Senin, 15 Juli 2013 - 0 komentar

Tinggi dengan Ketaatan..


bismillahirahmanirahim,,

siang ini, aku ingin menulis.
tapi menulis apa yaaa..

(*mikir..)

(*mikir...)

ahh, bingung.. mau nulis apa neehh??

(*mikir lagiii...)

(*lagii mikir...)

(*mikirr lagii..)

#ahaaa... menulis tentang suasana siang ini saja.

siang yang  tiba-tiba hujan lebat dengan petirnya menyambar-nyambar,, masuk lewat pintu jendela kamar ku.

oopsss.. lumayan, mendebarkan petirnya.

eitsss.. apa ini yang mau ditulis?? itu sajaaa?? ah, entahlah. bingung.

saat ini aku hanya ingat dengan peristiwa beberapa hari yang lalu, ketika aku sedang berangkat ke kampus.  tiba-tiba ketika sampai di daerah pasar baru, perempatan terakhir menunju kampus hijauku nan tacinto, 
setelah melalui ..satu..

dua..
tiga..
empat..
lima..

yah lima..

setelah melalui lima perempatan dari rumah ku. pasar baru adalah perempatan yang terakhir.

saat itu tiba-tiba angin kencang. kencang sekencang-kencangnya.  sama dengan kencangnya angin hujan saat ini.  tetapi saat itu ada yang sedikit berbeda, saat itu tiidak hujan, tidak panas, tetapi tiba-tiba angin kencang datang menerpa.

jantungku berdegup kencang.  kecepatan motor yang ku kendarai tiba-tiba berkurang. angin serasa menghambat laju motorku.

sepanjang perjalanan aku mikir,

"oh andai pohon-pohon yang ada di tengah jalan ini tiba-tiba  tumbang, dan menimpuk kepala ku, lalu tiba-tiba aku terjatuh, lalu tiba-tiba aku dilarikan ke rumah sakit, lalu tiba-tiba di dalam perjalanan menuju rumah sakit aku sudah meninggal. ohh.. Robb.. hitunglah kematian ku sebagai syahid dijalan_Mu.  karena saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kampus untuk melanjutkan perjuangan ku yang masih terseok-seok.. perjuangan ku untuk mewujudkan harapan ibu tercinta, perjuangan ku untuk mencari dan mengapai Ridho_Mu..", bisik ku dalam hati.


hati ku masih berdebar-debar. angin kencang. pasir yang berterbangan berhasil menyelinap ke dalam helm ku, dan singgah ke mata ku. alhasil, pasir-pasir itu berhasil memedihkan mata ku. gatal.

aku masih terus saja berjalan. menuju kampus.

sesampai di gerbang kampus, ku lihat pohon-pohon makin melambai dengan kencang.

angin yang bertiup memang benar-benar dahsyat.

aku terus melaju dengan motor ku..

sesampainya di fakultas ekonomi, fakultas pertama yang di lewati jika melalui jalur lurus hendak ke kampus ku,
ku temui pohon besar nan rindang, nan tinggi menjulang itu Roboh.

batangnya yang kokoh tak mampu menyangga tingginya dahan dari tiupan angin kencang nan garang.

"subhanAllah..",

bisik ku dalam hati. aku terus melaju, daun-daun tua di dari pohon-pohon besar yang ada di sepanjang jalan, berguguran dengan tenang.  mengikuti jalan takdir yang menetapkan kemana ia harus berlabuh. apakah di tepi jalan, tepat di bawah pohon, atau berterbangan ke tengah jalan, sehingga ban  mobil-mobil dan motor-motor yang lalu lalang tanpa sadar menggilingnya. pasrah. mengikuti ketetapan Tuhan.

"oh daun.. ke pasrahan mu pada ketetapan TUhan begitu menakjubkan".

aku terus melaju,ketika hendak sampai di area parkir, lagi-lagi aku mendapati pohon yang tumbang.

kali ini aku mendapatinya, membentang, terkujur layu di tengah jalan. meski begitu ia tak mengganggu jalan ku. aku bisa menyelinap dengan motor ku untuk bisa sampai di sebarang. daun-daun yang melambai pasrah itu membelai kepalaku.

alhamdulillah, akhirnya aku sampai di kampus.

*teruss..

*teruss..

*hm, apa lagi yaaa??

*mau nulis apa lagi neeh.. bingung.

*ah, kebanyakan bingung. tulis saja, apa jadinya, nanti saja di baca. yang penting tulisssss dulu.

baiklah, aku melanjutkan tulisannya.

