Rasulullah
Shallahu’alaihiwassalam dan Ayah ku..
Itulah
dua makhluk Allah SWT yang ku letakkan dideretan teratas yang menjadi
taudaladan ku..
Rasulullah..
meskipun tak sejedapun Aku menatap wajahnya, melihat indah senyumnya,
menyaksikan tindak tanduk kehidupannya, tetapi aku percaya dengan sepenuh hati
ku dengan apa yang di bawanya, Aku percaya, Ialah sesosok makhluk yang di utus oleh Allah SWT untuk kesejahteraan
seluruh umat manusia dan seiisi jagat raya ini. Aku percaya, dengan Ayat-ayat
Allah SWT yang telah dibawanya. Aku percaya bahwa Rasulullah mencintai umatnya
melebihi cinta seorang kepada dirinya sendiri, Aku percaya bahwa Rasulullah
mengkhawatirkan umatnya melebihi khawatir seorang Ibu akan keselamatan anaknya,
Aku percaya Rasulullah tengah merindukan umatnya, melebihi rindu seorang Ibu
akan anaknya yang tak akan pernah kembali. Aku percaya. Mungkin, tak cukup
lembar untuk mengungkapkan segala pesonanya,
indahnya, senyumnya, dan semua tentangnya, karena semua yang ada padanya begitu
istimewa dan mulia.
(Allahummashali’ala
Muhammad wa’ala alihi Muhammad)
Di
ruang lain, ada sesosok lagi yang telah Aku sematkan dalam urutan pendek
nama-nama yang menjadi tauladanku, yang
ku letakkan di deretan kedua setelah Rasul ku..
Ayah..
yah Ayahku..
Belialah
wujud nyata tauladan baik yang pernah ku saksikan, meski ayah bukanlah seorang
ulama tetapi kebaikannya selalu terpancar dari setiap tindak tanduk kehidupannya.
Ayah,
sesosok makhluk Allah SWT yang begitu penuh kasih sayang, yang jauh dari marah
dan benci, yang jauh dari caki dan maki. Bekerja keras menjemput rezeki demi
sentum yang dicintai, tak pernah mengeluh, tak pernah mengaduh. Tak pernah ku
lihat sedih, gundah gulana singgah diwajahnya, meski hidup sangatlah sulit,
tetapi tawa, canda, tawa dan kebahagiaan selalu mewarnai hari-hari.
Ayah,
beliaulah yang mengajarkan kepadaku sopan itu apa, yang menunjukkan kepada ku
santun itu bagaimana, yang mendidikku untuk selalu menghargai orang lain, yang
mengajarkan kepadaku silaturahmi untuk apa, menjaga hati bagaimana, hidup
sederhana, bersyukur jika ada, tidak mengeluh jika tidak ada.
Yah
ialah Ia, Ayahku..
Sesosok
pria hebat sepanjang masa, meskipun dunia tak akan pernah mengenangnya, tetapi
aku, sepanjang hidupku akan selalu mengenangnya. Yah selalu.
(*Ayah..
ananda rindu padamu, sangat rindu, terlalu rindu, hanya untaian doa yang bisa
ku sampaikan kepada Allah SWT, sebagai ekspresi hatiku, bahwa Aku rindu. Ayah,
semoga kita bersua di Syurga. Aamiin ya Robbal’alamin.
0 komentar:
Posting Komentar