siang yang terik..
Sejenak, terbayang akan hal yang pernah terjadi dalam hidupku, sesuatu yang sangat indah, bagiku. Sesuatu yang tak kan terlupakan,untukku. Mencoba mengingatnya,, bibir tersenyum, ketika semua yang telah terukir indah kembali terputar dimemori otakku.
Tiba-tiba, terjadi pertanyaan dan jawaban dalam hatiku. Ntah suara dari mana, tapi aku mencoba menulisnya.
Hatika: hai.. sibuk ga?
Hatiki: sibuk..
Hatika : sibuk apa?
Hatiki : sibuk menyelesaikan semua ini..
Hatika : apa tu?
Hatiki : BAB IV skripsisweett ku..
Hatika : ah, sudahlah. istirahat dulu.
Hatika : emang mau ngapain?
Hatika: cerita yukk..
Hatiki: cerita apa?
Hatika: tentang kamu..
Hatiki: tentang aku?
Hatika: iya..
Hatiki: boleh.. tentang apa?
Hatika: tentang hal yang tak pernah terlupakan olehmu..
Hatiki: oleh ku? Kenangan terindahku?
Hatika: mungkin..
Hatiki: ok..
Hatika : apa cerita mu?
Hatiki : aku pernah dijitak ayah..
Hatika: kapan?
Hatiki: waktu kecil..
Hatika: kenapa?
Hatiki: karena aku nakal (*mungkin).
Hatika: emang kamu buat apa?
Hatiki: ga buat apa-apa..
Hatika: lalu?
Hatiki: aku memotong pembicaraan orang besar..
Hatika: lalu?
Hatiki: aku kaget.. trus kapok..
Hatika: emang ceritanya gimana sih?
Hatiki: waktu itu ada teman ayah yang datang kerumah, namanya om alex. Oom itu bisa dikatakan sahabat, bisa juga saudara. Pokaknya om itu the best lah dimata aku,ayah dan keluarga..
Hatika: lalu??
Hatiki: waktu itu sore hari, ayah dan om alex lagi ngobrol-ngobrol didepan pagar rumah ku.. biasanya kalau sore hari, aku dan teman-temanku main. Main petak umpet, main gambar, main istatak, main karet, main kejar-kejaran,, pokoknya main-mainlah,,
Hatika: lalu?
Hatiki : lalu..ntah kenapa sore itu aku ga main sama teman-teman. Malah ikut nimbrung sama bapak-bapak itu.. aku lupa mereka cerita apa, seingatku, ayah dan om alex lagi serius dalam ceritanya, tiba-tiba aku datang dan menimpali.. aku bilang, “bukan itu pa,, tapi ini, di situ juga ada tu pa..”, tiba-tiba setelah aku berkata seperti itu, jari-jari ayah yang bulat-bulat mendarat dikepalaku.
“kleekk” (*bunyinya), aku kaget, ternyata aku habis kena jitak sama ayah.
Hatika: haha… lalu?
Hatiki: aku diam..
Hatika: lalu, ayah kamu bilang apa?
Hatiki: klo orang besar ngomong jangan di potong..
Hatika: kamu nangis?
Hatiki: ngakk..
Hatika: trus..
Hatiki: aku lari.. pergi main sama teman-temanku.
Hatika: hahaha.. lalu ada lagi ga??
Hatiki: hmmm…(*mikir)
Hatika: ada ga?
Hatiki: ada..
Hatika: apa?
Hatiki: aku pernah mengelitik hidung ayah waktu beliau sedang tidur siang pakai ilalang..
Hatika: lalu?
Hatiki: ayah terbangun..
Hatika: lalu?
Hatiki: aku dimarahin..
Hatika: haha.. lalu?
Hatiki: kuping ku ditarik ayah..
Hatika: haha.. kamu nangis?
Hatiki: ngakk..
Hatika: ayah bilang apa?
Hatiki: kalau orang tua tidur jangan diganggu..
Hatika: hahaha…
Hatiki: (*diam)
Hatika: apa lagi?
Hatiki: aku pernah mencongkel hidung ayah pakai jari kelingkingku..
Hatika: kok bisa?
Hatiki: karena jari ayah bulat-bulat, ga cukup untuk masuk ke dalam hidungnya..
Hatika: kamu mau?
Hatiki: ngakk..
Hatika: lalu?
Hatiki: dipaksa..
Hatika: ayah memaksamu?
Hatiki: iya.. beliau mengejarku..
Hatika: kamu lari?
Hatiki: iya.. keliling rumah.. akhirnnya ketangkap..
Hatika: emang ayah bilang apa?
Hatiki: tolong ayah bersihin hidung ayah, karena jari ayah ga muat masuk ke dalam hidung..
Hatika: haha.. lalu?
Hatiki: aku pasrah..
Hatika: lalu?
Hatiki: ayah mengambil kelingking ku yang kecil, dan memasukkannya ke hidung beliau..
Hatika: kamu ga geli?
Hatiki: geli..
Hatika: lalu?
Hatiki: aku pejamin mata, ga mau liat apa yang keluar dari hidung ayah..
Hatika: haha.. lalu?
Hatiki: ayah mengerak-gerakkan tanganku..
Hatika: lalu..
Hatiki: siap tu ayah mengelap kelingkingku dengan kain lap yang ada di tangan beliau..