#setelah sampai di kampus, aku teringat dengan banyak teman ku,

yang ketika ku tanya, mau jadi apa, mereka bilang, mereka mau jadi pohon.

dalam hatiku berbisik,

"apakah teman-temanku yang hendak menjadi pohon, ingin seperti pohon tumbang yang tak mampu melawan angin badai itu ??", bisikku dalam hati. pertanyaaan yang tak memiliki jawaban.


lagi-lagi aku teringat dengan kata 'ingin' yang sering orang-orang ucapkan.

"aku ingin seperti ikan, yang bisa berenang bebas ke sana-kemari",

aku bertanya lagi di dalam hati, "ikan yang seperti apa? ikan teri yang kecik-kecik itu? yang hidupnya berakhir di dalam perut manusia? atau ikan tongkol yang dagingnya padat itu? atau ikan lumba-lumba yang lucu itu? atau jangan-jangan ikan hiu yang buas itu?  ikan yang mana??" bisikku. lagi-lagi pertanyaan yang tak memiliki jawaban.

aku juga teringat dengan kata 'ingin', yang lain, yang juga sering orang-orang ucapkan.

"aku ingin seperti burung, yang bisa terbang bebas di angkasa",

lagi-lagi aku bertanya di dalam hati, "burung yang mana? burung gereja yang suka mencicit-cicit di pagi hari itu?? atau burung merpati yang memiliki kemampuan terbang yang tak seberapa, yang nasib hidupnya suka bertengger di dalam sangkar sempit itu? atau burung kakak tua yang suka hingga di jendala itu?? atau jangan-jangan burung elang yang liar dan buas itu?? burung yang mana??", lagi. pertanyaan yang tak memiliki jawaban.

ah manusia, terlalu banyak mengandai-andai.

*back to pohon.

seperti pilihan pada ikan dan burung, yang masih membinggungkan. ingin menjadi ikan, tetapi ingin menjadi ikan yang mana, karena semua ikan bisa berenang, atau ingin menjadi burung, tetapi burung yang seperti  apa, karena semua burung bisa terbang.

begitu juga pada sebuah pohon.

ingin menjadi seperti pohon yang mana?

pohon kelapa?
pohon beringin?
pohon mangga?
pohon kurma?a

tau ada pilihan sendiri, pohon apaa?? (*pertanyaan yang tak memiliki jawaban. lagi)

baiklah, engkau pasti menjawab, pohon yang tinggi, besar, rindang, batangnya kokoh, buahnya banyak, dahannya lebat, daunnya segar, yang setiap orang berada di bawahnya bisa bersandar dengan nyaman.pohon yang seperti itu??


baiklah, tak mengapa. itu bagus.

menganalogikan diri seperti sebuah pohon yang besar nan rindang, (*seperti ciri-ciri yang sudah ku sebutkan diatas) itu bagus. keren. mantabh. luaarr biasssa.

tetapi jangan lupa, pohon yang tinggi menjulang, rindang dan batangnya besar itu banyak cobaannya.

ada angin taupan yang siap merobohkan mu.
ada panas terik yang siap menyengat kulit mu.
ada hujan badai yang siap mengguyur mu.

(*ada apa lagi yaa..)

jika engkau tak sanggup menghadapinya, berhentilah bercita-cita seperti sebuah pohon yang besar dan tinggi menjulang itu,

karena jika tidak, engkau akan mudah roboh, seperti pohon yang telah ku temui beberapa hari yang lalu. batangnya besar, daunnya lebat, dahannya rindang, tetapi ketika angin badai datang, dengan serta merta ia merobohkan dirinya. tidak sanggup mengahadapi tamparan keras sang angin.

so, buat engkau yang ingin seperti pohon..

jadilah pohon yang meninggi sampai ke langit biru karena ketundukan kepada pemilik alam ini,
bukan karena kesombogan dan keangkuhan.

karena jika engkau terus sibuk ingin tumbuh meninggi ke atas langit nan biru, tanpa memikirkan kekuatan akar mu untuk menompang tubuhmu, engkau akan mudah goyah dan roboh.

karena tumbuh mu dengan keangkuhan,
karena tumbuh mu dengan kesombongan,

bukan karena ketaatan.

tumbuhlah menjadi pohon, yang akarnya menunjam ke perut bumi karena kezuhudan, yang batangnya kokoh karena keimanan, yang tegak tinggi menjulang karena ketaatan.

jika tidak, lebih baik menjadi seperti rumput.yang tumbuh selalu dengan ketaatan, meski hidupnya untuk di pijak-pijak orang.

#berawal dari catatan FB, 12 Maret 2013

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA