Senin, 15 Juli 2013 - 0 komentar

Dua Makhluk ALLAH nan ISTIMEWA


Rasulullah Shallahu’alaihiwassalam dan Ayah ku..

Itulah dua makhluk Allah SWT yang ku letakkan dideretan teratas yang menjadi taudaladan ku..

Rasulullah.. meskipun tak sejedapun Aku menatap wajahnya, melihat indah senyumnya, menyaksikan tindak tanduk kehidupannya, tetapi aku percaya dengan sepenuh hati ku dengan apa yang di bawanya, Aku percaya, Ialah sesosok makhluk  yang di utus oleh Allah SWT untuk kesejahteraan seluruh umat manusia dan seiisi jagat raya ini. Aku percaya, dengan Ayat-ayat Allah SWT yang telah dibawanya. Aku percaya bahwa Rasulullah mencintai umatnya melebihi cinta seorang kepada dirinya sendiri, Aku percaya bahwa Rasulullah mengkhawatirkan umatnya melebihi khawatir seorang Ibu akan keselamatan anaknya, Aku percaya Rasulullah tengah merindukan umatnya, melebihi rindu seorang Ibu akan anaknya yang tak akan pernah kembali. Aku percaya. Mungkin, tak cukup lembar untuk mengungkapkan segala  pesonanya, indahnya, senyumnya, dan semua tentangnya, karena semua yang ada padanya begitu istimewa dan mulia.
(Allahummashali’ala Muhammad wa’ala alihi Muhammad)

Di ruang lain, ada sesosok lagi yang telah Aku sematkan dalam urutan pendek nama-nama yang menjadi tauladanku,  yang ku letakkan di deretan kedua setelah Rasul ku..

Ayah.. yah Ayahku..
Belialah wujud nyata tauladan baik yang pernah ku saksikan, meski ayah bukanlah seorang ulama tetapi kebaikannya selalu terpancar dari setiap tindak tanduk kehidupannya.

Ayah, sesosok makhluk Allah SWT yang begitu penuh kasih sayang, yang jauh dari marah dan benci, yang jauh dari caki dan maki. Bekerja keras menjemput rezeki demi sentum yang dicintai, tak pernah mengeluh, tak pernah mengaduh. Tak pernah ku lihat sedih, gundah gulana singgah diwajahnya, meski hidup sangatlah sulit, tetapi tawa, canda, tawa dan kebahagiaan selalu mewarnai hari-hari.

Ayah, beliaulah yang mengajarkan kepadaku sopan itu apa, yang menunjukkan kepada ku santun itu bagaimana, yang mendidikku untuk selalu menghargai orang lain, yang mengajarkan kepadaku silaturahmi untuk apa, menjaga hati bagaimana, hidup sederhana, bersyukur jika ada, tidak mengeluh jika tidak ada.

Yah ialah Ia, Ayahku..

Sesosok pria hebat sepanjang masa, meskipun dunia tak akan pernah mengenangnya, tetapi aku, sepanjang hidupku akan selalu mengenangnya. Yah selalu.

(*Ayah.. ananda rindu padamu, sangat rindu, terlalu rindu, hanya untaian doa yang bisa ku sampaikan kepada Allah SWT, sebagai ekspresi hatiku, bahwa Aku rindu. Ayah, semoga kita bersua di Syurga. Aamiin ya Robbal’alamin.

0 komentar:

Posting Komentar

SEJARAH HANYA DITULIS DENGAN NUANSA DUA WARNA, HITAM TINTA PARA ULAMA, DAN MERAH DARAH PARA SYUHADA