yang lainnya.
Subhanallah,
Aku senang, sejenak terfikir olehku, tumben Ibu membelikan baju dan sepatu yang
sesuai dengan seleraku, biasanya Aku dan Ibu memiliki selera yang agak sedikit
berbeda, sepatu yang pernah Ibu belikan saat di Tanjung Pinang dulu, masih
sekali ku gunakan, itupun hanya untuk penyenang hati Ibu, karena memang
Aku tidak nyaman menggunakannya. Sampai sekarang Aku masih menyimpan sepatu
itu.
Tapi
kali ini peristiwa itu tidak terjadi lagi, Aku menyukai semua pemberian Ibu.
aahh Ibuu.. lama-lama engkau bisa menerima perubahan pada anakmu ini.
Alhamduliillah, bisik hatiku.
Tanpa
sadar, air mataku pun kembali menetes. Kembali bersyukur kepada Allah SWT,
ternyata Allah memberi rencana jauh lebih indah dari yang Aku bayangkan. Aku
tersenyum lega.
Otak
ku berputar-putar, mencoba mengingat lagi peristiwa yang sudah terjadi
sebelumnya. Bersyukur kepada Allah swt, dengan peristiwa yang menyedihkan itu,
Aku mendapat banyak pelajaran untuk hidupku.
>
dengan bersikap sabar, Allah memberikan balasan yang jauh lebih indah. Aku
kehilangan gamis kesayanganku, ternyata dengan sabar Allah menggantikannya
dengan gamis lain yang lebih indah dan ditambah bonus-bonus nya yang lain.
>
dengan bersikap diam seribu bahasa, tidak marah-marah, Aku berhasil menahan ego
ku dan menjaga hati saudara-saudaraku. Ntahlah apa yang terjadi jika Aku
marah-marah, mungkin Aku sudah melukai banyak hati. Dan luka tak kan pernah
hilang bekasnya.
>
dengan peristiwa ini, Aku belajar memaafkan dan memaklumi dengan semua yang
ada. Bahwa kita juga pernah berbuat salah.
>
peristiwa ini, kembali mengajarkanku untuk bersikap lapang ketika hati sempit.
>
peristiwa ini mengingatkanku, di manapun kita berada, hidup pasti akan ada suka
dan dukanya, tetapi bagaimana kita mengemas cerita duka menjadi suka. Cerita
duka menjadi indah yang tak akan terlupakan.
>
dengan peristiwa ini, Aku bisa melihat ternyata Ibu sudah bisa menerima
perubahanku seutuhnya, setelah bertahun berharap ini terjadi.
>
peristiwa ini berhasil mengukir satu lagi cerita indah dalam peradaban hidupku.
Alhamdulillah,
Aku kembali tersenyum mengingatnya. Terbayang wajah-wajah semua saudari yang
aku cintai tulus karena_Nya. Terbayang semuanya. semua yang Aku sayangi.
Sungguh, Aku rindu pada semuanya. Allah sampaikan salam rinduku pada mereka
semua. Kelak, Kumpulkanlah kami dalam syurga_Mu yang tinggi. Aku ingin
bercengkrama bersama mereka disyurga_Mu. Aamiin.
#
sang robitho pengikat hati..
ya Allah,
susungguhnya Engkau Maha Mengetahui,
bahwa hati-hati ini
telah berpadu,
berkumpul untuk
mencurahkan kecintaan kepada_Mu,
bersatu dalam dakwah_Mu,
dan berjanji setia untuk
membela syariat_Mu,
maka kuatkanlah ikatan
pertaliannya,
ya Allah, kekalkanlah
kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya
dan penuhilah ia dengan cahanya_Mu yang tak pernah redup,
lapangkan lah dadanya
dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada_Mu,
hidupkanlah dengan Ma'rifat_Mu,
dan matikanlah dalam
keadaan Syahid di jalan_Mu.
sesungguhnya sebaik-baik
pelindung dan sebaik-baik penolong. amien.
allahummashaliala
muhammad wa'ala alihi muhammad.
"Mereka orang-orang
yang mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau kepentingan
memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan
merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan takkan bersedih bila
umat manusia bersedih"
[HR. Ahmad]
#sabar, ikhlas dan bersyukurlah. Apapun yang kita hadapi, apapun yang kita lakukan harus disertai dengan keikhlasan di dalam hati, apabila kita berhasil melakukannya, maka bersyukurlah, tetapi jika tidak maka bersabarlah. sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan muncul seulas senyum kebahagian. Seperti setelah gelapnya malam yang menakutkan, akan muncul siang yang terang. Awan duka akan bercerai berai, malam-malam pekat menjadi terang, kemalangan akan berakhir dan derita akan pergi, dengan izin Allah. Di dunia ini, tidak ada sesuatu yang sempurna, Hanya allah yang Maha sempurna. Jadi simpanlah selalu sabar, ikhlas dan syukur didalam hati, insyaallah kita tidak akan bersedih lagi. yah.. insyaallah. ^_^
*sstt,,
sengaja saia mempublish tulisan yang jelek ini, hihi.. berharap kita semua
dapat mengambil ibrohnya. Aamiin.
0 komentar:
Posting Komentar