Hatika: kamu nangis?
Hatiki: ngakk..
Hatika: lalu..
Hatiki: setelah itu aku melompat ke punggung ayah..
Hatika: lha..kok melompat punggung ayah?
Hatiki: sebagai gantinya, aku minta diambilin jambu di depan rumahku.
Hatika: haha…hhmm, kamu pernah dipukulin ayah gak?
Hatiki: ngakk..
Hatika: diomelin?
Hatiki: ngakk..
Hatika: trus pernahnya apa lagi?
Hatiki: diplototin..
Hatika: kok bisa?
Hatiki: aku nakal (*mungkin).
Hatika: emang kamu kenapa?
Hatiki: dipanggil ga dijawab..
Hatika: kok ga kamu jawab..
Hatiki: aku sedang sibuk..
Hatika: sibuk apa?
Hatiki: sibuk nangkap ikan di dalam bak di belakang rumah.. dari pada ketauan, aku diam aja. Akhirnya emang ketauan.
Hatika: trus, ayah bilang apa?
Hatiki: ga ada bilang apa-apa..
Hatika: kamunya?
Hatiki: aku pura-pura ga bersalah saja, aku tanya sama ayah, “ada apa pa?”, ya udah.. ayah menyampaikan inginnya padaku.
Hatika: kamu ga takut?
Hatiki: takutt…
Hatika:trus?
Hatiki: aku cepat-cepat peluk ayah.. biar ga dimarahin..
Hatika: haha.. kamu punya ikan?
Hatiki: punya..
Hatika: dipelihara..
Hatiki: mungkin..
Hatika: kok mungkin?
Hatiki: ikannya aku dapat di got di belakang rumah..
Hatika: kamu mancing?
Hatiki: ngakk..
Hatika: lalu?
Hatiki: aku tangkap pakai saringan kelapa punya ibuku..
Hatika: saringan kelapa?
Hatiki: iyaa..
Hatika: ibu tau?
Hatiki: tau..
Hatika: lalu? Beliau marah ?
Hatiki: aku diomelin, lalu besoknya beliau beli yang baru..
Hatika: ikannya dapat banyak?
Hatiki: lumayan..
Hatika: ikannya besar-besar?
Hatiki: nggak.. kecil-kecil..
Hatika: haha.. apa lagi?
Hatiki: aku juga sering motongin kuku tangan ayah,,
Hatika: teruss..
Hatiki: ayah gak suka potong kuku sendiri, suku dipotongin..
Hatika: anak baik..
Hatiki: iyaa dong..
Hatika: trus ada lagi?
Hatiki: aku pernah manjat loteng sama ayah?
Hatika: ngapain?
Hatiki: liatin ayah kerja..
Hatika: emang ayahmu buat apaan?
Hatiki: perbaiki atap loteng yang bocor..
Hatika: kamu gak takut?
Hatiki: gak..
Hatika: pake apa naik ketas?
Hatiki: pake tangga lah.. masa pake pesawat..
Hatika: haha.. terus?
Hatiki: aku juga sering jogot-joget sama ayah..
Hatika: haha.. trus?
Hatiki:juga pernah ciumin ketek ayah..
Hatika: apaa?
Hatiki: ciumin ketek ayaahh??
Hatika: kok bisa?
Hatiki: kami bertarung..
Hatika: bertarung apa?
Hatiki: siapa yang kalah ciumin ketek siapa yang menang..
Hatika: haha..emang bertarung apa sih?
Hatiki: ada deh, pingin tau aja..
Hatika: ah payah,
Hatiki: udah ah.. capek.
Hatika : eh tunggu, satu lagi..
Hatiki: apa?
Hatika : apa yang tak terlupakan olehmu dari ayah?
Hatiki : jogetnya.
Hatika: haha.
Jika bercerita tentang ayah, bagiku tak akan pernah ada habisnya. tak cukup lembar dan waktu untuk menceritakan segala tentangnya. Tentang Ayah.
Ayah.. sosok yang begitu istimewa. Aku memanggil ayah ku dengan panggilan PAPA.
Papa.. yah papa.
Sudah sangat lama rasanya lidah ini tidak menyebut panggilan itu. PAPA.
Papa sosok yang sangat istimewa bagiku, darinya aku mengerti arti hidup. Darinya aku belajar banyak bagaimana menjadi figur yang menyenangkan bagi Tuhan dan juga manusia. Bukan, ayah bukan memberikan kepadaku defenisi demi defenisi yang harus aku pahami, tetapi ayah memberikan kepada ku contoh yang baik, ayah tidak pernah menuntut untuk ditiru, tapi akulah yang harus meniru dan mengambil pelajaran dari apa yang papa tunjukkan.
Papa.. seorang lelaki yang bertubuh besar, berbadan tegap, langkahnya yang kokoh, senyumnya yang tulus, tawanya yang renyah, jogetnya yang khas, dan banyak lagi yang tak tergambarkan. Itulah Papa.
#aku ingin mengenang semuanya, selalu. selagi otak masih mampu mengingat maka tulislah, jika kelak sudah tak mampu lagi untuk mengingat, maka bacalah apa yang telah di tulis. setelah itu, tersenyumlah.

0 komentar:
Posting Komentar