Selasa, 16 Juli 2013 - 0 komentar

Gamis ku !! (*repost)


Hampir satu bulan Aku meninggalkan kebiasaanku yang suka menulis, ntah itu menulis di diary, ntah itu menulis di jendela word laptap ku ini, ntah itu di kertas-kertas yang tak penting walau hanya sekedar oret-oret. Hhm Sudah lama rasanya. Malam ini Aku mencoba menulis lagi, hmm canggung juga rasanya, Seperti banyak kehilangan kata. Tapi tak mengapa, aku akan mencoba memulainya lagi.

Malam yang sunyi, hembusan angin malam yang sejuk masuk melintasi jendela besi kamarku, dengan lembut ia menerpa wajahku.  Aku suka suasana ini. Selepas sholat Isya di ruang yang sederhana ini, di bawah cahaya  lampu yang cukup menerangi, Aku teringat akan peristiwa yang pernah ku alami sekitar tiga bulan yang lalu. Kisah yang tak akan pernah terlupakan untuk ku. Hhmm, kisah yang menyimpan banyak rasa. Seperti nano-nano.. hihi..

Huuaaaa.. Aku bingung mau mulai dari mana yah,,

Aku tinggal di sebuah rumah sederhana yang penuh cinta yang berisikan 13 orang kepala dengan karakter yang berbeda-beda, dengan asal kampung yang berbeda-beda, dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda. Mulai dari yang sangat lembut, baik, perhatian, penyanyang sampai pada yang keras kepala, cuek dan egois. Semua ada di sana. Hmm, Aku hanya bisa tersenyum bila mengingatnya.

Disana, Aku menemukan banyak ilmu dan pelajaran yang tentunya tidak Aku temukan di bangku kuliah. Dengan ditemani banyak karakter yang berbeda, memberikan pelajaran pada ku untuk bisa saling memahami, saling menyanyangi, saling mengerti.  Di sana Aku menemukan persaudaraan yang begitu tulus, saling mengingatkan dalam hal kebaikan, saling memberi dan melengkapi. Di sana Aku menemukan ukhuwah nan indah. Aku tersenyum jika mengingatnya. Di sana Aku belajar melakukan hal-hal kecil yang belum pernah atau jarang ku lakukan sebelumnya. Dari membersihkan kompor, mencabut sumbu kompor yang sangat sasuh, hihi.. sampai menghapal al-qur’an bersama. Yah semua kut emukan di sana. Tertawa becanda mengisi hari-hari, seakan tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang ke rumah dan bercengkrama dengan saudari-saudariku. Semua terasa indah. Jika Aku menceritakan keindahan hidupku, maka tak cukup lembar untuk menceritakannya, tak cukup kata untuk mengungkapkannya, karena memang semua hanya akan terasa lebih terasa indah jika ikut melaluinya bersamaku. Hihi. Namun Aku tidak menapikkan, di samping kebahagiaaaaann yang ku dapat bersama saudariku, Aku juga pernah mengalami satu peristiwa yang cukup menganggu ketenangan hatiku dan menguji kesabaranku (*Yah,, hihi.. namanya juga hidup. Dimana-mana pasti ada ujian itu) dan ujian yang ku dapatkan kali ini, tak terlalu berat, hanya menguji sedikit kesabaranku saja. Hihi..

Hhm, saat itu hari Sabtu, saat Aku akan menyetrika tumpukan baju yang sudah ku cuci beberapa hari sebelumnya. Seperti biasa, jika sedang menyetrika Aku lebih suka mendengar nasyid atau murottal. Dengan begitu Aku akan jadi lebih semangat dan tak cepat lelah. Usai menyetrika, Aku tersadar, ternyata Aku tak menemukan gamis kesayanganku.  Mencoba mengingat-ngingat lagi, di mana Aku meletakkan gamisku. Dengan keras otak ku berfikir. Mencoba mengingatnya, tapi ternyata Aku tak ingat apa-apa. Lupa. Aku benar-benar lupa di mana ku meletakkan gamis kesayanganku itu, bongkar sana, bongkar sini, bertanya sana, bertanya sini, Ternyata nihil, tidak ada. Sudahlah, nanti pasti ketemu. Bisik hatiku.

Berhari-hari Aku mencari gamisku. Selain merasa kehilangan, Aku juga merasa penasaran, ke mana gamis itu perginya. Berulang kali Aku membongkar isi almari, barang kali Aku tak jeli mencarinya. Ternyata tetap tak ada. Lagi lagi hatiku berbisik, sudahlah, nanti pasti ketemu.

Waktu terus berlalu, sudah hampir tiga minggu Aku tak menemukan gamisku. Ke mana diaa.. hiks..hikss.. Aku kehilangan gamis kesayanganku, gamis yang baru sekali Aku gunakan.
Sudahlah, kalau rejeki pasti ketemu.

Ternyata oh ternyata,, akhirnya Aku menemukan gamis ku, setelah berminggu-minggu Aku mencarinya.  Malam itu, Aku menemukannya di dalam ember rendaman. Sisa Rendaman siapa, Aku tidak tau. yang pasti gamisku tinggal sendirian di dalam ember itu. Hueeekkk… ketika Aku mengangkatnya, bau tak sedap menyebar ke mana-mana. Gamisnya sudah berlendir. Astagfirullah..  berulangkali Aku membilasnya, tapi bau itu tetap tak hilang. tak mengapa, Aku merendamnya lagi dengan air diterjen yang baru, berharap bau nya berkurang. Sambil menikmati cucianku yang malang itu, Aku mendengar teriakan adik ku dari kamar, 

“kak.. besok saja cuci bajunya, udah malam, kakak baru siap sakit, ntar kakak sakit lagi..”, Aku tersenyum mendengarnya. 
“iyaa dekk.. ga apa-apa..” jawabku. 

Memang saat itu sudah sangat larut malam, Aku melihat jam yang tersangkut di ruang tengah, ternyata sudah menunjukkan pukul 23.45 wib. Astagfirullah, sudah berapa jam Aku mencuci gamis sehelai ini. bisik ku dalam hati.

Setelah menunggu beberapa saat, sambil mencuci tangan ku yang juga sangat bau dengan sabun mandi, lalu Aku membilasnya lagi, dan merendamnya dengan molto sebanyak-banyaknya. Alhamdulillah, bau tak sedap yang menyengat itu sedikit berkurang.

Malam itu hatiku senang bukan kepalang, senang karena menemukan baju yang sudah berhari-hari kucari.

Keesokan harinya, seusai sholat Subuh, Aku menjemur gamis kesayanganku itu. Untuk yang pertamakalinya ia nongkrong di tali jemuran (*ceritanya baju baru cuy.. hihi). Senangg.. aku tersenyum lega.

Setelah itu Aku kembali memberes-beres kamar ku, dan siap-siap untuk berangkat ke kampus. Seperti biasa.

Sore harinya, setelah pulang dari kampus, ku lihat gamis yang terjemur itu. Ternyata masih lembab, belum kering. Yah memang cuaca hari itu cukup mendung. Baju ku yang berat, yang terbuat dari bahan levis tak akan kering jika cuaca mendung. Ku biarkan ia nongkrong semalam lagi di sana. Huufft.. tak mengapa. Yang penting aku senang.

Keesokan harinya, setelah ia mengering..
Aku mendapatkannya tak seperti yang sebelumnya..

Hikss hatiku sedih, bentuknya tak seindah dulu lagi, warnanya sudah memudar, luntur. kainnya sudah lusuh, ada bercak-bercak putih di sana sini.. hiks hiks,, Aku mulai merasakan sesuatu yang lain dihati. Aku marah, Aku kesal, Aku benci, tapi pada siapa Aku tidak tau. 

"Siapa yang sudah merendam bajuku yang malang itu selama berminggu-minggu, kenapa tidak ditolong mencucikan saja, jika memang tak sengaja merendamnya, atau jika tak mau menolong mencucinya kenapa tidak mengatakan padaku, kenapa hanya diam saja ketika aku bertanya ke sana kemari. Kenapa tidak bilang saja padaku. Biar aku yang mencucinya" bisik ku di dalam hati.

Aku diam, diam seribu bahasa. Hatiku berontak. Saat itu, Aku tak bisa tersenyum, Aku tak bisa tertawa, Aku tak bisa becanda. Aku tak bisa. 

Aku marah, tapi Aku tak bisa meluapkan rasa marah ku. 
aku kesal, tapi Aku tak bisa mengutarakan kekesalanku. 
Aku hanya diam. Diam. Tak ingin bicara pada siapapun.

Astagfirullah, Aku mencoba menata hati, memberi pemakluman pada semua yang ada. Tapi tak bisa. Hatiku semakin berontak. Kenapa begini? Mencoba evaluasi diri, adakah kesalahan yang telah kulakukan. Aku mencoba mengingat-ingat. Ternyata Aku tak mengingat apa-apa selain merasa Aku tak pernah menyakiti hati siapapun. Berulangkali Aku menenangkan diri di dalam kamarku, istigfar sebanyak-banyaknya. Ternyata Aku gagal menenangkan hatiku. Dengan spontan aku menangis. Yah menangis. Dengan sejadinya aku menangis di kamar yang terkunci itu. Tak seperti biasa Aku seperti ini. sebelumnya tak pernah Aku menangis mengeluarkan suaraku. Tapi saat itu, Aku benar-benar menangis, membuang semua sesak yang terasa di dalam dada. Aku tak peduli dengan yang lain. 

Aku tau, mereka di luar sana pasti khawatir mendengar tangisku. Aku tak peduli. Yang penting Aku bisa mengeluarkan segala sesak di dalam dada.

Akhirnya, setelah selesai menumpahkan segala rasa yang ada, Aku mencoba menata hatiku lagi, mencari ketenangan dalam sujud panjang, berharap Ia membantuku untuk tetap bersabar. 

Alhamdulillah, ternyata Allah mengabulkan inginku. Ia memberikan ketenangan kepadaku, setelah aku bercerita pajang pada_Nya, setelah aku meluahkan segala rasaku pada_Nya. Alhamdulillah.

Keesokan harinya, Aku putuskan untuk memulai hariku dengan senyum lagi. Aku buang keegoan dalam hatiku, Aku buang segala rasa yang membuat Aku sendiri tak tenang. Aku buang semuanya. 

Teringat akan pertanyaan dari seorang Adikku, “Kakak kenapa kemarin menangis? Kakak marah ya?”,  Aku hanya tersenyum kecil dan mengatakan, “tidak ada apa-apa”. Meski jujur, saat itu Aku masih merasakan sedih. Tapi tak mengapa, Aku senang dengan diriku, kembali menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Berharap Allah mempunyai rencana yang lebih baik untukku.
Aku kembali lega dengan diriku sendiri.

Sore harinya, Aku mendapat telpon dari ibu. saat itu Ibu sedang berada di Jakarta, sudah tiga minggu Ibu di sana, menjenguk Kakak Ibu yang sedang sakit. Beberapa hari lagi Ibu akan pulang ke Riau, jadi Ibu menanyakan padaku, oleh-oleh apa yang Aku inginkan.

Dengan ringan Aku menjawab, “baju gamis dari bahan levis bu, atau terserah Ibu saja.. kalau tidak ada juga tidak apa-apa”,ucapku.  

Ibu  yang berada di sebrang sana langsung meng-iya-kan inginku. “Insyaallah nanti Ibu carikan..” jawab beliau. Aku tersenyum senang.

Beberapa minggu setelahnya, Aku mendapat kirimin dari ibu..

Setelah  ku buka, mataku berbinar.. ternyata Ibu membelikan baju gamis seperti punya  ku yang dulu, mirip, mirip sekali. Hanya bagian tangannya saja yang sedikit berbeda. Aku senanggg, sangat senang. ternyata tidak hanya baju yang Ibu belikan untuk ku, juga ada sepatu dan yang lainnya.

Subhanallah, Aku senang, sejenak terfikir olehku, tumben Ibu membelikan baju dan sepatu yang sesuai dengan seleraku, biasanya Aku dan Ibu memiliki selera yang agak sedikit berbeda, sepatu yang pernah Ibu belikan saat di Tanjung Pinang dulu, masih sekali ku gunakan, itupun  hanya untuk penyenang hati Ibu, karena memang Aku tidak nyaman menggunakannya. Sampai sekarang Aku masih menyimpan sepatu itu.

Tapi kali ini peristiwa itu tidak terjadi lagi, Aku menyukai semua pemberian Ibu. aahh Ibuu.. lama-lama engkau bisa menerima perubahan pada anakmu ini. Alhamduliillah, bisik hatiku.

Tanpa sadar, air mataku pun kembali menetes. Kembali bersyukur kepada Allah SWT, ternyata Allah memberi rencana jauh lebih indah dari yang Aku bayangkan. Aku tersenyum lega.

Otak ku berputar-putar, mencoba mengingat lagi peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya. Bersyukur kepada Allah swt, dengan peristiwa yang menyedihkan itu, Aku mendapat banyak pelajaran untuk hidupku.

> dengan bersikap sabar, Allah memberikan balasan yang jauh lebih indah. Aku kehilangan gamis kesayanganku, ternyata dengan sabar Allah menggantikannya dengan gamis lain yang lebih indah dan ditambah bonus-bonus nya yang lain.

> dengan bersikap diam seribu bahasa, tidak marah-marah, Aku berhasil menahan ego ku dan menjaga hati saudara-saudaraku. Ntahlah apa yang terjadi jika Aku marah-marah, mungkin Aku sudah melukai banyak hati. Dan luka tak kan pernah hilang bekasnya.

> dengan peristiwa ini, Aku belajar memaafkan dan memaklumi dengan semua yang ada. Bahwa kita juga pernah berbuat salah.

> peristiwa ini, kembali mengajarkanku untuk bersikap lapang ketika hati sempit.

> peristiwa ini mengingatkanku, di manapun kita berada, hidup pasti akan ada suka dan dukanya, tetapi bagaimana kita mengemas cerita duka menjadi suka. Cerita duka menjadi  indah yang tak akan terlupakan.

> dengan peristiwa ini, Aku bisa melihat ternyata Ibu sudah bisa menerima perubahanku seutuhnya, setelah bertahun berharap ini terjadi.

> peristiwa ini berhasil mengukir satu lagi cerita indah dalam peradaban hidupku.

Alhamdulillah, Aku kembali tersenyum mengingatnya. Terbayang wajah-wajah semua saudari yang aku cintai tulus karena_Nya. Terbayang semuanya. semua yang Aku sayangi. Sungguh, Aku rindu pada semuanya. Allah sampaikan salam rinduku pada mereka semua. Kelak, Kumpulkanlah kami dalam syurga_Mu yang tinggi. Aku ingin bercengkrama bersama mereka disyurga_Mu. Aamiin.

# sang robitho pengikat hati..

ya Allah,  susungguhnya Engkau Maha Mengetahui,
bahwa hati-hati ini telah berpadu,
berkumpul untuk mencurahkan kecintaan kepada_Mu,
bersatu dalam dakwah_Mu,
dan berjanji setia untuk membela syariat_Mu,
maka kuatkanlah ikatan pertaliannya,
ya Allah, kekalkanlah kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya dan penuhilah ia dengan cahanya_Mu yang tak pernah redup,
lapangkan lah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada_Mu,
hidupkanlah dengan Ma'rifat_Mu,
dan matikanlah dalam keadaan Syahid di jalan_Mu.
sesungguhnya sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. amien.
allahummashaliala muhammad wa'ala alihi muhammad.


"Mereka orang-orang yang mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan takkan bersedih bila umat manusia bersedih"
[HR. Ahmad]

#sabar, ikhlas dan bersyukurlah. Apapun yang kita hadapi, apapun yang kita lakukan harus disertai dengan keikhlasan di dalam hati, apabila kita berhasil melakukannya, maka bersyukurlah, tetapi jika tidak maka bersabarlah. sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Setelah cucuran air mata akan muncul seulas senyum kebahagian. Seperti setelah gelapnya malam yang menakutkan, akan muncul siang yang terang. Awan duka akan bercerai berai, malam-malam pekat menjadi terang, kemalangan akan berakhir  dan derita akan pergi, dengan izin Allah.  Di dunia ini, tidak ada sesuatu yang sempurna, Hanya allah yang Maha sempurna. Jadi simpanlah selalu sabar, ikhlas dan syukur didalam hati, insyaallah kita tidak akan bersedih lagi.  yah.. insyaallah. ^_^

*sstt,, sengaja saia mempublish tulisan yang jelek ini, hihi.. berharap kita semua dapat mengambil ibrohnya. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA